Nama: Nys. Hafiza Wulandari
NIM : PO7133126102
Prodi : D3 Sanitasi
Pancasila dalam Doa Subuh, Meja Makan, dan Nasihat Orang Tua Setiap Hari
Ada yang mengira Pancasila hanya hidup di ruang kelas atau dalam upacara bendera setiap Senin pagi. Bagi saya, Pancasila justru hidup di antara suara azan Subuh, aroma masakan di meja makan, dan nasihat orang tua yang terus terngiang meski saya sudah lelah setelah seharian kuliah.
Sila pertama saya temukan setiap kali melaksanakan salat lima waktu. Di titik paling rendah saat bersujud, saya justru merasa paling dekat dengan Tuhan. Saya menyerahkan segala rasa lelah, cemas, dan keluh kesah yang menumpuk sepanjang hari, lalu bangkit kembali dengan hati yang lebih tenang untuk melanjutkan aktivitas.
Sila kedua hadir melalui cara saya memandang dan memperlakukan orang tua. Setiap nasihat yang terkadang terdengar berulang sebenarnya merupakan bentuk cinta yang tidak pernah lelah diberikan. Mendengarkan nasihat tanpa membantah, meskipun hati terkadang ingin protes, menjadi salah satu cara sederhana bagi saya untuk menghargai pengorbanan mereka yang tidak akan pernah mampu dibalas dengan apa pun.
Sila ketiga saya rasakan di meja makan, ketika piring-piring saling bersinggungan dan lauk berpindah tangan tanpa perlu diminta. Obrolan ringan tentang hari yang melelahkan tiba-tiba terasa lebih ringan karena dibagikan bersama orang-orang yang paling saya percaya. Kebersamaan sederhana tersebut mengajarkan saya bahwa persatuan dapat tumbuh dari hal-hal kecil dalam keluarga.
Sila keempat muncul ketika keluarga berunding untuk menentukan menu makan malam atau jadwal kegiatan di rumah. Tidak ada yang memaksakan kehendak. Semua suara didengarkan hingga akhirnya satu keputusan disepakati bersama. Bagi saya, hal tersebut merupakan bentuk musyawarah kecil yang sering kali tidak disadari sebagai penerapan nilai Pancasila.
Sila kelima saya jalani melalui hal-hal kecil menjelang tidur, seperti mengalah memberikan giliran kamar mandi kepada adik atau memastikan porsi makanan terbagi secara adil untuk semua anggota keluarga. Dari hal-hal tersebut, saya belajar bahwa keadilan sejatinya tidak selalu berkaitan dengan sesuatu yang besar, melainkan juga tentang kesediaan untuk berbagi dan mendahulukan kepentingan bersama.
Dari azan yang memanggil, meja makan yang hangat, hingga nasihat orang tua yang tidak pernah berhenti diucapkan, saya belajar bahwa Pancasila bukanlah konsep yang jauh dan abstrak. Pancasila merupakan nilai-nilai yang dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari, bahkan melalui hal-hal sederhana yang sering kali tidak kita sadari.
Sebagai anak, mahasiswa, dan bagian dari bangsa Indonesia, saya ingin terus menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, bagi saya, Pancasila bukan sekadar lima sila yang harus dihafalkan, melainkan pedoman yang dapat membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik.







