Detik-detik Taliban Rebut Istana Kepresidenan Afghanistan

- Redaksi

Senin, 16 Agustus 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasukan Taliban.
Foto: net

Pasukan Taliban. Foto: net

SUARAPUBLIK.ID, KABUL – Taliban kini menang di Afghanistan. Kelompok tersebut resmi menguasai ibu kota Kabul, termasuk istana kepresiden, Minggu (15/8/2021), dilansir dari cnbc indonesia.

Taliban sudah menguasai lebih dari 10 provinsi di negara itu Jumat (12/8/2021). Sabtu (14/8/2021) Taliban sudah merapat dan mendekati Kabul dan menutup akses keluar masuk kota itu.

Makin gencarnya Taliban di negeri itu terjadi pasca keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang meminta seluruh tentara angkat kaki per 31 Agustus. AS sendiri sudah melakukan evakuasi besar-besaran warganya dari Afghanistan sejak pekan lalu.

Kemarin, Taliban sendiri masuk ke Kabul dengan dalih menghindari penjarahan dan pencurian di kota itu. Pasalnya ada laporan polisi, aparat dan pegawai negeri sipil pendukung pemerintah sudah pergi meninggalkan kota itu.

CNN International mengabarkan bagaimana Taliban memasuki istana kepresidenan beberapa jam setelah mantan Presiden Ashraf Ghani meninggalkan negara itu. Ghani disebut lari meninggalkan negara itu ke Tajikistan.

Taliban mengklaim ada tiga pejabat pemerintahan Ghani yang hadir saat kejadian berlangsung. Seorang pejabat Taliban mengklaim pengambilalihan berlangsung damai.

“Penyerahan damai fasilitas pemerintah berlangsung damai di seluruh negeri,” katanya dikutip Senin (16/8/2021).

Namun, melansir AFP, sebuah cuitan dari Twitter Istana Kepresidenan menyebut bagaimana tembakan terdengar di sejumlah titik kota Kabul. Sebuah klip video yang didistribusikan oleh Taliban menunjukkan orang-orang bersorak dan berteriak, ketika konvoi truk pick-up memasuki kota dengan para tentara mengacungkan senapan mesin dan bendera putih Taliban.
Kepanikan pun dilaporkan sempat terjadi di kota itu. Penduduk khawatir akan kembalinya pemerintahan “garis keras” Islam oleh kelompok itu.

Taliban sebelumnya pernah berkuasa dari 1996 hingga 2001. Pada saat itu sejumlah aturan ketat dilakukan termasuk pembatasan hak-hak perempuan.

“Para penduduk di kota tidak perlu takut dengan mujahidin. Pasukan kami memasuki kota dengan perlahan, mereka tidak akan mengganggu siapapun, dan menjamin para pegawai negeri sipil serta aparat keamanan tidak akan disakiti. Tidak ada mujahid yang diperbolehkan memasuki rumah penduduk atau menyakiti serta mengganggu siapapun,” ujar Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahit.

Ghani sendiri mendapat kecaman karena melarikan diri. Sebelumnya, ia berdalih pergi untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih besar.

“Mereka mengikat tangan kami di belakang punggung kami dan menjual tanah air, sialan orang kaya dan gengnya,” kata seorang pendukungnya Jenderal Bismillah Mohammadi merujuk Ghani dan sejumlah petinggi lain yang meninggalkan Afghanistan. (*)

Berita Terkait

Karyawan XL Axiata Salurkan Bantuan untuk Korban Longsor di Karo
PWI Muba Kecam Agresi Israel yang Menewaskan Sejumlah Jurnalis di Palestina
Innalillahi, Jemaah Sumsel yang Meninggal di Mekkah Bertambah
Sebelumnya Dilarang Berjudi, Kini Uni Emirat Arab Punya K@sino Terbesar di Dunia
149 Orang Tewas di Tragedi Pesta Halloween Itaewon Korsel
Inggris Umumkan Raja Baru, Raja Charles III
Ratu Elizabeth II Wafat
Jumlah Penduduk Terus Berkurang, China Alami Resesi Seks

Berita Terkait

Jumat, 20 Desember 2024 - 12:00 WIB

Karyawan XL Axiata Salurkan Bantuan untuk Korban Longsor di Karo

Minggu, 5 November 2023 - 21:16 WIB

PWI Muba Kecam Agresi Israel yang Menewaskan Sejumlah Jurnalis di Palestina

Senin, 26 Juni 2023 - 18:29 WIB

Innalillahi, Jemaah Sumsel yang Meninggal di Mekkah Bertambah

Senin, 14 November 2022 - 08:53 WIB

Sebelumnya Dilarang Berjudi, Kini Uni Emirat Arab Punya K@sino Terbesar di Dunia

Minggu, 30 Oktober 2022 - 07:48 WIB

149 Orang Tewas di Tragedi Pesta Halloween Itaewon Korsel

Berita Terbaru