Aktivis Perempuan: Kaum Hawa dan Laki-laki Punya Akses yang Sama Jadi Pemimpin

- Redaksi

Minggu, 20 Oktober 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Stigma perempuan hanya mampu di dapur, di sumur dan di kasur tampaknya tidak relevan lagi. Terutama di zaman era globalisasi sekarang ini. Meski begitu, diskriminasi perempuan masih terus terjadi.

Hal inilah yang disoroti Ikatan Pemuda Penggerak Desa (IPDA) Sumsel dalam Forum Group Discussion (FGD) dengan tema “Menakar Kepemimpinan Perempuan di kota Palembang” di Cafe Gunz Aktivis Perempuan: Kaum Hawa dan Laki-laki Punya Akses yang Sama Jadi Pemimpin di Kambang Iwak, Sabtu malam (19/10/2024).

Ketua Pelaksana FGD Apri Saputra mengatakan, tujuan FGD ini untuk mengedukasi dan juga memberikan sebuah informasi bahwasanya di kota Palembang masih ada diskriminasi terhadap perempuan.

“Dengan adanya FGD ini dapat mengedukasi dan memberikan informasi kepada para perempuan khususnya masyarakat kota Palembang untuk memberikan pemahaman kalau perempuan itu tidak hanya didapur, disumur dan dikasur akan tetapi perempuan bisa maju kedepan setara dengan laki-laki,” kata Apri.

Menurut Apri, saat ini perempuan masih dipandang orang yang terbelakang. Padahal kita tahu bahwa perempuan memiliki daya kompeten dan bisa memiliki jiwa kepemimpinan.

“Melalui diskusi ini kita bisa menakar sejauh mana kompeten perempuan menjadi pemimpin khususnya di kota Palembang,” jelas Apri.

Sementara itu, Aktivis perempuan kota Palembang Yui Zahana S sos mengatakan orang yang beranggapan kalau perempuan hanya persoalan di dapur, sumur dan kasur hanya pemikiran orang kolot dan orang yang masih berada dizaman kolonial.

“Berbicara seorang perempuan, perempuan diasumsikan hanya boleh bergerak diruang domestik, tidak boleh diruang publik. Ruang publik hanya bisa diisi oleh laki-laki saja sementara perempuan tidak boleh inilah yang masih terjadi diskriminasi gender,” kata Yui.

Dikatakan Yui, kalau berbicara soal pemimpin artinya mau dia perempuan ataupun laki-laki tidak mendiskreditkan jenis kelaminnya atau diskriminasi gender apapun yang dilihat adalah kualitas atau kompetennya.

“Makanya kita sampaikan ke publik agar publik bisa memahami secara dasar bahwa perempuan mempunyai akses yang sama untuk menjadi pemimpin,” tutur Yui. (ANA)

Berita Terkait

Kunjungan Kerja Pansus Perkebunan DPRD Provinsi Sumatera Selatan ke Satgas PKH di Jakarta
Kunjungan Kerja Pansus Perkebunan DPRD Provinsi Sumatera Selatan ke BPK RI
Komisi I DPRD Sumsel Diterima Bupati OKU Timur, Bapak Ir H Lanosin, ST.,MT., MM dalam Kunjungan Kerja Koordinasi Pemerintahan Daerah di OKU Timur
KOMISI III DPRD SUMSEL PELAJARI STRATEGI OPTIMALISASI PAD DAN PENGELOLAAN FISKAL DI DPRD DIY
Perjuangan Masyarakat Banyuasin Berbuah Hasil, Komisi II DPR RI Desak Pencabutan HGU PT Melania Indonesia
Rapat Paripurna DPRD Provinsi Sumatera Selatan Dalam Rangka Peringatan Hari Jadi Ke-80 Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2026
Ketua DPRD Provinsi Sumsel Hadiri Panen Raya Jagung Serentak di OKU Selatan
Ketua DPRD Sumsel dan Unsur Buruh Audiensi ke Kemenaker RI dan DPR RI Jakarta, 12–13 Mei 2026

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 20:38 WIB

Kunjungan Kerja Pansus Perkebunan DPRD Provinsi Sumatera Selatan ke Satgas PKH di Jakarta

Senin, 25 Mei 2026 - 19:24 WIB

Kunjungan Kerja Pansus Perkebunan DPRD Provinsi Sumatera Selatan ke BPK RI

Senin, 25 Mei 2026 - 18:45 WIB

Komisi I DPRD Sumsel Diterima Bupati OKU Timur, Bapak Ir H Lanosin, ST.,MT., MM dalam Kunjungan Kerja Koordinasi Pemerintahan Daerah di OKU Timur

Kamis, 21 Mei 2026 - 18:16 WIB

KOMISI III DPRD SUMSEL PELAJARI STRATEGI OPTIMALISASI PAD DAN PENGELOLAAN FISKAL DI DPRD DIY

Selasa, 19 Mei 2026 - 20:36 WIB

Perjuangan Masyarakat Banyuasin Berbuah Hasil, Komisi II DPR RI Desak Pencabutan HGU PT Melania Indonesia

Berita Terbaru