Dorong Pemerataan Sepak Bola di 17 Kabupaten/Kota, Ini 8 Program yang Diusung Didi Yanto

- Redaksi

Selasa, 27 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dorong Pemerataan Sepak Bola di 17 Kabupaten/Kota, Ini 8 Program yang Diusung Didi Yanto

Dorong Pemerataan Sepak Bola di 17 Kabupaten/Kota, Ini 8 Program yang Diusung Didi Yanto

PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID – Direktur Operasional Sumsel United, Didi Yanto membawa delapan program unggulan dalam pencalonannya sebagai Ketua PSSI Sumatera Selatan (Sumsel). Ia menargetkan pembenahan kompetisi, penguatan pembinaan usia muda, peningkatan integritas wasit, hingga pemerataan sepak bola di 17 kabupaten/kota.

 

Didi Yanto yang menjabat Presiden Klub KMP Bumara, CEO SSB Bumara, sekaligus Manajer EPA Sumsel United U-19, menilai sepak bola Sumsel membutuhkan pembenahan sistematis agar mampu kembali bersaing di tingkat nasional.

 

Salah satu persoalan yang menjadi perhatiannya adalah ketidakpastian jadwal kompetisi, terutama Liga 4 dan Piala Soeratin. Menurut dia, kompetisi yang terlaksana tanpa kalender pasti menyulitkan klub menyusun program latihan, merekrut pemain, dan menyiapkan anggaran.

 

“Ke depannya, kita akan pastikan kepastian jadwal kompetisi. Klub harus tahu kapan Liga 4 dimulai sehingga persiapan mereka lebih terarah,” kata Didi.

 

Ia bahkan membuka peluang menggratiskan biaya pendaftaran Liga 4 melalui evaluasi kebutuhan pendanaan dan upaya menggandeng sponsor swasta.

 

Didi menilai, kompetisi yang digelar terlalu akhir juga berpotensi merugikan klub Sumsel ketika bersaing di tingkat nasional. Sebab, klub kesulitan mendapatkan pemain yang telah terdaftar di kompetisi provinsi lain.

 

Karena itu, ia ingin jadwal kompetisi disusun lebih awal dan diumumkan jauh sebelum pertandingan dimulai.

 

Program kedua yang diusung adalah coach development atau pengembangan pelatih. Didi berencana menggandeng Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI) untuk memperkuat pembinaan sekaligus memperjuangkan hak-hak pelatih.

 

Menurut dia, perhatian terhadap sepak bola tidak boleh hanya terpusat pada pemain. Pelatih juga membutuhkan wadah yang dapat mendampingi mereka ketika hak dan kewajibannya bermasalah.

 

Program ketiga adalah pengembangan sepak bola putri. Didi menilai Sumsel masih kekurangan kompetisi, wadah pembinaan, serta pendataan pemain dan pelatih sepak bola wanita.

 

Padahal, kompetisi sepak bola putri mulai mendapat ruang lebih besar di tingkat nasional. Kondisi tersebut, menurut dia, harus menjadi momentum bagi Sumsel untuk membangun ekosistem sepak bola putri yang lebih terstruktur.

 

Program keempat menyasar peningkatan kualitas wasit dan integritas pertandingan. Didi ingin memastikan kompetisi berjalan profesional dan terhindar dari praktik yang merusak sportivitas.

 

Sementara itu, program kelima bertajuk Sumsel Football Development. Program ini diarahkan untuk membina pemain muda agar memiliki jalur karier yang jelas menuju sepak bola profesional.

 

Didi menyoroti pemain berusia 15 hingga 17 tahun yang kerap kehilangan arah setelah melewati fase pembinaan usia muda.

 

“Pemain-pemain muda Sumsel sebenarnya punya kemampuan. Namun, ketika berusia 17 tahun, banyak yang kehilangan arah karena tidak ada yang membimbing mereka menuju jenjang profesional,” ujarnya.

 

Ia ingin pembinaan dilakukan secara berkelanjutan agar pemain muda tidak berhenti berkembang atau hanya bermain di kompetisi tidak resmi.

 

Program keenam adalah modernisasi organisasi PSSI Sumsel. Didi ingin menjadikan Asprov PSSI Sumsel sebagai rumah bersama bagi klub, Askab, Askot, dan seluruh elemen sepak bola.

 

Menurut dia, organisasi sepak bola tingkat provinsi harus terbuka terhadap aspirasi anggotanya. PSSI tidak boleh hanya menjadi wadah bagi kelompok tertentu.

 

Program ketujuh berfokus pada pemerataan aktivitas sepak bola di 17 kabupaten/kota.

 

Didi mendorong kerja sama dengan dinas pendidikan dan dinas pemuda dan olahraga untuk menggelar liga pelajar secara berjenjang, mulai tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Sementara kompetisi tingkat SMA akan dikoordinasikan dengan pemerintah provinsi sesuai kewenangannya.

 

Ia berharap kompetisi tersebut menjadi fondasi pembinaan pemain sejak usia dini sekaligus menghidupkan aktivitas sepak bola di daerah yang selama ini kurang berkembang.

 

Program kedelapan adalah penguatan kemitraan dan pendanaan. Didi menilai sepak bola tidak bisa hanya bergantung pada anggaran organisasi maupun pemerintah.

 

Ia ingin membuka ruang kerja sama dengan perusahaan, pengusaha, dan merek lokal Sumsel melalui skema sponsorship yang profesional dan transparan.

 

Menurut dia, sponsor membutuhkan kepastian manfaat dari dukungan yang diberikan. Karena itu, pengelolaan kompetisi, promosi, dan pelaporan kegiatan harus diperbaiki agar kerja sama dengan pihak swasta dapat berkelanjutan.

 

“Perusahaan atau brand lokal sebenarnya ingin ikut ambil bagian. Namun, mereka harus tahu jalurnya dan mendapatkan manfaat yang jelas ketika menjadi sponsor,” katanya.

 

Selain pembenahan kompetisi, Didi juga menargetkan peningkatan prestasi sepak bola Sumsel di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).

 

Ia menilai Sumsel memiliki modal besar, mulai dari fasilitas olahraga di Jakabaring Sport City hingga potensi pemain lokal yang mampu bersaing di tingkat nasional.

 

Pengalamannya mengelola EPA Sumsel United U-19 menjadi salah satu dasar optimisme tersebut. Ia menilai keberhasilan tim dengan dominasi pemain lokal menjuarai kompetisi nasional menunjukkan bahwa kualitas pemain Sumsel tidak kalah dari daerah lain.

 

“Soalnya kan tim-tim lain juga rata-rata pakai pemain lokal semua. Dari situ, saya optimis, Sumsel bisa berbicara banyak di ajang nasional seperti PON,” tandasnya.

 

Didukung Ferry Rotinsulu

 

Misi besar yang diusung Didi Yanto mendapat dukungan dari berbagai pecinta sepakbola. Salah satunya dari mantan kiper legendaris Sriwijaya FC, Ferry Rotinsulu. Sepemahaman dengan Didi, Ferry turut menaruh perhatian pada pentingnya pembinaan pemain daerah dan penyelenggaraan kompetisi yang lebih baik.

 

Menurut Ferry, pembinaan dan kompetisi merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Pemain membutuhkan kompetisi yang teratur untuk mengasah kemampuan dan memperoleh pengalaman bertanding. Sementara itu, kompetisi berkualitas membutuhkan klub dan pemain yang dipersiapkan melalui pembinaan berkelanjutan.

 

“Sepak bola Sumsel membutuhkan pembinaan yang berjalan terus-menerus dan kompetisi yang jelas. Pemain tidak cukup hanya berlatih, tetapi harus punya kesempatan bertanding. Dari kompetisi itulah kemampuan, mental, dan pengalaman mereka bisa berkembang,” ujar Ferry.

 

Ia menilai, pemerataan kesempatan menjadi hal penting agar talenta sepak bola tidak hanya tumbuh di kota besar, tetapi juga di kabupaten dan daerah yang selama ini memiliki potensi pemain.

 

“Saya mendukung upaya yang berorientasi pada kemajuan sepak bola Sumsel, terutama pembinaan pemain muda dan perbaikan kompetisi. Kita harus memberikan ruang kepada pemain daerah untuk berkembang. Kalau pembinaan dan kompetisinya berjalan baik, peluang melahirkan pemain berkualitas juga semakin terbuka,” bebernya.

 

Terpisah, anggota tim Komite Pemilihan Lidya Catrine Kalalo mengatakan, saat ini proses pemilihan Ketua PSSI Sumsel masih dalam tahap pengumpulan berkas. Setelah tahapan rampung, pihak komite akan memulai verifikasi berkas. Puncak proses pemilihan dijadwalkan berlangsung melalui Kongres Biasa Pemilihan Ketua Asprov PSSI Sumsel pada 17–18 November 2026.

 

Dalam forum tersebut, para pemilik hak suara akan menentukan ketua baru untuk masa bakti 2026–2030 melalui mekanisme pemungutan suara sesuai Statuta PSSI.

 

“Selanjutnya berkas akan kita verifikasi dahulu yang mengacu pada statuta atau regulasi pencalonan. Kami juga masih menunggu surat balasan dari PSSI pusat terkait penyelenggaraan pemilihan,” pungkasnya.

Editor : Jaks

Berita Terkait

Pelaku Penembakan Briptu Hamdi Mengaku Gunakan Senpira Peninggalan Paman
Ditinggal Anak dan Cucu, Nenek Asal Selapan Nyaris Lompat dari Jembatan Ampera
Sekda Palembang Aprizal Hasyim Tegaskan BUMD Harus Profesional, Tingkatkan Kinerja dan Kontribusi PAD
13 Hari Pasca-Pengeroyokan Jurnalis Palembang, Koalisi Pers Sumsel Pertanyakan Kinerja Mapolda Sumsel
Tekan Kecelakaan dan Pelanggaran, Polda Sumsel Kedepankan Edukasi di Ops Patuh Musi 2026
Saksi Welly Ungkap Pengembangan Kasus hingga Penangkapan Irfan dalam Perkara IMEI iPhone Inter
Dua Lokasi Dikawasan Plaju Digerebek Diduga Tempat Sarang Narkoba. 
Bobol Toko dan Gasak Tiga Motor Operasional, Enam Pelaku Curat Dibekuk Jatanras Polda Sumsel

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:52 WIB

Dorong Pemerataan Sepak Bola di 17 Kabupaten/Kota, Ini 8 Program yang Diusung Didi Yanto

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:12 WIB

Pelaku Penembakan Briptu Hamdi Mengaku Gunakan Senpira Peninggalan Paman

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Ditinggal Anak dan Cucu, Nenek Asal Selapan Nyaris Lompat dari Jembatan Ampera

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:45 WIB

Sekda Palembang Aprizal Hasyim Tegaskan BUMD Harus Profesional, Tingkatkan Kinerja dan Kontribusi PAD

Senin, 26 Oktober 2026 - 20:42 WIB

13 Hari Pasca-Pengeroyokan Jurnalis Palembang, Koalisi Pers Sumsel Pertanyakan Kinerja Mapolda Sumsel

Berita Terbaru

Foto : 2 pelaku diamankan

Kota Palembang

Pelaku Penembakan Briptu Hamdi Mengaku Gunakan Senpira Peninggalan Paman

Selasa, 27 Okt 2026 - 12:12 WIB

Jakarta

Telkomsel Raih Delapan Marketing Excellence Awards 2026

Senin, 26 Okt 2026 - 21:42 WIB