Ridwan Kamil Ajak Ikatan Alumni Sekolah Jadi Panitia Vaksinasi COVID-19

- Redaksi

Sabtu, 7 Agustus 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAPUBLIKID, BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengajak ikatan alumni sekolah maupun perguruan tinggi untuk menjadi panitia penyelenggara kegiatan vaksinasi COVID-19. Jabar kekurangan panitia dalam mengejar target vaksinasi selesai Desember 2021

Demikian dikatakan Ridwan Kamil usai meninjau vaksinasi massal di Gedung Bale Rame Soreang dan SMAN 3 Bandung, Sabtu (7/6/2021).

“Vaksin ada di kami tapi kami kekurangan kepanitiaan untuk memobilisasi warga karena itu saya mencari ikatan alumni sekolah untuk menjadi panitia vaksinasi”, ujar Ridwan Kamil.

Kang Emil, demikian dirinya kerap disapa mengajak ikatan alumni yang ingin menjadi panitia kegiatan vaksinasi agar berkoordinasi dengan divisi khusus percepatan vaksinasi Jabar. Mengenai teknis pelaksanaanya dapat mengikuti cara yang sudah dilakukan oleh ikatan alumni SMAN 3 Bandung dan Universitas Padjadjaran.

“Bagi ikatan alumni SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi yang akan bergabung agar mengikuti keteladanan yang diperlihatkan oleh IKA Unpad dan SMAN 3 dengan secepat-cepatnya dan seluas-luasnya,” katanya.

Seperti diketahui, target vaksinasi per hari di Jabar kini sudah ditingkatkan menjadi 500.000 orang per hari. Ini meningkat tajam dari target sebelumnya yaitu 150.000, bahkan tiga bulan lalu hanya 50.000 orang.

Menurut Kang Emil, peningkatan target harian vaksinasi ini mengingat jumlah penduduk Jabar paling besar se-Indonesia mendekati 50 juta jiwa. Jika kecepatan vaksinasi tidak ditingkatkan maka target kekebalan kelompok 37 juta jiwa pada Desember 2021 akan sulit dicapai.

“Jabar vaksinasi per harinya sudah melompat. Tiga bulan lalu per hari hanya 50 ribu sekarang 150 ribu. Tapi karena penduduk kita 50 juta jiwa dan yang harus disuntiknya 37 juta jiwa maka tantangan Jabar harus menyuntikkan 500 ribu orang perhari,” jelasnya.

Adapun dosis vaksin yang dibutuhkan untuk mengejar 500.000 tersebut adalah 15 juta dosis per bulan. Kang Emil pun makin intens berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk menjamin jumlah dosis tersebut.

“Jadi kita butuh 15 juta dosis vaksin per bulan dan kita sudah minta agar dipenuhi oleh pusat,” ujar Kang Emil.

Selain untuk masyarakat umum, vaksinasi di Jabar juga menyasar disabilitas. Pemda Provinsi Jabar sudah mendapatkan hibah 120.000 dosis vaksin dari pemerintah pusat yang dikhususkan bagi kaum disabilitas.

“Kami akan membereskan juga vaksinasi untuk disabilitas sudah ada 120 ribu dosis hibah dari pusat untuk sekitar 60 ribu orang,” ucapnya.

Kang Emil pun memastikan sudah ada 30.000 disabilitas di Jabar di atas umur 18 tahun yang telah siap divaksin. Namun pihaknya akan memperluas cakupan vaksinasi bagi kaum disabilitas untuk rentang umur 12-17 tahun.

“Kalau jatah vaksin masih ada maka barengan saja dengan keluarganya sekalian sehingga kita bisa mempercepat vaksinasi,” tutur Kang Emil.

Dari hasil pantauannya, tingkat vaksinasi berbanding lurus dengan angka kematian akibat COVID-19. Kang Emil menyebut, Kota Bandung dan Kota Cirebon yang tingkat vaksinasinya tinggi angka kematiannya rendah.

“Dengan vaksinasi angka kematian menjadi rendah seperti di Kota Bandung dan Kota Cirebon. Saya minta Kabupaten Bandung vaksinasinya agar ditingkatkan karena dari catatan kami baru 12 persen,” ungkapnya.

BOR Turun Lagi

DALAM kesempatan yang sama, Gubernur Ridwan Kamil menyampaikan kabar baik bahwa per hari ini tingkat keterisian rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) sudah turun lagi di angka 45 persen.

Angka BOR ini sudah di bawah batas aman yang ditentukan WHO yakni 60 persen. “Berita baiknya BOR Jabar sudah turun lagi sekarang 45 persen sudah di bawah batas aman WHO 60 persen,” sebutnya.

Selain itu, ketersediaan oksigen di Jabar juga sudah terkendali terlihat dari cadangan yang kini cukup melimpah. Menurut Kang Emil, dua hal itu karena kebijakan PPKM berhasil menurunkan tingkat epidemiologi.

“PPKM bisa dikatakan berhasil menurunkan tingkat epidemologi,” ucapnya.

Selain menggenjot vaksinasi, pihaknya juga bertahap akan memulihkan ekonomi warga. Kang Emil mengaku sudah melobi Pemerintah Pusat agar melonggarkan kegiatan ekonomi warga.

“Senin, Pak Presiden akan mengumumkan. Kemungkinan ada kelonggaran-kelonggaran dan saya sudah sampaikan mohon restoran kafe dibuka mau 10 persen 20 persen 50 persen sudah kami perjuangkan dengan melobi pemerintah pusat sehingga ekonomi bisa jalan lebih baik lagi,” tutup Kang Emil. (ADV)

Berita Terkait

Pimpin Apel Gelar Pasukan Karhutla, Bupati PALI Asgianto Tegaskan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau
Bupati PALI Asgianto Hadiri Sidang Tahunan MPR RI, Siap Sinkronkan Program Pembangunan dengan Arahan Presiden
Gubernur Sumsel Resmikan Rumah Baghi, Rumah Adat Pagar Alam Pusat Konsultasi Hukum
Sinegritas untuk Kemajuan! Sidang Paripurna DPRD Warnai HUT Ke-25 Kota Pagar Alam
Bank Indonesia Perkuat Literasi Ekonomi Syariah melalui ToT Content Creator, ToT Dai-Daiyah, Sertifikasi Nazhir, dan Kompetisi Modest Fashion FESyar Sumatera 2026
Start HUT Pagar Alam Ke-XXV,Ratusan UMKM Pagar Alam Siap Ramaikan Besemah Expo ke-22
FESyar Sumatera 2026, Perkuat Sinergi dan Transformasi Digital untuk Akselerasi Ekonomi Syariah Regional
Berangkat Bareng ke Tanah Suci, Walikota Pagar Alam Berikan Fasilitas Transportasi Untuk CJH

Berita Terbaru

Sumsel

Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari Pancasila merupakan dasar negara sekaligus pedoman bagi masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tidak hanya dipelajari di sekolah, tetapi juga harus diterapkan melalui tindakan nyata. Menurut saya, penerapan Pancasila dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Jika nilai-nilai tersebut diterapkan dengan baik, kehidupan akan menjadi lebih aman, rukun, dan saling menghargai. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajarkan saya untuk percaya kepada Tuhan dan menghormati orang lain yang memiliki agama atau kepercayaan yang berbeda. Contohnya, ketika melihat teman sedang beribadah, saya tidak mengganggunya dan tetap menghormati keyakinannya. Saya harus melakukan hal tersebut karena setiap orang memiliki hak untuk menjalankan agamanya. Dampak positifnya adalah terciptanya toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Sebaliknya, jika saya tidak menghargai perbedaan agama, dapat muncul pertengkaran, kebencian, dan perpecahan. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan saya untuk memperlakukan orang lain dengan baik dan tidak membeda-bedakan. Misalnya, ketika melihat teman kesulitan membawa barang, saya membantu tanpa memandang latar belakangnya. Saya harus membantunya karena setiap manusia perlu saling menghargai dan memiliki rasa kepedulian. Dampak positifnya adalah tumbuhnya rasa solidaritas dan persaudaraan. Jika saya tidak menerapkannya, saya dapat menjadi pribadi yang tidak peduli terhadap kesulitan orang lain sehingga lingkungan sosial menjadi kurang harmonis. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, mengajarkan saya untuk menjaga persatuan walaupun memiliki berbagai perbedaan. Contohnya, ketika bekerja dalam kelompok di sekolah, saya mau bekerja sama dengan semua teman dan tidak memilih-milih berdasarkan suku, daerah, atau perbedaan lainnya. Dampak positifnya adalah pekerjaan menjadi lebih mudah dan hubungan pertemanan semakin kuat. Jika saya hanya mementingkan diri sendiri dan tidak mau bekerja sama, dapat terjadi perselisihan, perpecahan, dan hilangnya rasa persatuan. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, mengajarkan saya untuk menyelesaikan masalah melalui musyawarah. Contohnya, ketika kelompok saya memiliki perbedaan pendapat dalam menentukan tugas, saya mendengarkan pendapat teman dan ikut mencari keputusan yang disepakati bersama. Dampak positifnya adalah keputusan menjadi lebih adil dan setiap orang merasa dihargai. Jika saya memaksakan pendapat sendiri dan tidak mau mendengarkan orang lain, dapat terjadi konflik dan hubungan dengan teman menjadi tidak baik. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mengajarkan saya untuk bersikap adil dan tidak mengambil hak orang lain. Contohnya, ketika mendapatkan tugas kelompok, saya mengerjakan bagian saya dengan sungguh-sungguh dan tidak membiarkan semua pekerjaan dilakukan oleh teman. Saya harus melakukannya karena setiap anggota memiliki tanggung jawab yang sama. Dampak positifnya adalah terciptanya keadilan, tanggung jawab, dan kerja sama. Jika saya tidak menerapkannya, teman dapat merasa dirugikan dan muncul rasa tidak percaya kepada saya. Dengan demikian, Pancasila memiliki peranan penting dalam kehidupan saya sehari-hari. Setiap sila mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, peduli, toleran, adil, dan menghargai orang lain. Jika saya terus menerapkan nilai-nilai Pancasila mulai dari hal-hal kecil, saya dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Sebaliknya, jika nilai-nilai tersebut diabaikan, berbagai masalah seperti konflik, perpecahan, ketidakadilan, dan kurangnya kepedulian dapat terjadi. Oleh karena itu, saya harus berusaha mengamalkan Pancasila bukan hanya dalam perkataan, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 21:04 WIB

Pimpin Apel Gelar Pasukan Karhutla, Bupati PALI Asgianto Tegaskan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau

Jumat, 14 Agustus 2026 - 19:38 WIB

Bupati PALI Asgianto Hadiri Sidang Tahunan MPR RI, Siap Sinkronkan Program Pembangunan dengan Arahan Presiden

Selasa, 23 Juni 2026 - 19:59 WIB

Gubernur Sumsel Resmikan Rumah Baghi, Rumah Adat Pagar Alam Pusat Konsultasi Hukum

Selasa, 23 Juni 2026 - 15:37 WIB

Sinegritas untuk Kemajuan! Sidang Paripurna DPRD Warnai HUT Ke-25 Kota Pagar Alam

Senin, 8 Juni 2026 - 13:42 WIB

Bank Indonesia Perkuat Literasi Ekonomi Syariah melalui ToT Content Creator, ToT Dai-Daiyah, Sertifikasi Nazhir, dan Kompetisi Modest Fashion FESyar Sumatera 2026

Berita Terbaru

Sumsel

Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari Pancasila merupakan dasar negara sekaligus pedoman bagi masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tidak hanya dipelajari di sekolah, tetapi juga harus diterapkan melalui tindakan nyata. Menurut saya, penerapan Pancasila dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Jika nilai-nilai tersebut diterapkan dengan baik, kehidupan akan menjadi lebih aman, rukun, dan saling menghargai. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajarkan saya untuk percaya kepada Tuhan dan menghormati orang lain yang memiliki agama atau kepercayaan yang berbeda. Contohnya, ketika melihat teman sedang beribadah, saya tidak mengganggunya dan tetap menghormati keyakinannya. Saya harus melakukan hal tersebut karena setiap orang memiliki hak untuk menjalankan agamanya. Dampak positifnya adalah terciptanya toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Sebaliknya, jika saya tidak menghargai perbedaan agama, dapat muncul pertengkaran, kebencian, dan perpecahan. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan saya untuk memperlakukan orang lain dengan baik dan tidak membeda-bedakan. Misalnya, ketika melihat teman kesulitan membawa barang, saya membantu tanpa memandang latar belakangnya. Saya harus membantunya karena setiap manusia perlu saling menghargai dan memiliki rasa kepedulian. Dampak positifnya adalah tumbuhnya rasa solidaritas dan persaudaraan. Jika saya tidak menerapkannya, saya dapat menjadi pribadi yang tidak peduli terhadap kesulitan orang lain sehingga lingkungan sosial menjadi kurang harmonis. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, mengajarkan saya untuk menjaga persatuan walaupun memiliki berbagai perbedaan. Contohnya, ketika bekerja dalam kelompok di sekolah, saya mau bekerja sama dengan semua teman dan tidak memilih-milih berdasarkan suku, daerah, atau perbedaan lainnya. Dampak positifnya adalah pekerjaan menjadi lebih mudah dan hubungan pertemanan semakin kuat. Jika saya hanya mementingkan diri sendiri dan tidak mau bekerja sama, dapat terjadi perselisihan, perpecahan, dan hilangnya rasa persatuan. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, mengajarkan saya untuk menyelesaikan masalah melalui musyawarah. Contohnya, ketika kelompok saya memiliki perbedaan pendapat dalam menentukan tugas, saya mendengarkan pendapat teman dan ikut mencari keputusan yang disepakati bersama. Dampak positifnya adalah keputusan menjadi lebih adil dan setiap orang merasa dihargai. Jika saya memaksakan pendapat sendiri dan tidak mau mendengarkan orang lain, dapat terjadi konflik dan hubungan dengan teman menjadi tidak baik. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mengajarkan saya untuk bersikap adil dan tidak mengambil hak orang lain. Contohnya, ketika mendapatkan tugas kelompok, saya mengerjakan bagian saya dengan sungguh-sungguh dan tidak membiarkan semua pekerjaan dilakukan oleh teman. Saya harus melakukannya karena setiap anggota memiliki tanggung jawab yang sama. Dampak positifnya adalah terciptanya keadilan, tanggung jawab, dan kerja sama. Jika saya tidak menerapkannya, teman dapat merasa dirugikan dan muncul rasa tidak percaya kepada saya. Dengan demikian, Pancasila memiliki peranan penting dalam kehidupan saya sehari-hari. Setiap sila mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, peduli, toleran, adil, dan menghargai orang lain. Jika saya terus menerapkan nilai-nilai Pancasila mulai dari hal-hal kecil, saya dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Sebaliknya, jika nilai-nilai tersebut diabaikan, berbagai masalah seperti konflik, perpecahan, ketidakadilan, dan kurangnya kepedulian dapat terjadi. Oleh karena itu, saya harus berusaha mengamalkan Pancasila bukan hanya dalam perkataan, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Selasa, 25 Agu 2026 - 22:39 WIB

Sumsel

Menerapkan Sila-Sila Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Selasa, 25 Agu 2026 - 22:36 WIB

Sumsel

Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Selasa, 25 Agu 2026 - 22:27 WIB