Nama : Delva Melinda
Prodi : D3 Kebidanan
Hubungan Diri Kita dengan Pancasila
Adegan 1 – Saling Menghargai Perbedaan Keyakinan
Pada suatu pagi, Delva dan Wulan berjalan menuju masjid sambil membawa sajadah. Di perjalanan, mereka tidak sengaja bertemu dengan tetangga baru mereka yang bernama Ayu.
Delva: “Ayu, yuk ikut salat Subuh bersama, biar ramai di masjid.”
Wulan: “Iya, sekalian kita jalan bersama.”
Ayu: “Delva, sebenarnya aku berbeda keyakinan dengan kalian.”
Delva: “Oh, maaf, Ayu. Aku tidak tahu sebelumnya.”
Wulan: “Hehe, memang setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda, ya.”
Delva: “Betul, Wulan. Kita harus saling menghargai meskipun cara beribadah kita berbeda.”
Wulan: “Iya, aku mengerti. Maaf ya sebelumnya.”
Ayu: “Iya, tidak apa-apa. Semoga ibadah kita diterima oleh Tuhan.”
Delva: “Amin. Dan selamat datang di desa kita, ya.”
Ayu: “Terima kasih. Yang penting, kita tetap hidup rukun meskipun berbeda keyakinan.”
Delva: “Iya, aku jadi lebih paham bahwa saling menghargai adalah hal yang utama.”
Adegan tersebut mencerminkan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu menghormati kebebasan setiap orang dalam menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya.
Adegan 2 – Peduli terhadap Sesama
Pada siang hari, Delva berjalan sambil membawa keranjang buah untuk menjenguk adik temannya yang sedang sakit. Di perjalanan, ia bertemu dengan Anisa dan Madina.
Delva: “Teman-teman, adiknya Ayu sedang sakit. Bagaimana kalau kita menjenguknya bersama-sama?”
Anisa: “Setuju. Kasihan kalau hanya sendirian di rumah.”
Madina: “Eh, buat apa repot-repot? Dia kan miskin, paling juga tidak bisa membalas apa-apa.”
Delva: “Madina, jangan begitu. Justru kalau ada yang sedang kesusahan, kita harus peduli, baik kaya maupun miskin.”
Anisa: “Iya, perhatian kecil saja bisa membuat mereka bahagia.”
Madina: “Hehe, iya, iya. Aku ikut, deh. Tapi aku tidak mau membawa yang berat, ya.”
Delva: “Tidak apa-apa. Yang penting kita bersama-sama.”
Anisa: “Aku paham. Sila kedua mengajarkan kita untuk saling menghargai dan memperlakukan sesama manusia dengan adil.”
Adegan tersebut mencerminkan sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, melalui sikap peduli, menghargai, dan membantu sesama tanpa membeda-bedakan keadaan ekonomi.
Adegan 3 – Membangun Persatuan
Pada siang hari berikutnya, para warga berkumpul sambil membawa alat kebersihan untuk melakukan kegiatan bersih-bersih lingkungan dan saluran air di desa.
Delva: “Ayo, teman-teman! Sekarang kita bersihkan lingkungan dan selokan agar tidak terjadi banjir.”
Anisa: “Ayo! Aku sudah membawa cangkul dan karung.”
Wulan: “Aku juga membawa sapu dan serokan, supaya pekerjaan kita lebih cepat selesai.”
Delva: “Aku juga sudah menyiapkan makanan untuk kalian setelah selesai bekerja.”
Madina: “Ah, malas banget. Capek, tahu. Apalagi selokan di depan rumahku tidak kotor.”
Delva: “Kalau selokannya mampet, yang terkena banjir bukan hanya rumahmu, tetapi semua rumah di sekitar sini.”
Madina: “Iya juga, ya. Kalau begitu, aku mau membantu, deh.”
Wulan: “Nah, begitu dong. Lebih enak kalau dikerjakan bersama-sama.”
Delva: “Hehe, ternyata seru juga, ya, kalau ramai-ramai seperti ini. Kita bisa saling membantu sehingga pekerjaan cepat selesai.”
Madina: “Iya dong. Ini yang namanya mewujudkan nilai persatuan dalam kehidupan sehari-hari.”
Adegan tersebut mencerminkan sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia, melalui kerja sama, gotong royong, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama.
Adegan 4 – Musyawarah untuk Mencapai Mufakat
Pada sore hari, teman-teman berkumpul di rumah Dewi untuk bermusyawarah mengenai rencana pembuatan taman bunga bersama.
Dewi: “Teman-teman, bagaimana kalau halaman kosong di dekat musala kita jadikan taman bunga?”
Delva: “Ide bagus. Dengan begitu, kampung kita akan menjadi lebih asri.”
Wulan: “Kalau menurutku, bunga mawar dan melati cocok ditanam karena mudah dirawat.”
Delva: “Aku setuju. Jangan lupa sediakan bangku untuk duduk dan bersantai.”
Madina: “Ah, lebih baik taman bunganya dibuat di depan rumahku saja, supaya aku yang sering melihatnya.”
Dewi: “Tapi warga lain jadi sulit menikmatinya. Musyawarah harus mengutamakan kepentingan bersama, Din.”
Madina: “Hehe, benar juga, ya. Kalau begitu, aku ikut keputusan hasil musyawarah saja.”
Delva: “Nah, dengan ini mari kita sepakati bahwa taman bunga dibuat di dekat musala.”
Adegan tersebut mencerminkan sila keempat Pancasila, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, yaitu menyelesaikan persoalan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat dan mengutamakan kepentingan bersama.
Adegan 5 – Bersikap Adil
Di balai desa, warga mengadakan pembagian makanan gratis dan makan bersama untuk seluruh masyarakat.
Dewi: “Teman-teman, makanannya sudah datang. Ambil secukupnya, ya, agar semua mendapatkan bagian.”
Delva: “Wah, sudah datang, ya. Jadi tidak sabar untuk makan bersama.”
Madina: “Kalau aku mengambil agak banyak, tidak apa-apa, kan? Aku juga berhak, ya.”
Dewi: “Madina, kalau kamu mengambil terlalu banyak, nanti yang lain tidak kebagian. Itu tidak adil.”
Wulan: “Benar. Sila kelima mengajarkan kita untuk selalu bersikap adil.”
Madina: “Hmm, benar juga. Kalau aku bersikap egois, orang lain bisa dirugikan.”
Delva: “Nah, lebih baik kita berbagi secara adil agar semua orang mendapatkan manfaatnya.”
Madina: “Oke, kalau begitu. Lebih adil jika semua mendapatkan bagian sesuai kebutuhan.”
Wulan: “Inilah contoh nyata sila kelima, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”
Delva: “Jika keadilan ditegakkan, kesejahteraan bersama akan lebih mudah tercapai.”
Adegan tersebut mencerminkan sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, melalui sikap adil, tidak egois, dan mau berbagi dengan sesama.
















