PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID – Upaya pengendalian inflasi di Sumatera Selatan menunjukkan hasil positif. Di tengah tantangan musim kemarau, potensi El Nino, serta meningkatnya aktivitas ekonomi pada awal tahun ajaran baru, Provinsi Sumsel justru mencatat deflasi pada Juli 2026, menandakan stabilnya harga berbagai kebutuhan pokok.
Berdasarkan data terbaru, Sumatera Selatan mengalami deflasi sebesar 0,24 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Juli 2026. Angka ini berbalik dari bulan sebelumnya yang masih mencatat inflasi sebesar 0,36 persen. Sementara itu, inflasi tahunan (year on year/yoy) juga turun menjadi 2,50 persen dari sebelumnya 2,89 persen, sejalan dengan tren nasional yang ikut melandai menjadi 2,88 persen.
Penurunan tekanan harga terutama dipicu melimpahnya pasokan komoditas hortikultura saat masa panen di sejumlah daerah sentra produksi. Harga bawang merah menjadi penyumbang terbesar deflasi, disusul emas perhiasan, cabai merah, cabai rawit, dan tomat.
Meski demikian, peningkatan konsumsi masyarakat menjelang dimulainya kembali Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta tahun ajaran baru tetap memberikan tekanan terhadap sejumlah komoditas seperti beras dan bawang putih. Kondisi tersebut membuat penurunan inflasi tidak berlangsung lebih dalam.
Memasuki Agustus 2026, tekanan inflasi diperkirakan kembali meningkat. Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia diprediksi akan mendorong konsumsi masyarakat, sementara musim kemarau yang lebih kering berpotensi memengaruhi produksi komoditas hortikultura akibat rendahnya curah hujan.
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan bersama Bank Indonesia terus memperkuat strategi pengendalian melalui pendekatan 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
Hingga akhir Juli 2026, lebih dari 381 kegiatan Operasi Pasar Murah (OPM), Gerakan Pangan Murah (GPM), dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) telah digelar di berbagai daerah. Selain itu, puluhan inspeksi mendadak ke pasar juga dilakukan untuk memastikan stok pangan tetap tersedia serta harga sesuai ketentuan.
Dukungan terhadap distribusi pangan turut diperkuat melalui subsidi ongkos angkut. Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan telah memfasilitasi 77 kali subsidi distribusi dengan total komoditas hampir 48 ton guna mendukung pelaksanaan operasi pasar. Selain itu, BI juga memfasilitasi kerja sama pembelian bawang merah dari Sumatera Barat sebanyak 22,67 ton serta cabai dari Kabupaten Magelang sebanyak 3,68 ton untuk memperkuat pasokan di Sumsel.
Kerja sama antar daerah juga terus diperluas. Hingga Juli 2026 telah terjalin delapan Kesepakatan Bersama (KSB) dan 21 Perjanjian Kerja Sama (PKS) antarpemerintah daerah dengan Provinsi Jawa Tengah, serta empat kerja sama Business to Business (B2B) guna memperkuat rantai pasok pangan.
Selain menjaga stabilitas harga, penguatan ketahanan pangan terus dilakukan melalui transformasi Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) menjadi Rantai Pasok Pangan GSMP. Program ini melibatkan berbagai pihak, termasuk pesantren dan koperasi, sebagai bagian dari ekosistem produksi dan distribusi pangan melalui skema business matching dengan offtaker serta finance matching bersama perbankan.
Melalui kolaborasi tersebut, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Provinsi Sumsel optimistis stabilitas inflasi dapat terus terjaga, ketahanan pangan semakin kuat, serta pertumbuhan ekonomi daerah tetap inklusif dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pelaksanaan program prioritas nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).Jika diinginkan, saya juga bisa membuat versi ini lebih bergaya media online dengan lead yang lebih kuat dan SEO-friendly.
Penulis : Yun
Editor : Jaks

















