Nama : Sultan Shidqy Alfathi
NIM : 7133226002
Prodi : D3 Pengawasan Epidemiologi
Pancasila dalam Denyut Keseharian Saya
Pancasila sering kali dianggap sebagai konsep yang begitu besar dan megah. Padahal, nilai-nilai Pancasila sesungguhnya hidup melalui tindakan sederhana yang kita lakukan setiap hari. Dalam perjalanan hidup saya, kelima sila Pancasila menjadi pedoman sekaligus cermin dalam bersikap dan berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan sekitar.
Pengamalan Pancasila dalam kehidupan saya dimulai dari sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Rasa syukur dan ketaatan dalam beribadah menjadi landasan bagi saya untuk selalu berusaha melakukan hal-hal yang baik dan menjauhi perbuatan curang. Keimanan tersebut kemudian mendorong saya untuk mengamalkan sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, dengan menghargai setiap orang tanpa membeda-bedakan status sosial. Saya berusaha menyapa dan memperlakukan teman dengan baik serta bersedia mendengarkan ketika ada teman yang membutuhkan tempat untuk bercerita.
Sementara itu, sila ketiga, Persatuan Indonesia, saya terapkan melalui hal-hal sederhana, baik dalam kehidupan nyata maupun di dunia digital. Saya berusaha tidak menyebarkan rumor, informasi yang belum terbukti kebenarannya, maupun ujaran kebencian yang dapat memicu perpecahan. Ketika menghadapi perbedaan pendapat dalam kerja kelompok atau organisasi, saya menjadikan sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, sebagai pedoman. Saya belajar untuk mengurangi ego, mendengarkan pendapat orang lain, dan mencari jalan tengah melalui musyawarah demi mencapai kesepakatan bersama.
Selanjutnya, semangat sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, saya wujudkan dengan berusaha bersikap adil dan tidak mementingkan diri sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berusaha menghargai hak orang lain, datang tepat waktu, tidak menyerobot antrean atau hak orang lain di tempat umum, serta bersedia berbagi rezeki, waktu, maupun tenaga kepada mereka yang membutuhkan.
Bagi saya, menerapkan Pancasila bukan berarti harus menjadi pribadi yang sempurna. Pancasila justru menjadi pengingat agar saya terus belajar memperbaiki diri, menghargai sesama, menjaga persatuan, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Nilai-nilai Pancasila akan semakin bermakna apabila tidak hanya dihafalkan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam setiap langkah kehidupan sehari-hari.







