Pancasila dalam Kehidupanku: Dari Nilai yang Dihafalkan Menjadi Sikap yang Dijalankan

- Redaksi

Sabtu, 22 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nama: R.A. Siti Najwa Nur Fadillah

NIM  : PO7131226080

Prodi : D4 Gizi dan Dietetika

 

Pancasila dalam Kehidupanku: Dari Nilai yang Dihafalkan Menjadi Sikap yang Dijalankan

 

Pancasila merupakan dasar negara sekaligus pedoman bagi masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan. Sejak sekolah, saya sudah sering mendengar dan mempelajari lima sila Pancasila. Namun, semakin saya memahami maknanya, saya menyadari bahwa Pancasila bukan hanya sesuatu yang harus dihafalkan, melainkan juga harus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Banyak hal sederhana yang kita lakukan ternyata merupakan bentuk pengamalan nilai-nilai Pancasila. Mulai dari menjalankan ibadah, membantu orang lain, menghargai perbedaan, berdiskusi, hingga belajar bersikap adil.

 

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, saya terapkan melalui kehidupan beragama. Sebagai seorang Muslim, salah satu bentuk penerapannya adalah dengan melaksanakan salat dan mengaji. Saya berusaha menjadikan ibadah salat dan mengaji sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari, bukan hanya dilakukan ketika memiliki waktu luang.

 

Menurut saya, salat dan mengaji bukan hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dapat membentuk sikap seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita terbiasa mengingat Tuhan, kita juga diingatkan untuk menjaga perkataan dan perbuatan.

 

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, saya coba terapkan melalui sikap saling membantu dan memperlakukan orang lain dengan baik. Saya senang membantu orang-orang di sekitar yang sedang mengalami kesulitan. Saya membayangkan jika berada di posisi mereka, tentu saya juga membutuhkan bantuan dari orang lain.

 

Bagi saya, menolong orang lain tidak harus selalu berupa sesuatu yang besar. Memberikan bantuan sederhana, mendengarkan cerita teman ketika sedang memiliki masalah, atau sekadar memberikan semangat juga merupakan bentuk kepedulian. Karena itu, saya percaya bahwa memperlakukan orang lain dengan baik merupakan salah satu cara sederhana untuk menerapkan nilai kemanusiaan dalam sila kedua.

 

Sila ketiga, Persatuan Indonesia, saya terapkan dengan berusaha menghargai perbedaan yang ada di sekitar saya. Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak suku, ras, bahasa, budaya, dan kebiasaan. Perbedaan tersebut juga dapat kita temukan dalam lingkungan pertemanan.

 

Saya berusaha untuk tidak mengejek seseorang hanya karena memiliki ras, suku, warna kulit, atau latar belakang yang berbeda dengan saya. Menurut saya, perbedaan bukan alasan untuk menjauh atau merendahkan orang lain. Justru dari perbedaan tersebut kita dapat belajar banyak hal baru.

 

Dalam pergaulan, saya menyadari bahwa bercanda juga harus memiliki batas. Jangan sampai sesuatu yang dianggap lucu oleh kita justru membuat orang lain merasa tersinggung. Oleh karena itu, saya berusaha lebih berhati-hati dalam berbicara dan bercanda agar tidak menyakiti orang lain.

 

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, menurut saya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama ketika kita berada dalam sebuah kelompok. Saya termasuk orang yang cukup suka mengutarakan pendapat dan bertukar pemikiran dengan orang lain.

 

Salah satu tempat yang paling sering saya gunakan untuk berdiskusi adalah forum keluarga. Ketika keluarga sedang membicarakan suatu hal, saya berusaha menyampaikan pendapat apabila memiliki pandangan tertentu. Namun, saya juga belajar bahwa menyampaikan pendapat bukan berarti pendapat kita harus selalu diterima.

 

Setiap orang mempunyai sudut pandang yang berbeda, sehingga perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar. Dari diskusi keluarga, saya belajar untuk mendengarkan pendapat orang lain dan mencoba memahami alasan di balik pendapat tersebut.

 

Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, saya berusaha menerapkannya dengan bersikap adil dan tidak mementingkan diri sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berusaha memperlakukan teman secara setara tanpa memilih-milih berdasarkan latar belakang, kemampuan, atau kedekatan.

 

Saya juga berusaha memahami bahwa hak dan kewajiban harus berjalan bersama. Sebagai seorang mahasiswa, saya memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan menyampaikan pendapat. Namun, saya juga mempunyai kewajiban untuk belajar, menghargai orang lain, serta bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

 

Menurut saya, Pancasila bukanlah sesuatu yang hanya muncul ketika upacara bendera, mengikuti pelajaran Pendidikan Pancasila, atau ketika mengerjakan tugas. Pancasila seharusnya hadir dalam cara kita berbicara, memperlakukan orang lain, menyelesaikan masalah, dan mengambil keputusan.

 

Bahkan tindakan sederhana seperti mengucapkan terima kasih kepada orang yang membantu kita, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, menghargai pendapat orang lain, dan membantu teman yang mengalami kesulitan juga dapat menjadi bagian dari pengamalan nilai-nilai Pancasila.

 

Dari pengalaman sehari-hari, saya semakin memahami bahwa menjadi warga negara yang baik tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Semuanya dapat dimulai dari diri sendiri. Saya bisa memulainya dengan memperbaiki ibadah, belajar lebih peduli kepada orang lain, menghargai perbedaan, berani menyampaikan pendapat dengan cara yang baik, serta berusaha bersikap adil kepada siapa pun.

 

Pada akhirnya, Pancasila bukan sekadar lima sila yang harus dihafalkan. Pancasila adalah nilai yang mengajarkan bagaimana kita seharusnya menjalani kehidupan bersama orang lain. Kita mungkin belum bisa menerapkannya dengan sempurna setiap saat, tetapi kita harus terus belajar untuk menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

 

Sebab, menurut saya, Pancasila akan benar-benar hidup bukan hanya ketika kita mampu menyebutkan kelima silanya, tetapi ketika nilai-nilai tersebut terlihat dalam sikap dan tindakan kita sehari-hari.

Berita Terkait

Tidak Ada Hotspot Namun Asap Samar Selimuti Pagar Alam Dinkes Turun Tangan Cek Kualitas Udara
DPO Pencurian di PT GSB Ditangkap di Jambi, Kerugian Capai Rp97 Juta
Penerapan Pancasila di Kehidupan Sehari-hari 
Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari
Mengamalkan Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari
Dorong Optimalisasi Aset melalui Lelang Serentak II Tahun 2026, Bank Sumsel Babel Hadirkan 61 Objek Lelang Terbuka bagi Masyarakat dan Dunia Usaha
Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari
Enam Terdakwa Korupsi Pelebaran Jalan Ratu Seriun Divonis 2 Tahun Penjara

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:52 WIB

Tidak Ada Hotspot Namun Asap Samar Selimuti Pagar Alam Dinkes Turun Tangan Cek Kualitas Udara

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:46 WIB

DPO Pencurian di PT GSB Ditangkap di Jambi, Kerugian Capai Rp97 Juta

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:41 WIB

Penerapan Pancasila di Kehidupan Sehari-hari 

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:38 WIB

Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:33 WIB

Dorong Optimalisasi Aset melalui Lelang Serentak II Tahun 2026, Bank Sumsel Babel Hadirkan 61 Objek Lelang Terbuka bagi Masyarakat dan Dunia Usaha

Berita Terbaru

Sumsel

Penerapan Pancasila di Kehidupan Sehari-hari 

Rabu, 26 Agu 2026 - 12:41 WIB