Bukan Sekedar Hafalan Upacara Bendera

- Redaksi

Sabtu, 22 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nama: Syahpriyati Maharani

NIM  : PO7131226062

Prodi: D4 Gizi dan Dietetika

 

Bukan Sekedar Hafalan Upacara Bendera

 

Sebagai remaja yang tumbuh di era digital, kehidupan saya tidak pernah bisa dilepaskan dari layar sentuh. Setiap pagi, hal pertama yang menyapa pandangan saya bukanlah teks Pancasila yang tergantung di dinding kelas, melainkan puluhan notifikasi di layar ponsel. Di balik kaca berukuran enam inci inilah seluruh dunia saya berputar, mulai dari obrolan pertemanan, tugas sekolah, hingga tren yang berubah setiap jam.

 

Oleh karena itu, dulu saya menganggap Pancasila sebatas hafalan formal saat upacara bendera atau materi ujian demi nilai tuntas. Pancasila terasa seperti ideologi megah milik para pejabat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keriuhan hidup saya sehari-hari. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, saya tersadar bahwa ujian Pancasila yang sebenarnya justru terjadi di ruang-ruang paling personal dalam hidup saya, mulai dari dunia maya hingga interaksi nyata.

 

Pertama-tama, ujian Sila Pertama paling sering hadir di dalam genggaman tangan saya sendiri. Media sosial mempertemukan saya dengan ribuan orang yang memiliki latar belakang, sudut pandang, dan kepercayaan yang berbeda. Dahulu, ketika melihat cara pandang yang bertolak belakang dengan keyakinan pribadi, refleks pertama saya adalah merasa aneh atau ingin menghakiminya. Namun, saya belajar bahwa iman yang sejati tidak pernah diajarkan untuk merendahkan orang lain. Dengan demikian, menghayati Sila Pertama berarti memberi ruang bagi orang lain untuk berkeyakinan dan beribadah dengan tenang tanpa harus saya usik.

 

Selanjutnya, dunia maya memang memberi kebebasan luar biasa, tetapi kebebasan tersebut kerap menguji kadar kemanusiaan saya. Di media sosial, perundungan (cyberbullying) dan ujaran kebencian sangat mudah ditemui. Saya mengaku pernah hampir terbawa arus untuk ikut menertawakan kesalahan orang lain di grup obrolan. Dengan demikian, Sila Kedua menegur saya tentang pentingnya adab dan empati. Oleh sebab itu, kini setiap kali jempol saya melayang di atas papan ketik, saya selalu bertanya pada diri sendiri “Apakah kata-kata ini menyakiti orang lain?” Menolak untuk ikut menghujat adalah cara nyata saya menjaga nilai kemanusiaan.

 

Di samping interaksi maya, potensi perpecahan dalam konteks pergaulan remaja justru sering dipicu oleh hal-hal sepele, seperti geng-gengan, ghibah, hingga perbedaan minat. Di sinilah Sila Ketiga menjadi panduan hidup saya. Menjaga persatuan tidak harus selalu berarti memegang senjata di medan perang. Sebaliknya, bagi saya persatuan itu dimulai dari kemampuan merawat hubungan baik dengan teman-teman, tidak menjadi provokator saat terjadi perselisihan, serta membiasakan diri menyaring informasi agar tidak ikut menyebarkan berita bohong (hoax).

 

Sebab itu pula, Sila Keempat selalu menguji kedewasaan saya setiap kali mengerjakan tugas kelompok. Sebagai orang yang cukup idealis, dulu saya kerap merasa bahwa ide sayalah yang paling benar sehingga keputusan harus diambil secara cepat sesuai kemauan pribadi. Namun, berulang kali mengalami dinamika kelompok menyadarkan saya betapa egoisnya sikap tersebut. Berangkat dari pengalaman itu, Sila Keempat mengajarkan saya untuk belajar mendengarkan, menurunkan nada suara, dan mau menerima masukan orang lain demi mencapai mufakat bersama.

 

Akhirnya, Sila Kelima diwujudkan melalui tindakan sederhana yang menghargai hak orang lain di ruang publik. Bersabar berdiri di barisan antrean kantin, tidak membuang sampah sembarangan, serta merapikan kembali meja dan kursi yang telah digunakan adalah bentuk kedisiplinan diri. Ketika saya memilih untuk tidak menyerobot hak orang lain demi kenyamanan pribadi, pada saat yang sama saya sedang belajar menerapkan rasa keadilan sosial yang paling mendasar.

 

Kesimpulannya, saya menyadari bahwa Pancasila bukanlah teori kaku di buku pelajaran sejarah. Pancasila adalah ideologi yang hidup di dalam tindakan-tindakan kecil yang kita pilih setiap hari. Bagi saya, Pancasila hadir saat jempol saya menahan diri untuk tidak menyebarkan kebencian, saat telinga saya mau mendengarkan perbedaan, dan saat langkah kaki saya memilih untuk tertib. Pancasila tidak tinggal jauh di awan; ia bernapas dalam setiap keputusan sederhana yang saya ambil.

Berita Terkait

Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari
Tidak Ada Hotspot Namun Asap Samar Selimuti Pagar Alam Dinkes Turun Tangan Cek Kualitas Udara
DPO Pencurian di PT GSB Ditangkap di Jambi, Kerugian Capai Rp97 Juta
Penerapan Pancasila di Kehidupan Sehari-hari 
Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari
Mengamalkan Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari
Dorong Optimalisasi Aset melalui Lelang Serentak II Tahun 2026, Bank Sumsel Babel Hadirkan 61 Objek Lelang Terbuka bagi Masyarakat dan Dunia Usaha
Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:52 WIB

Tidak Ada Hotspot Namun Asap Samar Selimuti Pagar Alam Dinkes Turun Tangan Cek Kualitas Udara

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:46 WIB

DPO Pencurian di PT GSB Ditangkap di Jambi, Kerugian Capai Rp97 Juta

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:41 WIB

Penerapan Pancasila di Kehidupan Sehari-hari 

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:34 WIB

Mengamalkan Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Berita Terbaru

Sumsel

Penerapan Pancasila di Kehidupan Sehari-hari 

Rabu, 26 Agu 2026 - 12:41 WIB