Nama: Rasyah Amelia
Prodi : D3 Gizi
Pancasila di Kehidupan Sehari-hari sebagai Mahasiswa Gizi
Saat mendengar kata “Pancasila”, sebagian dari kita mungkin teringat pada pelajaran di sekolah atau kampus, maupun upacara bendera setiap Senin. Namun, ketika mendengar “Ilmu Gizi”, yang terbayang mungkin adalah tabel nutrisi, kalori, atau pola makan sehat. Sekilas, kedua hal tersebut terlihat berbeda.
Halo semuanya, perkenalkan nama saya Rasyah Amelia, mahasiswa baru Program Studi D3 Gizi di Poltekkes Kemenkes Palembang. Sebagai mahasiswa, saya menyadari bahwa Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga pedoman yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila menjadi landasan bagi saya dalam belajar, berinteraksi, serta mempersiapkan diri menjadi tenaga kesehatan yang profesional dan bermanfaat bagi masyarakat.
Jika digali lebih dalam, ilmu gizi dan Pancasila sebenarnya memiliki hubungan yang erat. Mahasiswa gizi tidak hanya dituntut untuk memiliki pengetahuan yang baik, tetapi juga harus memiliki hati, etika, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Di sinilah Pancasila hadir sebagai pedoman, bukan hanya bagi mahasiswa gizi, tetapi bagi seluruh masyarakat.
Lalu, bagaimana mahasiswa gizi dapat mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari?
Ketuhanan Yang Maha Esa
Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sila pertama Pancasila. Sila ini mengajarkan setiap orang untuk menjalankan kehidupan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
Sebagai seorang Muslim, saya menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama Islam. Sila pertama juga mengajarkan bahwa kesehatan dan ilmu pengetahuan merupakan anugerah dari Tuhan. Sebagai mahasiswa gizi, membantu orang lain dalam memenuhi kebutuhan gizi dengan baik merupakan salah satu bentuk rasa syukur sekaligus upaya memberikan manfaat kepada sesama.
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Sebagai calon ahli gizi, saya akan bertemu dengan berbagai macam orang yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Sila kedua mengingatkan kita untuk memiliki rasa empati dan tidak membeda-bedakan seseorang berdasarkan suku, ras, agama, maupun kondisi sosial.
Setiap orang berhak mendapatkan perlakuan yang adil. Sebagai mahasiswa gizi, saya ingin membentuk pribadi yang lebih baik, peduli, memiliki empati, berperilaku adil, serta siap membantu masyarakat dalam meningkatkan kualitas kesehatan mereka.
Masyarakat juga berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan gizi yang adil tanpa membedakan antara orang kaya maupun kurang mampu.
Persatuan Indonesia
Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman dan kearifan lokal dari berbagai daerah. Di lingkungan kampus, khususnya Poltekkes Kemenkes Palembang, saya bertemu dengan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah.
Dalam kehidupan sehari-hari, saya berusaha menjaga hubungan baik dengan teman-teman meskipun memiliki perbedaan latar belakang. Bagi saya, keberagaman merupakan kekuatan bangsa yang harus dijaga dengan mengutamakan kepentingan bersama.
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Sila keempat merupakan salah satu nilai Pancasila yang sering kita temui dalam kehidupan bermasyarakat maupun di lingkungan perkuliahan.
Contohnya adalah kegiatan kerja kelompok dan organisasi. Dalam masyarakat, penerapannya dapat berupa gotong royong, mengikuti musyawarah, serta berpartisipasi dalam pemilu.
Ketika berdiskusi dalam kelompok, saya berusaha menyampaikan pendapat sekaligus mendengarkan pendapat orang lain. Kita tidak boleh bersikap semaunya sendiri. Setiap anggota kelompok harus mampu menerima masukan dan menghargai hasil diskusi yang telah disepakati bersama.
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sila terakhir mengajarkan kita untuk bersikap adil terhadap sesama. Sebagai mahasiswa gizi, saya menyadari bahwa masalah gizi di Indonesia masih menjadi perhatian, salah satunya stunting.
Stunting dapat berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk pola makan yang tidak sehat, kurangnya edukasi kesehatan, serta kondisi ekonomi dan lingkungan. Oleh karena itu, kita tidak boleh membeda-bedakan seseorang berdasarkan latar belakang maupun kondisi ekonominya.
Sebagai mahasiswa gizi, saya memiliki tekad untuk dapat memberikan edukasi mengenai gizi dan kesehatan serta membantu masyarakat di daerah yang membutuhkan. Dengan begitu, saya berharap dapat ikut berkontribusi agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh sehat dan memperoleh kesempatan yang lebih baik.
Kesimpulan
Sebagai mahasiswa, saya berusaha untuk terus mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga pedoman hidup bangsa.
Oleh karena itu, penerapan nilai-nilai Pancasila dapat dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan keluarga, kampus, maupun masyarakat. Sebagai mahasiswa gizi, saya ingin menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman untuk belajar, berperilaku, dan memberikan manfaat bagi sesama.









