oleh

Vaksin Terbukti Lawan Gejala Parah Covid-19 di AS

SUARAPUBLIK.ID, AS – Vaksin merupakan hal penting setidaknya dalam melawan gejala parah corona (Covid-19). Data baru Amerika Serikat (AS) juga menunjukkan hal ini.

Dalam pernyataan terbarunya, Gedung Putih menyebut, sebagian besar rawat inap dan kematian menyerang mereka yang belum pernah disuntik vaksin Corona.

“Hampir semua rawat inap dan kematian sekarang terjadi di antara individu yang tidak divaksin,” tegas Koordinator Tanggapan Coronavirus Gedung Putih Jeff Zients pada konferensi pers, dikutip CNCB International, Jumat (9/7/2021).

AS sendiri merupakan salah satu negara dengan angka vaksinasi tertinggi di dunia. Tercatat hampir 158 juta warga AS telah divaksinasi sepenuhnya. Hal ini membuat beberapa pembatasan yang berlaku di negara itu mulai dilonggarkan. Aktivitas masyarakat mulai pulih kembali.

Meski begitu, negeri 328 juta penduduk itu dilaporkan masih melaporkan kasus-kasus rawat inap dan gejala parah dari hasil infeksi Covid-19. AS masih mengantisipasi tambahan kasus-kasus corona mengingat masih adanya kelompok yang belum divaksin dan penyebaran varian Delta.

Hal senada juga dikatakan Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Rochelle Walensky. Di negara bagian Midwest dan negara bagian pegunungan atas AS, kasus varian Delta mendominasi karena angka vaksinasi yang lebih rendah.

“Kenaikan pesat ini meresahkan. Kami tahu bahwa varian delta telah meningkatkan penularan dan saat ini melonjak di kantong negara dengan tingkat vaksinasi yang rendah,” kata Walensky.

Walensky menegaskan bahwa vaksin Covid yang saat ini digunakan terbukti berhasil mencegah penyakit parah, rawat inap, dan kematian akibat varian Delta. AS sendiri menggunakan vaksin Pfizer, Moderna dan Johnson & Johnson.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa hingga saat ini virus corona masih lebih unggul dari program vaksinasi dunia. Pasalnya distribusi vaksin serta obat-obatan Covid di seluruh dunia masih belum merata dan menjangkau seluruh masyarakat.
Hal ini diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers, Rabu (7/7/2021).

Ia menyerukan kembali negara-negara di dunia, terutama negara ekonomi utama G20, untuk lebih aktif lagi dalam membantu menjangkau negara-negara tak berakses menjangkau vaksin.

Lebih lanjut, ia juga menyebut kondisi ini diperparah dengan penyebaran varian Delta yang lebih masif dan berbahaya. Bahkan dikatakannya varian yang pertama terdeteksi di India itu “menang perang”.

“Varian saat ini memenangkan perlombaan melawan vaksin karena produksi dan distribusi vaksin yang tidak merata,” tegas pria asal Ethiopia itu, dikutip dari website resmi WHO.

“Saya menyerukan kepada para Menteri Keuangan G20 dan para pemimpin lainnya untuk mendukung target ini secara kolektif karena ini adalah cara tercepat untuk mengakhiri tahap akut pandemi, menyelamatkan nyawa dan mata pencaharian, dan mendorong pemulihan ekonomi global yang sesungguhnya.” (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed