Nama : Ahmad Rasyid
Nim : PO7131226083
Prodi : D4 (A) Gizi dan Dietetika
Pancasila Dalam Langkah Kecilku
Jujur saja, dulu saya sering kali menganggap Pancasila hanya sebatas materi hafalan yang wajib dipelajari di sekolah atau kampus. Di mata saya waktu itu, Pancasila terasa seperti deretan konsep yang sangat formal, kaku, dan lebih relevan untuk dibahas oleh para pejabat, politisi, atau tokoh publik dalam pidato-pidato kenegaraan.
Namun, seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia, dan makin banyaknya dinamika interaksi sosial yang saya lewati setiap hari, cara pandang saya mulai berubah total. Saya baru benar-benar menyadari bahwa Pancasila sebenarnya tidak pernah jauh dari kita. Tanpa perlu melakukan tindakan yang heroik, spektakuler, atau muluk-muluk, ternyata banyak sekali keputusan kecil, kebiasaan sederhana, dan cara kita memperlakukan sesama yang tanpa disadari sudah menjadi bentuk nyata dari pengamalan nilai-nilai Pancasila.
Pada sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, contoh penerapannya sangat terasa dalam kehidupan sosial saya sehari-hari, terutama ketika berada di lingkungan yang beraneka ragam. Saya memiliki beberapa teman dekat yang memeluk agama dan keyakinan yang berbeda dengan saya. Momen toleransi ini paling berkesan ketika memasuki bulan suci Ramadan atau hari-hari besar keagamaan tertentu. Saat teman-teman saya yang muslim sedang menjalankan ibadah puasa, saya berusaha untuk lebih peka, tahu diri, dan menjaga tenggang rasa. Saya sebisa mungkin menahan diri untuk tidak makan, minum, atau menawarkan makanan secara terang-terangan di hadapan mereka yang sedang beribadah.
Sebaliknya, ketika hari besar keagamaan saya tiba, mereka pun menunjukkan rasa hormat yang sama. Buat saya, hal-hal sepele seperti menjaga sikap, tidak memaksakan kehendak, dan memberi ruang ibadah yang nyaman adalah bentuk rasa hormat yang sangat tulus. Kita tidak perlu berdebat mengenai dogma atau keyakinan masing-masing; cukup dengan saling menghargai, pertemanan kami pun bisa bertahan lama, hangat, dan selalu diwarnai rasa saling percaya.
Pada sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, penerapannya lebih banyak mengajarkan saya tentang pentingnya menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap sesama manusia tanpa memandang status sosial. Saya teringat sebuah momen sederhana beberapa waktu lalu saat sedang menumpangi angkutan umum yang dalam kondisi cukup sesak dan panas. Di sebuah pemberhentian, naik seorang ibu yang sudah cukup sepuh dengan membawa beberapa kantong belanjaan yang terlihat sangat berat dan merepotkan.
Sayangnya, kondisi mobil saat itu sudah penuh sesak dan tidak ada penumpang lain yang berinisiatif untuk memberikan bantuan. Tanpa perlu berpikir panjang atau merasa rugi, saya langsung berdiri dari tempat duduk saya, memberikan kursi tersebut kepada beliau, dan membantu menata barang-barang bawaannya di tempat yang lebih aman agar tidak mengganggu penumpang lain.
Senyuman tulus dan ucapan terima kasih yang diucapkan ibu tersebut memang terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat berbekas bagi saya. Dari pengalaman kecil itu, saya belajar sebuah pelajaran berharga bahwa kepedulian terhadap sesama tidak pernah membutuhkan alasan yang rumit, modal yang besar, atau tunggu momen yang dramatis.
Pada sila ketiga, Persatuan Indonesia, saya makin menyadari betapa indahnya keberagaman justru dari dalam lingkaran pertemanan saya sendiri. Di lingkungan tempat tinggal maupun di tempat saya biasa berkumpul dan menghabiskan waktu, teman-teman saya datang dari pelbagai latar belakang suku, ras, daerah asal, hingga budaya yang sangat kontras. Logat bicara kami kadang bertolak belakang, gaya berkomunikasi kami berbeda, bahkan kebiasaan kecil dalam keseharian pun sering kali unik satu sama lain. Alih-alih menjadikan perbedaan tersebut sebagai sekat pemisah atau alasan untuk membuat kubu-kubuan tertentu, kami justru menjadikannya sebagai topik obrolan yang seru dan menyenangkan.
Kami saling bertukar cerita tentang tradisi daerah masing-masing, belajar istilah-istilah bahasa lokal baru, dan menikmati keunikan itu bersama-sama. Kebersamaan ini membuktikan kepada saya bahwa perbedaan sosial dan latar belakang tidak seharusnya memecah belah, melainkan justru memperkaya warna dalam kehidupan bermasyarakat dan mempererat rasa persatuan.
Pada sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, momen penerapannya paling terasa ketika saya dan teman-teman dihadapkan pada tugas kelompok atau kepanitiaan yang cukup rumit. Saat itu, kami diisi oleh banyak kepala dengan pandangan, ide, dan ego yang sama-sama kuat. Diskusi sempat berjalan sangat alot dan memanas karena masing-masing pihak merasa pendekatan dan idenya lah yang paling benar untuk diterapkan. Sebagai bagian dari kelompok tersebut, saya berusaha untuk tidak ikut terbawa emosi atau memaksakan kehendak pribadi. Saya mendorong teman-teman untuk duduk tenang sejenak, mendengarkan argumen serta alasan di balik ide setiap orang satu per satu tanpa menyela, lalu bersama-sama mencari jalan tengah. Ketika kesepakatan sulit dicapai secara mutlak, kami akhirnya melakukan pemungutan suara (voting) dan berkompromi secara terbuka. Belajar menurunkan ego, mau mendengarkan orang lain, dan menghormati keputusan bersama ternyata tidak hanya menyelesaikan kebuntuan masalah, tetapi juga membuat hasil kerja kelompok jadi jauh lebih maksimal tanpa meninggalkan rasa kesal atau penganakemasan di kemudian hari.
Sementara itu pada sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, saya berusaha menerapkannya lewat prinsip kesetaraan dan ketertiban dalam hal-hal mendasar di ruang publik maupun kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh paling nyata adalah membiasakan diri untuk selalu mengantre dengan tertib di mana pun berada—baik saat membeli makanan di kantin, menunggu kendaraan umum, maupun saat mengurus administrasi. Bagi saya, mengantre bukan sekadar masalah menunggu giliran, melainkan bentuk penghormatan kita terhadap hak dan waktu orang lain yang sudah datang lebih awal.
Selain itu, ketika saya dipercaya untuk memegang peran atau tanggung jawab dalam sebuah tim, saya selalu berusaha untuk membagi tugas secara adil sesuai dengan porsi dan kemampuan masing-masing anggota. Saya juga berusaha untuk selalu memberikan ruang bersuara yang sama bagi siapa saja tanpa membeda-bedakan mana anggota yang lebih dekat secara personal dengan saya dan mana yang tidak.
Dari seluruh rangkaian pengalaman dan kebiasaan kecil yang saya jalani tersebut, saya semakin mantap menyimpulkan bahwa Pancasila sama sekali bukanlah teori kaku yang cuma berdebu di dalam buku-buku teks pelajaran. Menerapkan Pancasila tidak harus menunggu kita memiliki jabatan tinggi, menjadi pejabat negara, atau melakukan aksi-aksi heroik yang disaksikan oleh banyak orang. Justru sebaliknya, nilai-nilai Pancasila itu benar-benar hidup, relevan, dan terus bernapas lewat tindakan-tindakan sederhana kita setiap hari. Mulai dari kemauan untuk menghargai perbedaan keyakinan, memiliki rasa empati terhadap sesama, menjaga kebersamaan di tengah keberagaman, bijak dan mau mengalah saat berdiskusi, hingga belajar untuk selalu berlaku adil dan jujur kepada siapa saja-semua langkah kecil itulah yang tanpa kita sadari sedang menjaga Indonesia untuk tetap berdiri kokoh.













