SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Tradisi lomba perahu bidar yang menjadi ikon budaya Palembang terancam redup akibat minimnya dukungan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir membuat perawatan dan pelestarian bidar kian sulit dilakukan oleh para pemiliknya.
Salah satu perajin sekaligus pemilik Perahu Bidar di kawasan 35 Ilir, Encik Muhammad Alauddin Saka Gerhan yang akrab disapa Jaka menyebut bantuan untuk perawatan bidar terakhir kali diterima sekitar lima hingga enam tahun lalu sebelum akhirnya dihentikan karena terkendala aturan.
“Dulu memang ada bantuan sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta untuk setiap perahu bidar. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi,” ujar saat dibincangi langsung, Senin (4/8/2025).
Jaka menjelaskan biaya perawatan dan pembuatan untuk satu buah perahu bidar tidaklah murah.
“Untuk membuat satu unit bidar, dibutuhkan dana sekitar Rp65 juta hingga Rp70 juta, belum termasuk biaya perlengkapan seperti dayung dan pondok (rumahan) bidar yang bisa menambah hingga total Rp90 juta lebih,” jelasnya.
Selain itu, hal ini diperparah oleh sulitnya mendapatkan jenis kayu panjang yang digunakan, yang kini kian langka dan mahal.
“Kalau bukan karena hobi yang sudah turun-temurun dari nenek moyang, mungkin kami sudah berhenti sejak lama,” imbuhnya.
Saat ini jumlah perahu bidar di Palembang kian menyusut, dari yang dulunya mencapai 25 unit pada awal 2000-an, kini hanya tersisa sekitar 10 unit dengan sebagian besar eksistensinya kini beralih ke wilayah Ogan Ilir (OI) dan Ogan Komering Ilir (OKI).
Ia berharap kepada Pemerintah khususnya Pemerintah Kota Palembang agar kembali memberikan perhatian serius terhadap pelestarian bidar, terlebih lomba bidar setiap 17 Agustus menjadi daya tarik tersendiri bagi warga lokal dan pengunjung dari berbagai daerah.
“Semoga ke depan lomba bidar tidak hanya digelar saat peringatan Hari Kemerdekaan, tapi juga diadakan lebih rutin agar bisa melahirkan bibit-bibit baru dan menjaga semangat tradisi ini,” ungkap dia.

















