Nama: Rıfaya Meherunissa Nailah
NIM : PO7131126088
Prodi : D3 Gizi
Dari Pondok Pesantren, Aku Belajar tentang Pancasila
Namaku Rifaya Meherunissa Nailah tapi seharian di pondok saya biasanya dipanggil Faya, saya seorang mahasiswa jurusan gizi yang pernah menjalani kehidupan di pondok pesantren, tinggal di pesantren sangatlah berbeda dengan kehidupan selama saya di rumah.
Di sini saya belajar banyak hal tentang kehidupan terutama tentang kesederhanaan, kemandirian dengan segala keterbatasan fasilitas sehingga saya harus menggunakan segala sesuatu dengan sebaik mungkin dan pentingnya hidup bersama orang lain. Kehidupan di pondok memang tidak selalu mudah kamar yang saya tempati pun tidak terlalu besar, satu kamar bisa dihuni oleh beberapa santri, kasur saya pun tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis tetapi menjadi saksi bisu perjuangan lelahnya menghafal dan lemari yang saya gunakan untuk menyimpan baju juga tidak terlalu besar.
Sila kesatu” Ketuhanan Yang Maha Esa”
Saya mengamalkan sila pertama ini dengan bangun sebelum matahari terbit untuk melaksanakan sholat shubuh berjama’ah ketika mau ambil wudhu harus mengantri terlebih dahulu karena keterbatasan air walaupun terkadang saya merasa lelah tetapi hidup sederhana seperti ini saya selalu bersyukur kepada Allah SWT atas segala yang diberikan. Saya belajar bahwa kehidupan bukan hanya memiliki banyak harta, tetapi juga tentang menjadi pribadi yang beriman dan selalu menghormati orang lain.
Sila kedua “Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab”
Saya mengamalkan sila kedua ini dengan kehidupan dipondok yang membuat saya belajar untuk peduli kepada orang lain. Saya tinggal bersama teman-teman yang memiliki latar belakang yang berbeda beda. Tetapi perbedaan ini tidak menjadi alasan untuk saling membeda bedakan, ketika ada yang teman saya yang sakit atau mengalami kesulitan, saya berusaha membantu semampuku dan memperlakukan sesama dengan baik serta penuh kepedulian.
Sila ketiga “Persatuan Indonesia”
Saya mengamalkan sila ketiga ini dengan tinggal bersama banyak orang membuat saya memahami arti persatuan. Dalam satu pondok berasal dari berbagai daerah yang berbeda beda dan memiliki kebiasaan yang berbeda beda pula. Namun, saya tetap bisa hidup bersama, belajar bersama, makan bersama, dan saling membantu. Saya tidak mempermasalahkan perbedaan suku, daerah, maupun karakter dan saya tetap hidup sebagai saudara. justru perbedaan inilah yang membuat persahabatan saya dan teman teman semakin kuat.
Sila keempat “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Saya mengamalkan sila keempat ini dengan menyelesaikan masalah dengan berdiskusi, tidak heran jika jadwal piket kebersihan sering tidak berjalan dengan baik biasanya rekan kamar lupa akan jadwal piketnya karena padatnya jadwal kegiatan di pesantren, tapi jika terjadi keributan kami berkumpul untuk menyelesaikan masalah setiap orang diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya dari berdiskusi inilah kita bisa membuat keputusan yang disepakati bersama.
Sila kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”
Saya mengamalkan sila kelima ini dengan hidup yang serba sederhana, kami tidak pernah membiarkan teman merasa kelaparan ataupun kesulitan sendirian. Kamipun tidak ragu berbagi makanan atau membantu teman yang sedang membutuhkan bantuan dan kami membantu sesuai kemampuan.
Itulah sedikit cerita kehidupan saya dipesantren. Bagi saya, kelima sila pancasila bukan hanya buat dihafalkan tetapi sebisa mungkin diterapkan dikehidupan sehari hari. Kehidupan dipesantren mengajarkan saya bahwa nilai nilai pancasila dapat diterapkan dalam hal hal sederhana yang saya lakukan setiap hari.








