Nama : Syakirah Fitrah Zafiah
NIM : PO7124226006
Prodi : STR Bidan
Menerapkan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-Hari
Pancasila bukanlah sekadar dasar negara yang cukup dihafal di luar kepala, melainkan pedoman hidup nyata yang saya terapkan dalam keseharian. Nilai-nilai luhur di dalamnya menjadi pegangan penting bagi saya saat berinteraksi dengan teman-teman di sekolah, di lingkungan masyarakat, maupun dengan anggota keluarga tercinta di rumah.
Pada sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, saya selalu berusaha menjaga ibadah salat tepat waktu serta senantiasa menghargai teman-teman yang memiliki keyakinan berbeda. Alasan saya melakukan hal ini adalah agar hidup saya mempunyai pegangan moral yang kuat, selalu ingat kepada Sang Pencipta, dan senantiasa merasa tenang dalam menghadapi berbagai situasi. Sebaliknya, jika saya mengabaikan nilai ini, saya pasti akan merasa kehilangan arah, kurang bersyukur, dan lebih mudah diliputi kecemasan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Beranjak pada sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, saya memilih untuk selalu peduli dengan cara menolong teman yang sedang kesulitan, seperti meminjamkan alat tulis atau membantunya memahami materi pelajaran, serta tidak melakukan perundungan atau bullying kepada siapa pun. Saya memegang teguh prinsip ini karena setiap manusia memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perlakuan yang baik, adil, dan manusiawi. Kalau saya tidak peduli atau justru menyakiti orang lain, hubungan pertemanan di sekolah akan rusak dan suasana yang penuh kebencian akan mudah sekali muncul di lingkungan sekitar.
Pada sila ketiga, Persatuan Indonesia, wujud nyata yang selalu saya lakukan adalah menjaga kekompakan dan kerja sama yang baik, terutama saat ada tugas kelompok bersama teman-teman sekelas. Tujuannya tentu saja agar tercipta suasana pertemanan yang damai, kompak, saling membantu, dan tidak terpecah belah karena perbedaan pendapat. Tanpa adanya semangat persatuan ini, perpecahan, sifat egois yang mementingkan diri sendiri, serta perselisihan antar-teman akan sangat mudah terjadi dan membuat suasana belajar menjadi tidak nyaman.
Selanjutnya pada sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, saya membiasakan diri untuk berdiskusi bersama keluarga di rumah saat ingin merencanakan sesuatu atau memecahkan suatu masalah bersama. Saya melakukan ini agar keputusan akhir yang diambil bisa adil bagi semuanya tanpa ada pihak yang merasa dipaksa atau ingin menang sendiri. Jika kita tidak mau bermusyawarah dan lebih memilih ego masing-masing, keputusan yang diambil tentu akan berat sebelah dan pada akhirnya justru memicu konflik serta ketegangan di dalam rumah.
Terakhir, pada sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, saya menerapkannya dengan cara bersikap adil kepada ketiga adik saya di rumah demi menjaga keharmonisan keluarga tanpa ada yang merasa dibedakan perhatian maupun kasih sayangnya. Saya sadar betul bahwa sebagai kakak, saya harus bisa membagi waktu dan perhatian secara merata kepada mereka. Jika saya berlaku tidak adil atau pilih kasih, suasana di rumah pasti akan merenggang, membuat adik-adik merasa sedih, dan menimbulkan kecemburuan sosial yang tidak sehat antar-saudara.










