Nama : Mei Widhi Astuti
NIM. : PO7124226004
Prodi : STR Bidan
Pancasila Sebagai Pedoman dalam Perjalanan Hidup Saya
Bagi saya, Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan pedoman yang membentuk cara saya berpikir, mengambil keputusan, dan memandang kehidupan. Nilai-nilai tersebut saya pelajari melalui pendidikan sekaligus pengalaman hidup bersama keluarga. Saya berasal dari keluarga sederhana yang selalu mengajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha. Pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan, tetapi juga oleh karakter yang dibangun melalui nilai-nilai Pancasila.
Penerapan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, saya wujudkan dengan selalu bersyukur dan berdoa dalam setiap keadaan, baik ketika menghadapi kesulitan maupun memperoleh keberhasilan. Saat kondisi ekonomi keluarga menurun pada masa pandemi Covid-19, saya belajar untuk tidak kehilangan harapan. Saya meyakini bahwa setiap ujian memiliki hikmah dan harus dihadapi dengan ikhtiar serta doa. Keyakinan tersebut memberikan saya kekuatan untuk tetap melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-cita.
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, memiliki makna yang paling dekat dengan kehidupan saya. Ketika ibu saya sakit dan saya belum memiliki kemampuan untuk membantunya, saya menyadari bahwa kesehatan adalah hak setiap orang. Pengalaman itu membuat saya memilih menempuh pendidikan di bidang kebidanan. Saya ingin memberikan pelayanan kesehatan dengan empati, menghormati martabat setiap pasien, serta membantu masyarakat tanpa membedakan latar belakang ekonomi. Saya percaya bahwa setiap manusia berhak memperoleh pelayanan yang manusiawi.
Dalam kehidupan sehari-hari, saya juga berusaha mengamalkan sila ketiga, Persatuan Indonesia, dengan menghargai perbedaan suku, agama, budaya, maupun pendapat. Saya menyadari bahwa saya adalah pribadi yang membutuhkan keluarga, sahabat, dan teman untuk berkembang. Karena itu, saya berusaha menjaga hubungan yang baik, membangun kerja sama, dan tidak mudah memecah persatuan. Menurut saya, keberagaman merupakan kekuatan bangsa apabila disertai sikap saling menghormati.
Penerapan sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, saya lakukan dengan membiasakan diri mendengarkan pendapat orang lain sebelum mengambil keputusan. Dalam lingkungan sekolah maupun organisasi, saya percaya bahwa musyawarah menghasilkan keputusan yang lebih bijaksana dibandingkan memaksakan kehendak sendiri. Sikap ini juga melatih saya untuk menghargai perbedaan sudut pandang serta bertanggung jawab terhadap keputusan bersama.
Sementara itu, sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, saya maknai sebagai dorongan untuk memperjuangkan kesempatan yang sama bagi setiap orang, khususnya dalam memperoleh pelayanan kesehatan. Saya pernah melihat masih banyak masyarakat yang kesulitan berobat karena keterbatasan biaya. Pengalaman tersebut membuat saya ingin menjadi bidan yang tidak hanya memiliki kompetensi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan. Saya percaya bahwa keadilan bukan hanya tugas pemerintah, melainkan juga tanggung jawab setiap warga negara melalui tindakan nyata sesuai profesinya.
Menurut saya, penerapan nilai-nilai Pancasila memberikan banyak manfaat, seperti membentuk pribadi yang beriman, peduli, menghargai perbedaan, mampu bekerja sama, serta memiliki tanggung jawab terhadap sesama. Sebaliknya, jika nilai-nilai tersebut tidak diterapkan, masyarakat akan lebih mudah terpecah, tumbuh sikap individualistis, dan berkurang rasa kepedulian sosial. Hal tersebut tentu menghambat terwujudnya kehidupan yang harmonis dan berkeadilan.
Oleh karena itu, saya berkomitmen menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam belajar, bermasyarakat, dan kelak mengabdi sebagai bidan. Saya percaya bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari langkah yang besar, tetapi dari sikap yang konsisten dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila di kehidupan sehari-hari. Seperti motto yang selalu saya pegang, “Kita jangan menunggu badai berlalu, tetapi kita harus belajar menari di tengah badai.” Motto tersebut mengingatkan saya bahwa setiap tantangan adalah kesempatan untuk bertumbuh dan memberikan manfaat bagi orang lain.










