Pancasila sebagai Jati Diri dan Pedoman dalam Kehidupan Sehari-hari

- Redaksi

Sabtu, 22 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nama : Repi Saputri

NIM    : PO7133226043

Prodi  : D3 Pengawasan Epidemiologi

 

Pancasila sebagai Jati Diri dan Pedoman dalam Kehidupan Sehari-hari

 

Sebagai anak bangsa Indonesia yang lahir dan tumbuh besar di tanah yang kaya akan keberagaman, Pancasila bukan sekadar lima kalimat tertulis di lambang negara atau hafalan yang diucapkan setiap upacara bendera. Bagi saya, Pancasila adalah jati diri, cermin kepribadian, dan panduan yang mengarahkan setiap langkah dan keputusan yang saya ambil dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, menjadi fondasi utama hidup saya. Saya tumbuh dalam keluarga yang mengajarkan untuk senantiasa memuliakan Tuhan, menjalankan ajaran agama, dan menghormati keyakinan orang lain. Di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal, saya berteman dengan mereka yang berbeda agama, dan saya belajar bahwa perbedaan cara beribadah tidaklah menjadikan kita saling asing. Justru keyakinan kepada Tuhan yang sama membuat kita saling menghargai, tidak memaksakan kehendak, dan senantiasa berbuat baik sesama makhluk. Hal ini mengajarkan saya bahwa iman bukan hanya urusan pribadi, melainkan juga landasan untuk hidup rukun dan damai.

 

Sila kedua, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, membentuk karakter saya untuk senantiasa menghargai harkat dan martabat setiap orang. Saya belajar untuk tidak membeda-bedakan seseorang dari suku, agama, status sosial, maupun penampilan fisik. Ketika melihat teman yang kesulitan, saya berusaha menolongnya tanpa pamrih; ketika ada yang berselisih, saya berusaha menjadi penengah yang adil. Saya sadar bahwa menjadi manusia beradab berarti tidak bertindak semena-mena, menghormati perasaan orang lain, dan selalu berpegang pada kejujuran serta kebenaran.

 

Sila ketiga, “Persatuan Indonesia”, mengajarkan saya untuk mencintai tanah air dan menjaga keutuhan bangsa. Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan ratusan suku bangsa, namun semuanya terikat dalam satu nama: Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, saya mewujudkannya dengan mencintai budaya daerah lain, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, dan menjauhi segala sikap yang memicu perpecahan. Bagi saya, persatuan bukanlah sekadar slogan, melainkan tanggung jawab setiap warga negara untuk menjaga agar keragaman ini tetap menjadi kekuatan, bukan kelemahan.

 

Sila keempat, “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan”, melatih saya untuk bersikap terbuka terhadap pendapat orang lain dan mengutamakan musyawarah. Saya belajar bahwa keputusan yang baik tidak lahir dari pemaksaan kehendak satu pihak saja, melainkan dari diskusi yang sopan, mendengarkan saran orang lain, dan mencari jalan tengah yang menguntungkan semua pihak. Sikap ini membuat saya menjadi pribadi yang tidak egois dan mampu bekerja sama dalam tim.

 

Terakhir, sila kelima, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, mengajarkan saya untuk hidup sederhana, tidak boros, dan peduli pada kesejahteraan bersama. Saya berusaha untuk tidak bersikap boros, berbagi dengan mereka yang membutuhkan, dan menghormati hak orang lain. Saya sadar bahwa kemajuan yang saya raih sebaiknya juga membawa manfaat bagi orang lain, agar tercipta kehidupan yang adil dan makmur bagi seluruh rakyat.

 

Pada akhirnya, Pancasila adalah bagian dari diri saya. Ia membentuk cara saya berpikir, bersikap, dan bertindak. Menjalankan nilai-nilai Pancasila bukanlah beban, melainkan cara saya mencintai bangsa dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat. Saya berjanji akan senantiasa menjaga dan mengamalkannya, agar saya dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya berguna bagi diri sendiri, tetapi juga bagi nusa dan bangsa.

Berita Terkait

Pertamina Patra Niaga Pastikan Avtur Siaga, Dukung Operasi Udara Pemadaman Karhutla di Sumsel
Tidak Taat Aturan Walikota Palembang, Kepsek SMP N 19 Palembang Tetap Menekan Siswa Masuk Sekolah Hari ini
Kabut Asap Makin Pekat, Sekolah TK hingga SMP di Palembang Beralih ke PJJ
Hilang Kendali, Mobil Avanza Dikendarai Oleh Dokter Muda Ini Nyemplung 
Wujudkan Zona Zero Asap, Polsek Buay Madang Timur Gencarkan Patroli Mitigasi Karhutla
Musim Kemarau Picu Debu, Polsek Buay Madang Timur Bagikan Ratusan Masker Gratis di SD N 1 Tekorejo
Samsat Menyapa Hadir di Seluruh Kab/Kota Sumsel, Dorong Tertib Administrasi Kendaraan dan Keselamatan Berkendara
Antrean Biosolar Sumsel Memanjang, Distribusi FAME Jadi Sorotan

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 09:17 WIB

Pertamina Patra Niaga Pastikan Avtur Siaga, Dukung Operasi Udara Pemadaman Karhutla di Sumsel

Rabu, 9 September 2026 - 09:16 WIB

Tidak Taat Aturan Walikota Palembang, Kepsek SMP N 19 Palembang Tetap Menekan Siswa Masuk Sekolah Hari ini

Selasa, 8 September 2026 - 21:16 WIB

Kabut Asap Makin Pekat, Sekolah TK hingga SMP di Palembang Beralih ke PJJ

Selasa, 8 September 2026 - 21:11 WIB

Hilang Kendali, Mobil Avanza Dikendarai Oleh Dokter Muda Ini Nyemplung 

Selasa, 8 September 2026 - 19:59 WIB

Wujudkan Zona Zero Asap, Polsek Buay Madang Timur Gencarkan Patroli Mitigasi Karhutla

Berita Terbaru