Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Pribadi

- Redaksi

Jumat, 7 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nama : Feby Shafira

Nim    : PO7124226028

Prodi  : D4 Bidan

 

Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Pribadi

 

Menurut saya, penerapan Pancasila dimulai dari diri sendiri. Saya memang belum sempurna, tetapi saya selalu berusaha menerapkan setiap sila dalam kehidupan sehari-hari karena saya percaya kebiasaan kecil akan membentuk karakter saya di masa depan.

 

Bagi saya, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa adalah sila yang paling dekat dengan kehidupan saya. Saya terbiasa salat tepat waktu, menjalankan puasa sunnah selain bulan Ramadan, mengaji setelah salat Magrib, serta selalu berdoa sebelum perkuliahan dimulai dan mengucapkan Alhamdulillah setelah mata kuliah selesai. Kebiasaan itu membuat saya lebih tenang ketika menghadapi kegagalan. Contohnya saat saya tidak lolos SNBP. Tentu saya sedih, tetapi saya tetap percaya bahwa Allah SWT sudah menyiapkan jalan terbaik hingga akhirnya saya diterima di Poltekkes Kemenkes Palembang.

 

Bahkan ketika saya dinyatakan lolos SNBT, saya tetap memilih Poltekkes karena saya yakin itu adalah jalan yang Allah pilih untuk saya. Kalau saya tidak memiliki keyakinan tersebut, mungkin saya akan terus menyalahkan keadaan, kehilangan semangat, bahkan tidak bisa menerima kegagalan dengan ikhlas.

 

Dalam sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, saya lebih memilih membantu tanpa harus diminta. Misalnya, ketika teman tidak membawa uang tunai, saya langsung menawarkan untuk meminjamkan uang terlebih dahulu. Di kos juga saya mempersilakan teman menggunakan kompor saya dengan kesepakatan bersama untuk mengisi ulang gas jika habis. Saat ada teman yang sedang sedih atau panik, saya lebih memilih menenangkan mereka terlebih dahulu baru memberikan solusi. Saya melakukan itu karena saya percaya manusia harus memanusiakan manusia. Kalau saya bersikap acuh, mungkin teman-teman akan merasa sungkan kepada saya dan hubungan kami tidak akan seakrab sekarang.

 

Sila ketiga Persatuan Indonesia saya terapkan dengan mudah berteman dengan siapa saja. Sejak SMP saya sudah bertemu teman-teman dari berbagai desa yang memiliki bahasa berbeda. Menurut saya, perbedaan bukan penghalang untuk berteman selama kedua belah pihak sama-sama ingin membangun hubungan yang baik. Saat berdiskusi pun saya lebih sering menjadi pendengar karena saya ingin menghargai pendapat orang lain terlebih dahulu. Kalau saya tidak menerapkannya, mungkin saya akan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru dan mudah terjadi kesalahpahaman hanya karena perbedaan.

 

Pada sila keempat Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, saya belajar bahwa setiap keputusan tidak harus mengikuti pendapat saya. Saat berdiskusi, saya tetap menyampaikan pendapat, tetapi jika hasil akhirnya berbeda, saya menghargai keputusan tersebut selama sudah disepakati bersama. Menurut saya, musyawarah bukan mencari siapa yang paling benar, melainkan mencari keputusan yang terbaik. Jika saya memaksakan pendapat sendiri, teman-teman bisa merasa tidak dihargai dan kerja sama dalam kelompok pun tidak akan berjalan dengan baik.

 

Sila kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia saya mulai dari hal sederhana. Ketika berkumpul bersama Syakira dan Mei, saya tidak ingin hanya fokus mengobrol dengan salah satu dari mereka karena saya ingin keduanya sama-sama merasa dihargai. Saya juga tidak ingin membedakan teman dari kondisi ekonominya. Memang saya pernah merasa kagum melihat teman yang lebih mudah mendapatkan banyak hal, tetapi saya memilih menjadikannya sebagai motivasi agar terus berkembang, bukan untuk iri.

 

Sebagai calon bidan, saya juga ingin memberikan pelayanan yang sama kepada setiap pasien tanpa membedakan suku, daerah, ataupun kondisi ekonomi, dengan tetap mengutamakan tingkat kegawatannya. Kalau saya tidak menerapkan sila ini, tentu akan ada orang yang merasa diperlakukan tidak adil, bahkan bisa kehilangan kepercayaan kepada saya.

 

Saya menyadari bahwa sila kedua dan sila kelima masih menjadi tantangan karena terkadang saya sudah merasa bersikap adil, tetapi belum tentu orang lain merasakan hal yang sama. Oleh karena itu, saya ingin terus belajar agar nilai-nilai Pancasila tidak hanya saya pahami, tetapi juga benar-benar saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswa dan calon bidan.

Berita Terkait

Belajar dan Bertumbuh Bersama Nilai-Nilai Pancasila
Mengenal Diri Dengan Mengamalkan Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-Hari 
Mewujudkan Karakter Berintegritas melalui Nilai-Nilai Pancasila
Pentingnya Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari    
Ahli Ungkap Pemberi dan Penerima Suap Sama-sama Dapat Dipidana, SIRA Dan PST Siapkan Aksi Damai
Aliran Dana Rp8 Miliar Terungkap di Sidang Korupsi KUR BSI OKI, Kuasa Hukum Minta Pihak Lain Ikut Diusut
Esai Diri Berkaitan dengan Nilai-Nilai Pancasila
Satu Minggu Hilang, Seorang Istri Dipergoki Suami Berduaan dengan Pria Lain di Kamar Kos

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 08:03 WIB

Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Pribadi

Kamis, 6 Agustus 2026 - 23:19 WIB

Belajar dan Bertumbuh Bersama Nilai-Nilai Pancasila

Kamis, 6 Agustus 2026 - 23:04 WIB

Mengenal Diri Dengan Mengamalkan Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-Hari 

Kamis, 6 Agustus 2026 - 22:57 WIB

Mewujudkan Karakter Berintegritas melalui Nilai-Nilai Pancasila

Kamis, 6 Agustus 2026 - 22:50 WIB

Pentingnya Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari    

Berita Terbaru

Sumsel

Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Pribadi

Jumat, 7 Agu 2026 - 08:03 WIB

Sumsel

Belajar dan Bertumbuh Bersama Nilai-Nilai Pancasila

Kamis, 6 Agu 2026 - 23:19 WIB

Sumsel

Pentingnya Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari    

Kamis, 6 Agu 2026 - 22:50 WIB