SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG — Di sebuah sudut ruang kerja Lembaga Pemasyarakatan (LPP) Perempuan Kelas IIA Palembang, tangan-tangan terampil tampak sibuk menganyam benang warna-warni menjadi selembar kain songket. Suara dentingan alat tenun berpadu dengan tawa lembut para warga binaan yang kini menemukan arti baru dari kerja keras dan harapan. Di balik seragam oranye dan tembok tinggi yang memisahkan mereka dari dunia luar, tersimpan tekad kuat untuk memperbaiki diri dan menata masa depan.
Mereka adalah para peserta Program Srikandi Mandiri, inisiatif sosial yang digagas oleh Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) melalui Integrated Terminal (IT) Palembang. Program ini hadir sebagai wujud nyata pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan, dengan fokus pada pemberdayaan perempuan di lingkungan lembaga pemasyarakatan.
Sebanyak 40 warga binaan perempuan diajak berpartisipasi dalam serangkaian pelatihan keterampilan produktif, mulai dari pembuatan olahan tempe, budidaya tanaman hidroponik, produksi roti dan kue, hingga menenun kain songket khas Sumatera Selatan. Melalui pelatihan ini, mereka tak hanya dibekali kemampuan teknis, tetapi juga ditanamkan semangat untuk percaya pada diri sendiri.
“Menenun membuat saya merasa hidup kembali. Dari sehelai benang, saya belajar bahwa kesabaran dan ketekunan bisa mengubah sesuatu yang sederhana menjadi karya yang indah,” ujar salah satu warga binaan sambil menatap hasil tenunannya dengan bangga.
Tak berhenti di ruang pelatihan, hasil karya para warga binaan kini dapat dinikmati masyarakat luas melalui platform e-commerce Si Cantik. Inovasi ini membuka akses pasar digital bagi produk hasil karya mereka, mulai dari kain songket, makanan olahan, hingga produk hidroponik. Dengan dukungan pemasaran yang lebih luas, para peserta kini mampu meraih pendapatan antara Rp3 juta hingga Rp4 juta per bulan — angka yang menjadi simbol perubahan dan kemandirian.
Kepala LPP Perempuan Kelas IIA Palembang, Desy Andriyani, mengungkapkan rasa bangganya terhadap semangat para warga binaan yang kini mampu berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat.
“Program ini memberikan harapan baru bagi mereka. Warga binaan bukan hanya menjalani masa hukuman, tetapi juga proses pembelajaran untuk kembali menjadi bagian produktif dari masyarakat,” jelas Desy.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, menegaskan bahwa semangat program TJSL Pertamina tidak hanya berhenti pada kegiatan sosial, tetapi juga pada keberlanjutan ekonomi masyarakat binaan.
“Kami ingin setiap program CSR memberikan dampak jangka panjang. Melalui pendampingan, pelatihan, dan promosi seperti Small Medium Enterprise Expo (SMEXPO), kami mendorong para pelaku usaha kecil, termasuk warga binaan, untuk naik kelas dan berdaya saing,” ujarnya.
Kisah perubahan para “Srikandi” di balik tembok lapas ini menjadi cermin bahwa kesempatan kedua selalu ada bagi siapa pun yang mau berjuang. Dari menenun songket hingga mengolah tempe, mereka tak hanya membangun keterampilan, tetapi juga menenun kembali martabat dan masa depan.
Melalui Program Srikandi Mandiri, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel berkontribusi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan ke-5 tentang Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan. Sinergi antara Pertamina, LPP Palembang, dan masyarakat menjadi bukti bahwa kolaborasi dapat menciptakan perubahan sosial yang nyata — mengubah ruang pembinaan menjadi ladang harapan, dan menghadirkan cahaya baru di balik jeruji besi.
Kini, para Srikandi Lapas Palembang bukan lagi sekadar warga binaan, tetapi penggerak kecil dalam roda ekonomi kreatif. Dari balik tembok tinggi itu, mereka menenun bukan hanya kain, melainkan juga masa depan yang lebih indah, berwarna, dan penuh makna. (Yunani)

















