Nama : Aliyah Destil HY
NIM : PO7131226094
Prodi : D4 Gizi
Menerapkan Pancasila dalam Kehidupan, Bukan Sekadar Menghafalnya
Pancasila bukan hanya sekumpulan sila yang harus dihafalkan, tetapi merupakan pedoman yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sebagai pelajar maupun mahasiswa, banyak hal sederhana yang sebenarnya mencerminkan pengamalan nilai-nilai Pancasila. Dari pengalaman yang saya alami, saya belajar bahwa penerapan Pancasila dimulai dari bagaimana kita menghargai orang lain, bersikap adil, menjaga persatuan, bermusyawarah, dan memperlakukan setiap orang dengan setara.
Pengamalan sila pertama, saya alami ketika masih duduk di bangku SMA. Sekolah saya merupakan sekolah yang seluruh siswanya beragama Islam, tetapi terdapat seorang guru yang memiliki keyakinan berbeda. Perbedaan tersebut sempat membuat beberapa teman melakukan diskriminasi terhadap beliau. Bahkan, ada yang memanggil beliau dengan sebutan “Bapak Kristen” dan pernah menggambar Tuhan yang beliau yakini di papan tulis dengan gambar yang menghina dan tidak senonoh. Menurut saya, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan karena setiap orang memiliki hak untuk menjalankan dan meyakini agamanya. Saya pun menegur teman-teman saya dan mengingatkan mereka agar menghormati keyakinan orang lain. Saya berpikir, jika keyakinan kita dihina, tentu kita juga akan merasa marah dan terluka. Oleh karena itu, kita harus belajar menghargai agama orang lain sebagaimana kita ingin keyakinan kita dihargai. Hal ini sesuai dengan prinsip bahwa setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan tidak boleh ada paksaan dalam beragama.
Pengamalan sila kedua, saya terapkan ketika terdapat pemilihan ketua OSIS. Salah satu teman saya mencalonkan diri dan meminta saya untuk memilihnya. Namun, saya tidak langsung memilih hanya karena dia adalah teman saya. Saya mempertimbangkan visi, misi, kemampuan, sikap, dan tanggung jawab dari setiap calon. Menurut saya, memilih seseorang berdasarkan hubungan pertemanan saja bukanlah sikap yang adil. Setiap calon memiliki hak yang sama untuk dipertimbangkan, sehingga pilihan seharusnya diberikan kepada orang yang memang dinilai mampu menjalankan tanggung jawab sebagai ketua OSIS. Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa bersikap adil berarti mampu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang baik, bukan karena kepentingan pribadi atau hubungan dengan seseorang.
Selanjutnya, sila ketiga, saya rasakan ketika memasuki dunia perkuliahan, tepatnya saat mengikuti PKKMB. Saya tergabung dalam kelompok 3 Annuum yang anggotanya berasal dari sekolah dan daerah yang berbeda serta memiliki karakter yang beragam. Pada awalnya, perbedaan tersebut tentu membuat kami belum terlalu mengenal satu sama lain. Namun, kami tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membentuk kelompok-kelompok kecil atau saling membeda-bedakan. Kami justru belajar untuk saling mengenal, membantu, bekerja sama, dan menjaga kekompakan selama kegiatan PKKMB. Kami memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki satu tujuan yang sama, yaitu mengikuti kegiatan dengan baik dan menyelesaikan setiap tugas bersama. Dari pengalaman tersebut, saya memahami bahwa persatuan bukan berarti harus memiliki latar belakang yang sama, tetapi mampu tetap bersama dan bekerja sama meskipun terdapat banyak perbedaan.
Sila keempat, saya terapkan dalam kehidupan di kelas. Ketika kelas ingin menentukan ketua kelompok, semua anggota diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan mengusulkan calon. Kami tidak memaksakan pilihan masing-masing, tetapi berdiskusi dan mempertimbangkan siapa yang paling mampu menjalankan tanggung jawab tersebut. Setelah mencapai kesepakatan melalui musyawarah, keputusan yang telah dibuat bersama diterima dan dihargai oleh seluruh anggota. Bagi saya, pengalaman tersebut mengajarkan bahwa setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan keputusan bersama sebaiknya diambil melalui musyawarah, bukan dengan memaksakan kehendak pribadi.
Terakhir sila kelima, saya terapkan ketika mengerjakan tugas kelompok. Dalam pembagian tugas, setiap anggota mendapatkan bagian secara adil sesuai dengan kemampuan dan kesepakatan bersama. Tidak seharusnya satu orang mengerjakan seluruh tugas, sementara anggota lainnya tidak berkontribusi. Setiap anggota memiliki tanggung jawab dan harus ikut berpartisipasi agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik. Dengan pembagian tugas yang adil, pekerjaan menjadi lebih ringan dan tidak ada anggota yang merasa dirugikan.
Dari berbagai pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menghargai perbedaan, bersikap adil, menjaga persatuan, bermusyawarah, dan bertanggung jawab merupakan bentuk nyata dari pengamalan Pancasila. Bagi saya, memahami Pancasila akan lebih bermakna jika diwujudkan melalui sikap dan tindakan.












