Ridwan Kamil Dampingi Wapres RI Resmikan BLK Komunitas dan Bank Wakaf Mikro

- Redaksi

Selasa, 8 Juni 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAPUBLIKID, TASIKMALAYA – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil mendampingi Wakil Presiden (Wapres) RI Ma’ruf Amin meresmikan 1.014 Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas dan Bank Wakaf Mikro (BWM) di Pondok Pesantren Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (8/6/2021).

Wapres RI mengatakan, tujuan dari pembentukan BLK Komunitas adalah mendekatkan akses pelatihan vokasi kepada masyarakat, mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, dan memberikan bekal keterampilan dan kompetensi kerja. Saat ini, sudah berdiri 2.127 BLK Komunitas di Indonesia.

“Saya merasa berbahagia karena pada hari ini  dapat hadir langsung di Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya dalam rangka Rembug Nasional dan Kewirausahaan dan Peresmian BLK Komunitas Tahun 2020, serta Peresmian Bank Wakaf Mikro (BWM),” kata Wapres RI.

“Alhamdulillah, pada tahun 2020, Kementerian Ketenagakerjaan telah membangun 1.014 BLK Komunitas, sehingga sampai dengan akhir tahun 2020, pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan telah berhasil mendirikan 2.127 BLK Komunitas yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia,” imbuhnya.

Wapres RI menambahkan, pelatihan BLK Komunitas dapat mendorong minat masyarakat untuk berwirausaha dan membuka lapangan kerja baru. Dengan begitu, angka pengangguran dapat ditekan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2021, terdapat 19,1 juta penduduk usia tenaga kerja yang terdampak pandemi. Persoalan lainnya yakni pertumbuhan angkatan kerja baru yang cenderung meningkat setiap tahun, serta minimnya penduduk usia angkatan kerja yang siap pakai, atau pernah mengikuti pelatihan kerja. Sehingga menyebabkan terjadinya mismatched skill.

“Di tengah dinamika perkembangan dunia saat ini, peserta pelatihan di BLK Komunitas harus mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kecakapan akan hal ini nantinya akan berperan dalam menentukan kemajuan bangsa,” ucapnya.

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan, seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia, terdampak pandemi COVID-19. Oleh karena itu, butuh langkah extraordinary yang dilakukan oleh pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional. Salah satunya di sektor ketenagakerjaan.

Menurut Ida, berbagai langkah mitigasi yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka penanganan pandemi serta upaya pemulihan ekonomi nasional mulai mendapatkan hasil yang positif.

Kementerian Ketenagakerjaan pun terus bekerja keras memulihkan sektor ketenagakerjaan. Salah satu upayanya yakni mengembangkan kompetensi calon tenaga kerja dan perluasan kesempatan kerja melalui BLK Komunitas. Selain itu, Kementerian Ketenagakerjaan  mengembangkan program pelatihan vokasi menjadi 23 kejuruan.

“BLK Komunitas merupakan salah satu program terobosan pemerintah untuk memperluas akses pelatihan vokasi bagi masyarakat, khususnya di komunitas lembaga keagamaan, lembaga pendidikan agama, dan serikat pekerja,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan, program BLK komunitas sangat penting. Karena lewat BLK Komunitas ini diharapkan bisa membuat SDM di Jabar berdaya saing.

“Inilah yang menunjukkan bahwa apa yang diacarakan oleh Ibu Menteri Ketenagakerjaan (Ida Fauziyah) sangat penting agar Jawa Barat selalu berdaya saing dalam SDM-nya sebagai kunci menyambut ekonomi yang luar biasa,” ucap Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil.

Kang Emil pun berharap dengan adanya BLK Komunitas, angka pengangguran di Jabar bisa terus berkurang.

“Semoga bertambahnya BLK Komunitas dapat mengurangi tingkat pengangguran,” ucapnya.

Sedangkan, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, pihaknya sangat mendukung program vokasi dan kewirausahaan dalam pengembangan kualitas pelatihan dan penyamaan standar pelatihan bagi generasi muda.

Wimboh menuturkan, pihaknya akan terus mendorong industri keuangan untuk dapat menjalin kerja sama dan bersinergi dengan program pelatihan yang dinaungi oleh BLK ini.

“Kami menyambut baik atas peresmian BLK ini tentunya adalah sinergi yang bagus antara program Bank Wakaf Mikro pembinaan umat dan juga nanti ini adalah pelatihan para generasi muda,” kata Wimboh.

Berikut ini 23 kejuruan program pelatihan vokasi yang dikembangkan Kementerian Ketenagakerjaan:

  • Teknik Otomotif.
  • Teknik Pendingin (Refrigerasi).
  • Teknik Las (Welding).
  • Teknik Konstruksi  Furniture dan Kriya Kayu (Woodworking).
  • Teknik Perkapalan.
  • Instalasi Infrastruktur Telekomunikasi.
  • Elektronika.
  • Teknik Informatika.
  • Robotika.
  • Multimedia.
  • Desain Komunikasi Visual.
  • Pengolahan Hasil Pertanian (Agroindustri).
  • Pengolahan Hasil Perikanan (Fishery Industry).
  • Kesenian.
  • Seni Kriya (Kerajinan Tangan).
  • Teknik Batik.
  • Desain Mode dan Tekstil (Tata Busana).
  • Tata Rias.
  • Bahasa.
  • Perhotelan.
  • Kesehatan Tradisional.
  • Seni Kuliner.
  • Hubungan Industrial.

Berita Terkait

Pimpin Apel Gelar Pasukan Karhutla, Bupati PALI Asgianto Tegaskan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau
Bupati PALI Asgianto Hadiri Sidang Tahunan MPR RI, Siap Sinkronkan Program Pembangunan dengan Arahan Presiden
Gubernur Sumsel Resmikan Rumah Baghi, Rumah Adat Pagar Alam Pusat Konsultasi Hukum
Sinegritas untuk Kemajuan! Sidang Paripurna DPRD Warnai HUT Ke-25 Kota Pagar Alam
Bank Indonesia Perkuat Literasi Ekonomi Syariah melalui ToT Content Creator, ToT Dai-Daiyah, Sertifikasi Nazhir, dan Kompetisi Modest Fashion FESyar Sumatera 2026
Start HUT Pagar Alam Ke-XXV,Ratusan UMKM Pagar Alam Siap Ramaikan Besemah Expo ke-22
FESyar Sumatera 2026, Perkuat Sinergi dan Transformasi Digital untuk Akselerasi Ekonomi Syariah Regional
Berangkat Bareng ke Tanah Suci, Walikota Pagar Alam Berikan Fasilitas Transportasi Untuk CJH

Berita Terbaru

Sumsel

Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari Pancasila merupakan dasar negara sekaligus pedoman bagi masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tidak hanya dipelajari di sekolah, tetapi juga harus diterapkan melalui tindakan nyata. Menurut saya, penerapan Pancasila dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Jika nilai-nilai tersebut diterapkan dengan baik, kehidupan akan menjadi lebih aman, rukun, dan saling menghargai. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajarkan saya untuk percaya kepada Tuhan dan menghormati orang lain yang memiliki agama atau kepercayaan yang berbeda. Contohnya, ketika melihat teman sedang beribadah, saya tidak mengganggunya dan tetap menghormati keyakinannya. Saya harus melakukan hal tersebut karena setiap orang memiliki hak untuk menjalankan agamanya. Dampak positifnya adalah terciptanya toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Sebaliknya, jika saya tidak menghargai perbedaan agama, dapat muncul pertengkaran, kebencian, dan perpecahan. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan saya untuk memperlakukan orang lain dengan baik dan tidak membeda-bedakan. Misalnya, ketika melihat teman kesulitan membawa barang, saya membantu tanpa memandang latar belakangnya. Saya harus membantunya karena setiap manusia perlu saling menghargai dan memiliki rasa kepedulian. Dampak positifnya adalah tumbuhnya rasa solidaritas dan persaudaraan. Jika saya tidak menerapkannya, saya dapat menjadi pribadi yang tidak peduli terhadap kesulitan orang lain sehingga lingkungan sosial menjadi kurang harmonis. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, mengajarkan saya untuk menjaga persatuan walaupun memiliki berbagai perbedaan. Contohnya, ketika bekerja dalam kelompok di sekolah, saya mau bekerja sama dengan semua teman dan tidak memilih-milih berdasarkan suku, daerah, atau perbedaan lainnya. Dampak positifnya adalah pekerjaan menjadi lebih mudah dan hubungan pertemanan semakin kuat. Jika saya hanya mementingkan diri sendiri dan tidak mau bekerja sama, dapat terjadi perselisihan, perpecahan, dan hilangnya rasa persatuan. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, mengajarkan saya untuk menyelesaikan masalah melalui musyawarah. Contohnya, ketika kelompok saya memiliki perbedaan pendapat dalam menentukan tugas, saya mendengarkan pendapat teman dan ikut mencari keputusan yang disepakati bersama. Dampak positifnya adalah keputusan menjadi lebih adil dan setiap orang merasa dihargai. Jika saya memaksakan pendapat sendiri dan tidak mau mendengarkan orang lain, dapat terjadi konflik dan hubungan dengan teman menjadi tidak baik. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mengajarkan saya untuk bersikap adil dan tidak mengambil hak orang lain. Contohnya, ketika mendapatkan tugas kelompok, saya mengerjakan bagian saya dengan sungguh-sungguh dan tidak membiarkan semua pekerjaan dilakukan oleh teman. Saya harus melakukannya karena setiap anggota memiliki tanggung jawab yang sama. Dampak positifnya adalah terciptanya keadilan, tanggung jawab, dan kerja sama. Jika saya tidak menerapkannya, teman dapat merasa dirugikan dan muncul rasa tidak percaya kepada saya. Dengan demikian, Pancasila memiliki peranan penting dalam kehidupan saya sehari-hari. Setiap sila mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, peduli, toleran, adil, dan menghargai orang lain. Jika saya terus menerapkan nilai-nilai Pancasila mulai dari hal-hal kecil, saya dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Sebaliknya, jika nilai-nilai tersebut diabaikan, berbagai masalah seperti konflik, perpecahan, ketidakadilan, dan kurangnya kepedulian dapat terjadi. Oleh karena itu, saya harus berusaha mengamalkan Pancasila bukan hanya dalam perkataan, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 21:04 WIB

Pimpin Apel Gelar Pasukan Karhutla, Bupati PALI Asgianto Tegaskan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau

Jumat, 14 Agustus 2026 - 19:38 WIB

Bupati PALI Asgianto Hadiri Sidang Tahunan MPR RI, Siap Sinkronkan Program Pembangunan dengan Arahan Presiden

Selasa, 23 Juni 2026 - 19:59 WIB

Gubernur Sumsel Resmikan Rumah Baghi, Rumah Adat Pagar Alam Pusat Konsultasi Hukum

Selasa, 23 Juni 2026 - 15:37 WIB

Sinegritas untuk Kemajuan! Sidang Paripurna DPRD Warnai HUT Ke-25 Kota Pagar Alam

Senin, 8 Juni 2026 - 13:42 WIB

Bank Indonesia Perkuat Literasi Ekonomi Syariah melalui ToT Content Creator, ToT Dai-Daiyah, Sertifikasi Nazhir, dan Kompetisi Modest Fashion FESyar Sumatera 2026

Berita Terbaru

Sumsel

Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari Pancasila merupakan dasar negara sekaligus pedoman bagi masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tidak hanya dipelajari di sekolah, tetapi juga harus diterapkan melalui tindakan nyata. Menurut saya, penerapan Pancasila dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Jika nilai-nilai tersebut diterapkan dengan baik, kehidupan akan menjadi lebih aman, rukun, dan saling menghargai. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajarkan saya untuk percaya kepada Tuhan dan menghormati orang lain yang memiliki agama atau kepercayaan yang berbeda. Contohnya, ketika melihat teman sedang beribadah, saya tidak mengganggunya dan tetap menghormati keyakinannya. Saya harus melakukan hal tersebut karena setiap orang memiliki hak untuk menjalankan agamanya. Dampak positifnya adalah terciptanya toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Sebaliknya, jika saya tidak menghargai perbedaan agama, dapat muncul pertengkaran, kebencian, dan perpecahan. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan saya untuk memperlakukan orang lain dengan baik dan tidak membeda-bedakan. Misalnya, ketika melihat teman kesulitan membawa barang, saya membantu tanpa memandang latar belakangnya. Saya harus membantunya karena setiap manusia perlu saling menghargai dan memiliki rasa kepedulian. Dampak positifnya adalah tumbuhnya rasa solidaritas dan persaudaraan. Jika saya tidak menerapkannya, saya dapat menjadi pribadi yang tidak peduli terhadap kesulitan orang lain sehingga lingkungan sosial menjadi kurang harmonis. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, mengajarkan saya untuk menjaga persatuan walaupun memiliki berbagai perbedaan. Contohnya, ketika bekerja dalam kelompok di sekolah, saya mau bekerja sama dengan semua teman dan tidak memilih-milih berdasarkan suku, daerah, atau perbedaan lainnya. Dampak positifnya adalah pekerjaan menjadi lebih mudah dan hubungan pertemanan semakin kuat. Jika saya hanya mementingkan diri sendiri dan tidak mau bekerja sama, dapat terjadi perselisihan, perpecahan, dan hilangnya rasa persatuan. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, mengajarkan saya untuk menyelesaikan masalah melalui musyawarah. Contohnya, ketika kelompok saya memiliki perbedaan pendapat dalam menentukan tugas, saya mendengarkan pendapat teman dan ikut mencari keputusan yang disepakati bersama. Dampak positifnya adalah keputusan menjadi lebih adil dan setiap orang merasa dihargai. Jika saya memaksakan pendapat sendiri dan tidak mau mendengarkan orang lain, dapat terjadi konflik dan hubungan dengan teman menjadi tidak baik. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mengajarkan saya untuk bersikap adil dan tidak mengambil hak orang lain. Contohnya, ketika mendapatkan tugas kelompok, saya mengerjakan bagian saya dengan sungguh-sungguh dan tidak membiarkan semua pekerjaan dilakukan oleh teman. Saya harus melakukannya karena setiap anggota memiliki tanggung jawab yang sama. Dampak positifnya adalah terciptanya keadilan, tanggung jawab, dan kerja sama. Jika saya tidak menerapkannya, teman dapat merasa dirugikan dan muncul rasa tidak percaya kepada saya. Dengan demikian, Pancasila memiliki peranan penting dalam kehidupan saya sehari-hari. Setiap sila mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, peduli, toleran, adil, dan menghargai orang lain. Jika saya terus menerapkan nilai-nilai Pancasila mulai dari hal-hal kecil, saya dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Sebaliknya, jika nilai-nilai tersebut diabaikan, berbagai masalah seperti konflik, perpecahan, ketidakadilan, dan kurangnya kepedulian dapat terjadi. Oleh karena itu, saya harus berusaha mengamalkan Pancasila bukan hanya dalam perkataan, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Selasa, 25 Agu 2026 - 22:39 WIB

Sumsel

Menerapkan Sila-Sila Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Selasa, 25 Agu 2026 - 22:36 WIB

Sumsel

Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Selasa, 25 Agu 2026 - 22:27 WIB