Ahli Mikrobiologi : Akhiri Pandemi Covid-19 dengan Vaksin

- Redaksi

Sabtu, 10 Juli 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dengan vaksinasi akan membentuk herd immunity untuk melawan virus Corona.

Dengan vaksinasi akan membentuk herd immunity untuk melawan virus Corona.

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Untuk mengakhiri Pandemi Covid-19 yang menyerang dalam dua tahun terakhir, adalah dengan syarat harus vaksin. Pasalnya, tiga bulan pasca divaksin pertama, maka orang tersebut akan terbentuk antibodi dan antibodi sempurna.

“Jika antibodi sudah sempurna maka kemungkinan terinfeksi hanya di bawah 2 persen. Artinya terpapar Covid-19 peluangnya akan kecil. Tapi saya peringatkan dalam waktu tiga bulan harus tetap hati-hati,” ujar Ahli Mikrobiologi Sumsel, Yuwono, M. Biomed, Sabtu (10/7/2021).

Menurut dia, jika vaksin sudah tercapai sebesar 40 persen maka akan terbentuk herd immunity atau imunitas kelompok yang akan melindungi yang lain.

Oleh sebab itu, melalui program serbuan 1 Juta Vaksin, diharapkan 75 hari dari sekarang kita akan sampai pada kondisi herd immunity, dan itu adalah tujuan besar kita semua.

“Ayo seluruh masyarakat untuk meningkatkan imunitas dengan cukup makan, cukup gerak, dan pikiran yang positif,” katanya.

Ia menyarankan, seseorang yang miliki penyakit bawaan tidak perlu dilakukan vaksin. Sebab orang yang miliki komorbid atau penyakit penyerta jika divaksin akan tidak berguna. Bahkan orang tersebut bisa masuk ICU.

“Kesimpulan kami cuma satu, orang yang punya penyakit jangan divaksin. Titik,” katanya.

Yuwono mengaku, sering mendapat laporan, orang yang memiliki penyakit diberikan vaksin. Setelah divaksin orang tersebut berbahaya bahkan bisa masuk ICU. “Ilmu itu harus digali, jangan cuma kata WHO,” ucap dia.

Menurut dia, vaksin itu hukumnya wajib bagi yang tidak memiliki riwayat sakit. Sedangkan bagi orang yang memiliki penyakit maka vaksin hukumnya tidak wajib.

“Misal orang punya penyakit darah tinggi, kencing manis dan lain lain, vaksin itu tidak akan bekerja dengan baik di dalam tubuhnya,” katanya.

Prof Yuwono menjelaskan, cukup 40 sampai 67 persen saja orang yang divaksin. Sebab untuk memproses vaksin dibutuhkan tubuh yang sehat tanpa penyakit. “33 persen sisanya tak perlu divaksin,” terangnya. (Nat)

Berita Terkait

Kasus Super Flu Masuk di Sumsel, 5 Orang Terjangkit
Kasus Bocah SD Lebam di Kedua Matanya, Ini Tanggapan Dokter Spesialis di Palembang
88 Persen Siswa SD di Palembang Alami Gigi Berlubang dan Penumpukan Kotoran Telinga
Imbas Siswa Keracunan, MBG di SDN 178 Palembang Distop Sementara
Antisipasi Kenaikan Kasus DBD, Dinkes Segera Sebar Larvasida
Bocah Kelamin Ganda Segera Dioperasi, Orangtua: Semoga Berjalan Lancar
Bayi 10 Bulan Idap Penyakit Hipospedia, Berharap Dapat Bantuan Pemerintah
RSUD Palembang BARI Siapkan Ruang Isolasi Pasien Mpox

Berita Terkait

Senin, 5 Januari 2026 - 20:17 WIB

Kasus Super Flu Masuk di Sumsel, 5 Orang Terjangkit

Selasa, 4 November 2025 - 17:28 WIB

Kasus Bocah SD Lebam di Kedua Matanya, Ini Tanggapan Dokter Spesialis di Palembang

Jumat, 26 September 2025 - 22:38 WIB

88 Persen Siswa SD di Palembang Alami Gigi Berlubang dan Penumpukan Kotoran Telinga

Jumat, 26 September 2025 - 16:13 WIB

Imbas Siswa Keracunan, MBG di SDN 178 Palembang Distop Sementara

Rabu, 20 November 2024 - 16:15 WIB

Antisipasi Kenaikan Kasus DBD, Dinkes Segera Sebar Larvasida

Berita Terbaru

Niat Damai Usai Kecelakaan, WNA Asal Inggris Malah Diduga Dianiaya

Kota Palembang

Niat Damai Usai Kecelakaan, WNA Asal Inggris Malah Diduga Dianiaya

Rabu, 1 Jul 2026 - 13:44 WIB