Nama : Ameliya Trikurnia
NIM : PO7124126055
Prodi : D3 Kebidanan
Dari Hal-Hal Kecil, Saya Belajar tentang Pancasila
Setiap orang memiliki cerita tentang bagaimana dirinya sampai di titik sekarang, begitu juga dengan saya. Nama saya Ameliya Trikurnia. Orang-orang biasanya memanggil saya Amel, Mel, atau Ameng. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Poltekkes Kemenkes Palembang, Program Studi D3 Kebidanan. Menjadi mahasiswa merupakan pengalaman baru bagi saya. Banyak hal yang berbeda dibandingkan ketika saya masih bersekolah, mulai dari cara belajar, tugas, lingkungan, hingga bertemu dengan teman-teman baru yang memiliki suku, daerah asal, dan karakter yang beragam.
Saya merupakan orang yang agak pemalu ketika bertemu dengan orang yang belum terlalu saya kenal. Biasanya, saya lebih banyak diam terlebih dahulu dan membutuhkan waktu untuk merasa nyaman. Namun, seiring berjalannya waktu, setelah mengenal seseorang lebih dekat, saya dapat lebih banyak berbicara dan bercanda. Setelah memasuki dunia perkuliahan, saya merasa perlahan mulai terbiasa dengan kehidupan yang berbeda dari masa SMA. Saya mulai lebih banyak berbaur dan aktif, belajar untuk lebih berani berkomunikasi, mandiri, serta bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Bagi saya, masa perkuliahan bukan hanya tentang belajar di kelas dan menyelesaikan tugas. Saya juga mulai belajar mengenal diri sendiri, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan lebih berani berinteraksi dengan orang lain. Memasuki lingkungan baru membuat saya perlahan belajar keluar dari zona nyaman dan menjadi lebih terbuka terhadap orang-orang di sekitar.
Selama kuliah, saya juga mulai menyadari bahwa Pancasila ternyata tidak hanya sebatas materi yang dipelajari di kelas. Beberapa nilai Pancasila sering saya temui dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika berinteraksi dengan teman-teman.
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, saya terapkan dengan menjalankan ibadah salat lima waktu, melaksanakan salat sunah, dan melakukan tadarus. Salah satunya adalah dengan rutin membaca Surah Yasin pada malam Jumat. Selain itu, saya juga menghargai orang lain yang memiliki keyakinan berbeda dan tetap menghormati mereka. Menurut saya, setiap orang memiliki keyakinan dan kepercayaan masing-masing serta memiliki hak untuk menjalankannya. Oleh karena itu, kita tidak boleh memaksakan keyakinan kepada orang lain.
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, saya terapkan dengan menghargai dan peduli terhadap orang-orang di sekitar saya. Misalnya, ketika ada teman yang sedang mengalami kesulitan, saya berusaha membantu jika memang saya mampu. Saya juga berusaha untuk tidak membeda-bedakan teman hanya karena sifat atau keadaan mereka berbeda dengan saya.
Salah satu bentuk kepedulian yang saya lakukan adalah ketika ada teman yang sedang memiliki masalah dan ingin bercerita kepada saya. Saya berusaha mendengarkan ceritanya terlebih dahulu tanpa langsung menghakimi atau menyalahkan, apalagi menyela pembicaraannya. Menurut saya, terkadang seseorang hanya membutuhkan orang lain yang bersedia mendengarkan ceritanya.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia, saya rasakan ketika mulai bergaul dengan teman-teman di kampus. Kami memiliki sifat dan kebiasaan yang berbeda-beda. Kami juga berasal dari suku, budaya, bahasa, dan daerah yang berbeda. Ada teman yang lebih banyak berbicara, ada yang pendiam, dan ada pula yang memiliki pendapat berbeda dengan saya.
Meskipun memiliki berbagai perbedaan, kami tetap dapat berteman, bekerja sama, dan saling merangkul. Dari perbedaan tersebut, saya juga dapat belajar mengenal budaya, bahasa, sifat, serta kebiasaan teman-teman saya. Menurut saya, perbedaan bukan alasan untuk membeda-bedakan satu sama lain. Justru, perbedaan membuat saya mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru. Dari situ saya belajar bahwa perbedaan bukan berarti kita tidak dapat hidup dan bekerja sama.
Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, sering saya terapkan ketika mengerjakan tugas kelompok atau melakukan diskusi di kelas. Musyawarah juga dilakukan ketika membahas uang kas atau menentukan peraturan kelas.
Dalam kegiatan tersebut, terkadang muncul perbedaan pendapat mengenai tugas maupun hal lain yang berkaitan dengan kepentingan bersama. Jika hal itu terjadi, kami membicarakannya bersama dan berusaha mencari keputusan yang dapat diterima serta disepakati oleh semua anggota. Dari situ saya belajar untuk mendengarkan pendapat orang lain, tidak memaksakan pendapat sendiri, dan memberikan kesempatan kepada teman untuk menyampaikan pendapatnya.
Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, saya coba terapkan dengan memperhatikan orang-orang di sekitar saya. Misalnya, ketika ada teman yang terlihat belum terlalu dekat dengan teman-teman lainnya, saya akan mendekatinya dan berusaha mengajaknya berbicara atau bergabung bersama tanpa membuatnya merasa risih.
Menurut saya, hal kecil seperti itu penting karena setiap orang pasti ingin merasa diterima dan tidak ingin merasa sendirian. Saya juga berusaha untuk tidak membuat seseorang merasa dikucilkan hanya karena belum terlalu dekat dengan kami. Dari hal tersebut, saya belajar bahwa bersikap adil tidak selalu harus dilakukan melalui sesuatu yang besar, tetapi juga dapat diwujudkan melalui cara kita memperlakukan orang lain.
Setelah mempelajari dan mencoba menghubungkan Pancasila dengan kehidupan saya sendiri, saya semakin menyadari bahwa menerapkan nilai-nilai Pancasila ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan. Selama ini mungkin saya sering menganggap Pancasila hanya sebagai materi yang harus dipelajari di sekolah dan perkuliahan. Padahal, banyak hal kecil yang tanpa saya sadari sudah berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila.
Menurut saya, menerapkan Pancasila tidak harus selalu melalui tindakan yang besar. Menghargai orang lain, mau mendengarkan pendapat, membantu teman, menjaga kerukunan, dan bertanggung jawab juga merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai Pancasila.
Dari sinilah pemikiran saya menjadi lebih luas. Nantinya, ketika menjadi seorang bidan, saya tidak cukup hanya mengandalkan ilmu yang saya dapatkan selama kuliah. Untuk menjadi bidan yang profesional, saya juga perlu memiliki sikap yang baik ketika menghadapi orang lain. Setiap pasien yang saya temui nantinya pasti memiliki kondisi dan cerita yang berbeda. Oleh karena itu, saya harus mampu menghadapi setiap orang dengan sikap yang tepat, penuh perhatian, dan menghargai mereka.
Saya menyadari bahwa masih banyak hal yang harus saya pelajari dan masih memiliki berbagai kekurangan. Namun, saya ingin mulai membiasakan diri menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya karena Pancasila merupakan materi perkuliahan atau tugas, tetapi juga karena saya ingin nilai-nilai tersebut menjadi bekal bagi saya untuk menjadi seorang bidan yang profesional, beretika, dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat di masa depan.







