Nama : Ranti Santri Puspita Sari
NIM : P07131126082
Prodi : D3 Gizi
5 Nilai-Nilai Pancasila Dikehidupanku
Namaku Ranti, aku adalah santri di sebuah pesantren sederhana yang terletak jauh dari keramaian kota. Kehidupan di sini sangat sederhana, bahkan penuh keterbatasan, Dan makanan seadanya saja yang kami santap. Meski begitu, aku selalu berusaha mengamalkan nilai-nilai kelima sila Pancasila dalam setiap hari kehidupanku.
Sila Pertama: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Di tengah keterbatasan, aku justru semakin dekat kepada Allah swt,. Bahkan setiap pagi sebelum fajar, aku sudah bangun lalu berwudhu, Meski air terasa sangat dingin. Kemudian Aku berdoa dengan khusyuk, atas kesehatan yang telah diberikan, dan atas rezeki yang sederhana. Aku tidak pernah mengeluh kepada Allah swt, atas apa yang belum kupunya. Akan tetapi, Aku yakin Tuhan tidak memandang kemewahan tempat tinggal atau pakaian, melainkan ketakwaan dan keikhlasan hati. Setiap suapan makanan yang sederhana pun aku awali dengan ucapan syukur kepada-Nya.
Sila Kedua: “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” Aku selalu sopan kepada Guru, kakak, dan teman-teman santri. Tidak ada perbedaan di antara kami, Atau siapa pun dia, aku menyapanya dengan ramah dan hormat. Jika ada teman yang sakit, aku merawatnya dan menggantikan. tugasnya. Jika ada yang bekalnya kurang, aku berbagi makananku meski sedikit. Aku tidak pernah mengejek pakaian lusuh atau sepatu yang sudah rusak milik teman. Aku paham semua anak sama di mata Allah Swt., dan sikap mulia jauh lebih berharga daripada harta dan benda.
Sila Ketiga: “Persatuan Indonesia”. Kami hidup rukun seperti satu keluarga besar yang setiap paginya kami bekerja sama membersihkan halaman, memperbaiki kebun, dan memperbaiki bangunan yang rusak. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Jika ada perselisihan kecil, kami segera berdamai. Aku sadar meski kami tinggal jauh dari kota, kami tetap bagian dari bangsa Indonesia. Menjaga persatuan, saling membantu, dan hidup gotong royong adalah wujud cinta tanah air yang bisa aku lakukan setiap hari.
Sila Keempat: “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan” Aku selalu mendengarkan nasehat Guru-guru dan menghormati pendapat dari orang yang lebih tua. Saat ada keputusan bersama, aku tidak memaksakan kehendaku. Aku menyampaikan pendapat dengan bahasa yang sopan dan mendengarkan pendapat teman-temanku yang lain. Jika ada masalah, kami menyelesaikannya dengan musyawarah dan mencari jalan terbaik bersama, bukan dengan amarah atau kekerasan. Aku belajar bahwa kebijaksanaan dan kesepakatan bersama lebih baik daripada menang sendiri.
Sila Kelima: “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Aku hidup hemat, menjaga barang miliku sebaik mungkin, dan tidak boros sedikit pun walau terkadang aku sedikit khilaf. Aku rajin belajar meski dengan buku yang sederhana dan penerangan yang terbatas. Aku membantu pekerjaan pesantren dengan ikhlas karena aku percaya kerja keras dan kejujuran adalah jalan meraih masa depan. Aku tidak malu hidup sederhana. Aku berharap kelak dengan ilmu yang aku cari di sini, aku bisa bermanfaat bagi semua orang, memperlakukan semua orang dengan adil, dan ikut membangun bangsa agar lebih sejahtera.
Itulah cerita dari kehidupanku. Di tengah keterbatasan, kelima sila Pancasila menjadi pendamping hidupku. Aku percaya kesederhanaan bukan penghalang untuk menjadi anak yang baik, taat, dan berguna bagi nusa dan bangsa.








