Nama : Melly Khoirunnisa
NIM : PO7131226097
Prodi : D4 Gizi dan Dietetika
Lima Sila Satu Jalan dalam Kehidupan
Setelah menjadi mahasiswa, saya mulai menyadari bahwa Pancasila ternyata tidak hanya berkaitan dengan pelajaran yang harus dihafalkan. Nilai-nilai Pancasila justru sering saya temui dalam kegiatan sehari-hari, baik ketika berada di kampus, mengerjakan tugas, berinteraksi dengan teman, maupun ketika berada di lingkungan keluarga dan masyarakat. Banyak hal sederhana yang saya lakukan ternyata merupakan bentuk penerapan nilai Pancasila, meskipun terkadang saya tidak menyadarinya. Bagi saya, menerapkan Pancasila tidak harus selalu dilakukan melalui tindakan besar, tetapi dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Sila Pertama – Ketuhanan Yang Maha Esa
Dalam kehidupan sehari-hari, saya berusaha tetap menjalankan ibadah di tengah kesibukan kuliah dan mengerjakan tugas. Ketika memiliki jadwal kuliah atau tugas yang cukup padat, saya berusaha mengatur waktu agar kewajiban beribadah tetap dapat dilakukan. Selain itu, saya juga berusaha menghargai teman yang memiliki keyakinan berbeda dengan saya. Saya tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain karena setiap orang memiliki hak untuk menjalankan agamanya masing-masing.
Sila Kedua – Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Saya menerapkan sila kedua melalui cara saya memperlakukan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika melihat teman sedang kesulitan memahami materi atau mengerjakan tugas, saya berusaha membantu jika saya mampu. Saya juga berusaha menjaga ucapan ketika berbicara dengan teman agar tidak menyakiti atau merendahkan mereka. Menurut saya, menghargai orang lain tidak membutuhkan tindakan yang besar, tetapi dapat dimulai dari bersikap sopan, peduli, dan tidak memperlakukan orang lain semaunya.
Sila Ketiga – Persatuan Indonesia
Sebagai mahasiswa, saya bertemu dengan banyak orang yang memiliki sifat, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda. Dalam kegiatan kelompok, terkadang pendapat saya tidak sama dengan pendapat teman. Saya berusaha menerima perbedaan tersebut dan tetap bekerja sama untuk menyelesaikan tugas. Saya juga tidak memilih teman hanya berdasarkan kesamaan sifat atau latar belakang. Bagi saya, perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk menjauh, tetapi menjadi kesempatan untuk belajar memahami dan menghargai orang lain.
Sila Keempat – Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Penerapan sila keempat paling sering saya rasakan ketika berdiskusi atau mengerjakan tugas kelompok. Misalnya, ketika kelompok harus menentukan pembagian tugas atau memilih waktu untuk mengerjakan tugas bersama, saya berusaha menyampaikan pendapat tanpa memaksakan keinginan sendiri. Saya juga mendengarkan pendapat teman dan mempertimbangkan alasan yang mereka berikan. Jika terjadi perbedaan pendapat, kami mencoba mencari keputusan yang dapat disepakati bersama. Dari hal tersebut, saya belajar bahwa musyawarah bukan tentang siapa yang pendapatnya paling kuat, tetapi bagaimana menemukan keputusan yang dapat diterima bersama.
Sila Kelima – Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Dalam tugas kelompok, saya berusaha menerapkan keadilan dengan membagi pekerjaan secara seimbang. Saya menyadari bahwa setiap anggota memiliki kesibukan dan kemampuan yang berbeda, sehingga pembagian tugas sebaiknya disesuaikan dengan keadaan masing-masing. Setelah mendapatkan bagian tugas, saya berusaha menyelesaikannya dengan baik agar tidak membebani anggota kelompok lainnya. Saya juga tidak ingin mengambil keuntungan dari kerja keras teman. Menurut saya, keadilan dapat dimulai dari hal sederhana, yaitu melaksanakan tanggung jawab sendiri dan menghargai usaha orang lain.












