Nama: Celsia Okta Safitri
NIM : PO7133126091
Prodi : D3 Sanitasi
Pancasila dalam Langkah Kecilku
Halo, nama saya Celsia Okta Safitri, mahasiswa baru Program Studi D3 Sanitasi. Saya percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal-hal kecil. Meskipun pencapaian saya belum luar biasa, saya yakin setiap kebaikan yang dilakukan dengan niat tulus akan membawa manfaat. Bagi saya, Pancasila bukan hanya dasar negara di atas kertas, tetapi nilai hidup yang membingbing sikap dan karakter saya setiap hari.
Sila pertama mengajarkan saya untuk menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan. Sebelum kuliah, menghadapi ujian, maupun mengambil keputusan penting, saya selalu berdoa. Saya belajar bahwa hasil usaha harus diiringi dengan doa dan rasa syukur. Dari sini saya paham bahwa keberhasilan bukan hanya karena kerja keras, tetapi juga karena ridho-Nya.
Maknanya, “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang artinya hidup kita berpusat pada Tuhan. Jadi sebelum melakukan kegiatan apa pun kita harus ingat adanya Tuhan, seperti berdoa sebelum kuliah, ujian, atau mengambil keputusan. Itu bentuk kita meminta pertolongan dan ketenangan.
Sila kedua membentuk cara saya memperlakukan orang lain. “Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradap” bagi saya artinya menghargai semua orang tanpa melihat latar belakang, suku, agama, maupun kondisi ekonomi. Setiap orang punya cerita dan perjuangan masing-masing. Karena itu saya berusaha ramah, membantu teman yang kesulitan, dan menghindari perkataan atau tindakan yang bisa menyakiti orang lain.
Maknaya, “Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradap” yang berarti semua orang punya kedudukan yang sama di mata kita. Tidak boleh membeda-bedakan karena beda suku, agama, atau kaya/miskin. Kita harus memahami bahwa orang lain juga punya masalah. Intinya sila kedua mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang beradap, sopan, peduli, dan adil dan sesama.
Sila ketiga mengingatkan saya tentang pentingnya persatuan. Saat ikut kegiatan kampus dan organisasi, saya belajar menerima perbedaan pendapat. Saya belajar bekerja sama dalam satu tim, saling menghargai, dan mengutamakan tujuan bersama di atas kepentingan pribadi. Perbedaan bukan untuk dihindari, tapi untuk dipersatukan.
Maknanya, belajar hidup rukun, kompak, dan toleransi. Dengan menerima perbedaan dan mengutamakan persatuan, maka tujuan bersama akan lebih mudah tercapai.
Sila keempat mengajarkan saya arti musyawarah. Dalam mengambil keputusan kelompok, saya berusaha mendengarkan pendapat semua orang dengan terbuka. Saya juga belajar menerima hasil keputusan bersama dengan lapang dada, karena keputusan terbaik adalah yang membawa kebaikan untuk semua.
Maknanya, belajar demokrasi kecil-kecilan di lingkup kelompok. Kuncinya yaitu musyawarah, menghargai suara orang lain, dan menerima keputusan bersama demi kepentingan bersama.
Sila kelima saya wujudkan lewat sikap jujur, disiplin, dan tanggung jawab. Sebagai mahasiswa saya ingin mengamalkan keadilan sosial dengan cara, menjaga kebersihan lingkungan, menghargai hak orang lain, dan bekerja sungguh-sungguh. Melalui tindakan sederhana ini saya bisa memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Maknanya, keadilan itu diwujudkan dengan tindakan nyata. Dari hal sederhana seperti jujur, disiplin, jaga kebersihan, sampai bekerja dengan tujuan mensejahterakan orang banyak.
Pancasila itu bagi saya adalah Kompas. Lima nilainya menuntun saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dimulai dari diri sendiri, lalu lingkungan sekitar.











