Kematian Covid-19 Melonjak Akibat Komorbid

- Redaksi

Sabtu, 5 Februari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siti Nadia Tarmizi

Siti Nadia Tarmizi

SUARAPUBLIK.ID, JAKARTA – Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi menyebut lonjakan kasus kematian covid-19 menjadi 24 kasus pada Jumat lalu (4/2/2022), disebabkan oleh komorbid.

Menurut Nadia, banyak dari pasien positif covid-19 memiliki penyakit turunan (komorbid) yang menyebabkan angka kematian naik drastis. Komorbid yang dimaksud meliputi hipertensi hingga diabetes.

“Ini (kematian) karena komorbid penyebabnya karena banyak yang positif termasuk juga yang komorbid. Jadi biasanya karena komorbidnya yang tidak terkontrol dengan baik seperti hipertensi dan diabetes,” jelasnya dilansir dari, Sabtu (5/2/2022).

Sebagai catatan, kasus kematian akibat covid-19 di RI beberapa hari terakhir naik drastis. Pada Jumat (4/2/2022), kasus kematian mencapai 42 orang dalam sehari.

Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama mengatakan, jumlah ini melonjak 10 kali lipat lebih dibanding kasus kematian pada 4 Januari lalu saat ada 3 kasus kematian.

Tjandra mengatakan, peningkatan ini memang lebih rendah jika dibandingkan dengan tren peningkatan kasus positif.

“Tetapi kejadian wafat amat menyedihkan dan tidak dapat tergantikan, jadi akan baik kalau dilakukan analisa mendalam setidaknya dari dua aspek,” kata Tjandra dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (5/2/2022).

Aspek pertama, kata Tjandra, sejauh ini data yang dikeluarkan pemerintah kasus kematian terkait varian omicron sebanyak lima orang. Karena itu perlu diketahui lonjakan kasus kematian kemarin dipicu oleh varian apa.

“Kalau ternyata meninggal akibat varian Delta (meninggal akibat Omicron tercatat lima orang) maka perlu juga digali apakah memang jumlah pasien varian Delta juga makin meningkat sehingga ada peningkatan kematian ini,” kata Tjandra.

Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI ini mengatakan, jika memang kasus kematian akibat omicron, maka diperlukan telaah lebih lanjut mengapa omicron menyebabkan kematian tinggi. Padahal selama ini varian baru ini disebut tidak meningkatkan angka keparahan.
“Hasil analisa tentang varian yg berhubungan dengan peningkatan kematian mungkin akan dapat menjadi salah satu masukan bagi kebijakan pengendalian dan juga mitigasi kita di hari-hari mendatang, agar dapat disesuaikan dengan lebih tepat,” ujarnya.

Aspek kedua, menurut Tjandra, adalah analisa teknis yakni audit penyebab kematian, misalnya sejak 16 Desember 2021 dimana kasus Omicron pertama dilaporkan.

Analisa yang bisa dilakukan berupa kelompok umur yang wafat, jenis kelamin, komorbid, status vaksinasi, lokasi meninggal (RS atau rumah).

“Data yang didapat akan punya dampak klinik bagaimana penanganan pasien gawat dan juga dampak kebijakan kapan pasien harus masuk rumah sakit, atau bentuk kebijakan terkait lainnya,” kata Yoga.

Kasus covid-19 saat ini melonjak. Kemarin tambahan kasus harian sebanyak 32.211 dan kasus kematian 42 orang.

Lonjakan kasus ini ditengarai karena merebaknya varian omicron yang memang sangat mudah menular meski dengan gejala ringan. (*)

Berita Terkait

Kasus Super Flu Masuk di Sumsel, 5 Orang Terjangkit
Kasus Bocah SD Lebam di Kedua Matanya, Ini Tanggapan Dokter Spesialis di Palembang
88 Persen Siswa SD di Palembang Alami Gigi Berlubang dan Penumpukan Kotoran Telinga
Imbas Siswa Keracunan, MBG di SDN 178 Palembang Distop Sementara
Antisipasi Kenaikan Kasus DBD, Dinkes Segera Sebar Larvasida
Bocah Kelamin Ganda Segera Dioperasi, Orangtua: Semoga Berjalan Lancar
Bayi 10 Bulan Idap Penyakit Hipospedia, Berharap Dapat Bantuan Pemerintah
RSUD Palembang BARI Siapkan Ruang Isolasi Pasien Mpox
Tag :

Berita Terkait

Senin, 5 Januari 2026 - 20:17 WIB

Kasus Super Flu Masuk di Sumsel, 5 Orang Terjangkit

Selasa, 4 November 2025 - 17:28 WIB

Kasus Bocah SD Lebam di Kedua Matanya, Ini Tanggapan Dokter Spesialis di Palembang

Jumat, 26 September 2025 - 22:38 WIB

88 Persen Siswa SD di Palembang Alami Gigi Berlubang dan Penumpukan Kotoran Telinga

Jumat, 26 September 2025 - 16:13 WIB

Imbas Siswa Keracunan, MBG di SDN 178 Palembang Distop Sementara

Rabu, 20 November 2024 - 16:15 WIB

Antisipasi Kenaikan Kasus DBD, Dinkes Segera Sebar Larvasida

Berita Terbaru