Nama: Anggun Haliza Permata Sari
NIM : PO7133126088
Prodi : D3 Sanitasi
Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-Hari
Pancasila sering kali kita kenal sebagai ideologi negara, dasar negara Indonesia, atau sekadar lima sila yang diucapkan dalam upacara bendera setiap hari Senin. Namun, makna asli Pancasila sejatinya tidak terletak pada keindahan teksnya saja, melainkan pada bagaimana cara kita menghidupkan nilai-nilainya dan mencerminkan dalam tindakan nyata kita sehari-hari. Sebagai seorang individu dan warga negara, saya menyadari bahwa Pancasila bukanlah dokumen saja atau sekadar landasan negara Indonesia, tetapi melainkan arah moral yang membimbing setiap keputusan dan interaksi sosial saya. Sebelum membahas penerapan Pancasila kita harus tahu arti dari Pancasila tersebut. Pancasila berasal dari Bahasa Sanskerta, Panca yang artinya lima dan Sila yang berarti prinsip atau dasar. Pancasila terdiri dari lima sila yang menjadi pedoman hidup berbangsa dan bernegara.
Penerapan Pancasila dalam kehidupan saya dimulai dari sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini dapat diwujudkan melalui rasa syukur atas kebebasan menjalankan ibadah sesuai keyakinan tanpa rasa takut. Contohnya saya beragama Islam setiap hari melaksanakan sholat lima waktu dan tidak lupa bersyukur atas apa nikmat yang diberikan Allah SWT. Menghidupkan sila pertama ini mengajarkan saya untuk menghormati sesama teman maupun tetangga yang memiliki keyakinan berbeda dengan kita. Toleransi beragama bukan sekadar membiarkan orang lain beribadah, melainkan turut menjaga kenyamanan dan keharmonisan di lingkungan masyarakat dan sekitarnya. Jika hal tersebut tidak dijalankan, maka akan timbul prasangka buruk dan berpotensi memicu terjadinya konflik sosial serta merusak bangsa karena tidak adanya ketuhanan di diri masing-masing.
Berlanjut pada sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab. Dalam setiap hari, sila ini hadir di kehidupan sehari-hari seperti saya berusaha memperlakukan sama rata setiap orang tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, maupun suku dan sebagainya. Sikap empati seperti membantu teman membawa barang yang sedikit banyak. Namun, jika nilai ini diabaikan dalam interaksi kita sehari-hari, dampaknya kecemburuan sosial akibat perlakuan yang dibeda-bedakan dan krisis empati yang membuat seseorang tidak peduli.
Di tengah keragaman kita, sila ketiga Persatuan Indonesia menjadi pemersatu kita yang berbeda. Saya berusaha menjaga persatuan ini dengan cara mengutamakan semangat gotong royong dan kerja sama. Seperti saat terlibat dalam kegiatan kerja bakti setiap hari Jumat setelah senam, maupun kerja sama dalam tim yang memiliki latar belakang berbeda. Saya belajar untuk menurunkan ego pribadi demi kepentingan bersama. Jika hal tersebut tidak dilakukan maka akan menimbulkan konflik sehingga terjadi perpecahan antar kelompok maupun individu.
Dalam memecahkan masalah atau mengambil keputusan kelompok, sila keempat selalu menjadi acuan, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Saya pribadi senantiasa mengutamakan musyawarat untuk mencapai mufakat. Ketika ada perbedaan pendapat, sikap saya mendengarkan sepenuh hati dan menghargai pandangan orang lain daripada memaksa kehendak sendiri.
Terakhir sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mewujudkan kesadaran untuk bertindak adil dan tidak merugikan hak orang lain. Mematuhi aturan, tertib, menjalankan kewajiban kita sebagai mahasiswa dan memanfaatkan hak kita dengan baik. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari adalah memberi kesempatan kepada semua teman tanpa membeda-bedakan.
Secara keseluruhan, mengamalkan Pancasila tidak harus selalu menunggu momen-momen besar atau peristiwa politik. Pancasila dihidupi dari hal-hal kecil dari cara kita bertutur kata dan bersikap kepada sesama. Dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam aktivitas sehari-hari, saya tidak hanya menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi juga ikut membangun dan merawat pondasi untuk bangsa Indonesia agar tetap kokoh.











