Pancasila dari Nilai Menjadi Tindakan 

- Redaksi

Rabu, 19 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nama : Amiliyah Desta Miranda

NIM   : PO7124226012

Prodi : D4 Kebidanan

 

Pancasila dari Nilai Menjadi Tindakan

 

Sejak duduk di bangku sekolah dasar saya telah mengenal Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Saat itu, pemahaman saya hanya sebatas menghafalkan lima sila dan mengucapkannya ketika mengikuti upacara bendera di sekolah. Tapi sekarang bagi saya, Pancasila bukan sekedar dasar atau simbol negara dan juga bukan hanya sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia.

Semakin saya bertumbuh dan mengembangkan pengalaman memasuki dunia pendidikan yang makin serius saya menyadari bahwa Pancasila adalah pedoman yang membentuk cara saya berpikir, bersikap, dan berinteraksi dengan orang lain.

Di tengah perkembangan teknologi, arus globalisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat yang begitu cepat, saya melihat bahwa tantangan terbesar bukanlah menghafal atau memahami isi ke lima sila Pancasila, melainkan bagaimana mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Saya percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil dan sederhana yang dilakukan secara konsisten dan harus dilakukan dengan kesadaran penuh sebagai bentuk nyata Pancasila hadir dalam kehidupan kita sehari-hari.

 

Sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, saya terapkan dengan berusaha menjaga hubungan yang baik dengan Allah Swt melalui ibadah sholat lima kali dalam sehari dan tadarus al-qur’an setiap malam jum’at. Namun, bagi saya makna sila pertama tidak berhenti pada hubungan antara manusia dengan Tuhannya saja, tetapi juga tercermin dalam sikap terhadap sesama manusia. Dari berbagai sumber saya paham bahwa setiap agama mengajarkan nilai-nilai kebaikannya sendiri, seperti kejujuran, kasih sayang, dan saling menghormati dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Oleh karena itu, saya selalu berusaha menghargai teman-teman yang memiliki keyakinan berbeda, tidak memaksakan pendapat orang lain mengenai agama. Ketika berada di lingkungan kampus, saya menyadari bahwa keberagaman merupakan sesuatu yang harus disyukuri, bukan diperdebatkan. Sikap toleransi yang saya lakukan mungkin terlihat sangatlah sederhana, tetapi saya percaya bahwa kebiasaan kecil tersebut merupakan bentuk nyata pengamalan sila pertama.

 

Selanjutnya adalah penerapan sila kedua yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, sila ini berkaitan dengan cara saya memperlakukan orang-orang dalam kehidupan sehari-hari. Saya percaya bahwa setiap orang berhak dihargai dan diperlakukan dengan baik tanpa memandang suku, agama, latar belakang ekonomi, maupun kemampuan yang dimilikinya. Oleh karena itu, sebagai bentuk penerapannya saya selalu berusaha bersikap sopan, menghargai pendapat teman saat berdiskusi, serta membantu ketika ada teman atau orang di sekitar saya yang membutuhkan pertolongan.

Menurut saya, kepedulian tidak harus diwujudkan melalui tindakan yang besar, tetapi bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjadi pendengar yang baik, mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan menghargai perbedaan pendapat. Selain itu, di era teknologi sekarang saya juga berusaha menggunakan teknologi dengan bijak, tidak mudah memberikan komentar yang dapat menyakiti orang lain, serta tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, saya memahami bahwa semua sikap itu merupakan wujud nyata dari penerapan sila kedua Pancasila. Karena itu, saya terus berusaha membiasakan nilai-nilai tersebut agar menjadi bagian dari karakter saya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kampus, keluarga, maupun masyarakat.

Dalam kehidupan sehari hari saya juga berusaha mengamalkan sila ketiga, Persatuan Indonesia, melalui sikap menghargai keberagaman yang saya temui setiap hari. Di lingkungan kampus, saya bertemu dengan teman-teman yang berasal dari berbagai daerah dengan bahasa, budaya, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda. Pada awalnya, saya menyadari bahwa perbedaan tersebut terkadang dapat menimbulkan kesalahpahaman. Namun, seiring berjalannya waktu, saya belajar bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk menjalin persahabatan dan bekerja sama. Ketika mengerjakan tugas kelompok, saya berusaha mendengarkan pendapat setiap anggota tanpa memandang asal daerah atau latar belakang mereka. Saya juga belajar menyesuaikan diri dengan berbagai karakter teman agar tercipta suasana yang nyaman dan saling menghargai. Bagi saya, persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan, tetapi mampu menerima dan menjadikannya sebagai kekuatan untuk mencapai tujuan bersama. Bagi saya nilai persatuan dapat diwujudkan melalui sikap saling menghormati, gotong royong, dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Oleh karena itu, saya ingin terus membiasakan diri menjaga persatuan, baik di lingkungan kampus maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Kemudian sila ke empat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, melalui kebiasaan bermusyawarah ketika mengambil keputusan bersama. Saat SMA dan menjadi mahasiswa, saya sering terlibat dalam diskusi kelompok, menjadi ketua organisasi Pramuka, maupun rapat kelas yang mengharuskan setiap anggota menyampaikan pendapatnya. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa musyawarah bukan sekadar menyampaikan apa yang saya pikirkan, tetapi juga mendengarkan pendapat orang lain dengan pikiran yang terbuka. Ada kalanya usulan saya diterima, tetapi tidak jarang juga ditolak karena dianggap kurang sesuai. Pada situasi seperti itu, saya belajar menerima keputusan bersama dengan lapang dada dan tetap mendukung hasil yang telah disepakati. Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa kedewasaan bukan diukur dari seberapa sering pendapat saya diterima, melainkan dari kemampuan menghargai keputusan yang dihasilkan melalui musyawarah.

 

Dan yang terakhir adalah penerapan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, saya maknai sebagai tanggung jawab untuk bersikap adil dalam setiap aspek kehidupan. Saya menyadari bahwa keadilan tidak selalu diwujudkan melalui tindakan besar, tetapi justru dimulai dari kebiasaan sederhana yang sering kali diabaikan. Dalam mengerjakan tugas kelompok, saya berusaha menyelesaikan bagian pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya tanpa membebankan kepada teman lain. Saya juga berusaha menghargai hasil kerja setiap anggota dan tidak membeda-bedakan teman berdasarkan prestasi akademik, kondisi ekonomi, ataupun latar belakang keluarganya. Selain itu, saya membiasakan diri menjaga kebersihan lingkungan kampus, menggunakan fasilitas umum dengan baik, serta tidak mengambil hak orang lain. Saya percaya bahwa setiap tindakan kecil yang mencerminkan kejujuran dan tanggung jawab merupakan bagian dari penerapan nilai keadilan sosial.

 

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa mengamalkan nilai-nilai Pancasila bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan hanya pada saat-saat tertentu, melainkan harus menjadi kebiasaan yang terus dilatih setiap hari. Saya mungkin belum menjadi pribadi yang sempurna, tetapi saya ingin terus belajar menjadi warga negara yang mampu menerapkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan dalam setiap langkah kehidupan.

 

Saya percaya bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari tindakan luar biasa, melainkan dari kesadaran setiap individu untuk melakukan hal-hal kecil dengan penuh tanggung jawab dan konsisten. Ketika saya memilih bersikap jujur, menghormati perbedaan, membantu sesama, menjaga persatuan, dan berlaku adil, pada saat itulah saya sedang menghidupkan Pancasila dalam kehidupan nyata. Saya berharap nilai-nilai tersebut akan terus saya pegang, tidak hanya selama menjadi mahasiswa, tetapi juga ketika kelak mengabdikan diri sebagai seorang bidan.

Berita Terkait

Saya dan Pancasila
Nilai-nilai Penerapan Pancasila dalam  Kehidupan Sehari-hari
Mengamalkan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari Mahasiswa Kesehatan
Penerapan Pancasila dalam Kehidupan Sehari- hari
Pancasila Sebagai Pedoman Hidup
Pancasila dalam Setiap Langkah Kehidupan 
Pancasila Teman Sehari-hari Saya
Dugaan Penganiayaan di Tempat Rehabilitasi, Keluarga Yul Rizal Lapor Polda Sumsel

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:28 WIB

Saya dan Pancasila

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:23 WIB

Pancasila dari Nilai Menjadi Tindakan 

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:16 WIB

Nilai-nilai Penerapan Pancasila dalam  Kehidupan Sehari-hari

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:08 WIB

Mengamalkan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari Mahasiswa Kesehatan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:02 WIB

Penerapan Pancasila dalam Kehidupan Sehari- hari

Berita Terbaru

Sumsel

Saya dan Pancasila

Rabu, 19 Agu 2026 - 22:28 WIB

Sumsel

Pancasila dari Nilai Menjadi Tindakan 

Rabu, 19 Agu 2026 - 22:23 WIB

Sumsel

Penerapan Pancasila dalam Kehidupan Sehari- hari

Rabu, 19 Agu 2026 - 22:02 WIB