SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Suara gemericik air kini kembali terdengar di sela-sela batang padi yang hijau di Desa Pulau Semambu, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Cahaya matahari yang menembus dedaunan pagi itu memantul di permukaan sawah, menandakan kehidupan baru tengah tumbuh di desa yang dulu akrab dengan kekeringan dan asap kebakaran lahan.
Pemandangan itu menjadi sumber kebahagiaan bagi Purnadi (58), Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Pulau Semambu. Ia masih ingat betul masa-masa ketika air menjadi barang langka. Mesin pompa yang bergantung pada bahan bakar minyak harus dihidupkan berjam-jam untuk menyedot air dari tanah. Biaya operasional pun kerap membebani para petani, sementara hasil panen tak seberapa.
“Dulu, dari satu kilogram benih sayuran kami hanya bisa dapat kurang dari 200 ikat. Sekarang bisa sampai 300 ikat. Airnya lancar, tanamannya subur,” tutur Purnadi sambil menatap lahan yang kini menghijau.
Transformasi besar itu berawal dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk Sinergi Semambu yang diinisiasi oleh Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) melalui Integrated Terminal Palembang sejak 2022. Program ini hadir bukan sebagai proyek jangka pendek, melainkan upaya membangun kemandirian warga secara berkelanjutan melalui teknologi ramah lingkungan dan pemberdayaan ekonomi.
Salah satu inovasi utama dari program ini adalah penerapan Spider Web Irrigation System (SWIS)—sistem irigasi modern berbasis energi surya yang memanfaatkan jaringan pipa dan pompa bertenaga matahari untuk mendistribusikan air ke lahan pertanian dan rumah warga. Inovasi ini bahkan menjadi yang pertama di Sumatera Selatan.
“Sebelumnya, petani harus membeli BBM untuk menyalakan mesin bor. Sekarang cukup dengan tenaga surya, air mengalir otomatis tanpa biaya tambahan,” jelas Wahyu Aji Nugroho, Community Development Officer IT Palembang Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Kamis (2/10/2025).
Kini, sebanyak 14 rumah tangga di Pulau Semambu menikmati akses air bersih yang difiltrasi agar layak digunakan untuk kebutuhan harian seperti mandi, mencuci, hingga memasak. Di sektor pertanian, dampaknya terasa signifikanjumlah panen yang sebelumnya enam kali setahun kini meningkat dua kali lipat menjadi dua belas kali.
Selain membantu penyediaan air, Pertamina juga memperkuat ketahanan ekonomi warga melalui berbagai pelatihan dan pembangunan sarana produktif. Mulai dari rumah pembibitan, perbaikan kandang ternak, hingga pemberian lima ekor hewan untuk pengembangbiakan. Para petani pun diajari mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah seperti keripik daun kemangi, bayam krispi, tiwul, bandrek, hingga singkong balado.
Langkah tersebut membuat ekonomi masyarakat lebih berdaya dan tidak hanya bergantung pada hasil panen mentah. Bahkan beberapa produk olahan warga kini mulai dipasarkan ke daerah sekitar Ogan Ilir dan Palembang melalui koperasi desa.
Keberadaan sistem SWIS juga berdampak langsung pada penurunan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang selama ini menjadi ancaman rutin setiap musim kemarau. Berdasarkan laporan pemerintah desa, luas lahan terdampak karhutla berkurang drastis dari 27,5 hektare pada 2023 menjadi hanya 3 hektare pada Juli 2025. Cadangan air yang tersedia dari sistem irigasi membuat warga lebih siap melakukan pemadaman dini saat titik api muncul.
“Sinergi Semambu adalah contoh bagaimana program CSR dapat menjadi proses transformasi yang nyata, bukan sekadar bantuan sosial sesaat,” tegas Rusminto Wahyudi, Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel.
Rusminto menambahkan, keberhasilan program ini menjadi bagian dari komitmen Pertamina untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan ketahanan iklim. Program tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin terkait energi bersih, penanganan perubahan iklim, serta pengentasan kemiskinan.
Capaian itu juga mendapat pengakuan dari pemerintah daerah. Desa Pulau Semambu kini menyandang penghargaan Proklim Lestari dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ogan Ilir, sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim berbasis partisipasi masyarakat.
Bagi warga, penghargaan itu bukan sekadar simbol, melainkan bukti nyata bahwa kerja keras dan kolaborasi bisa mengubah wajah desa. Kini, Pulau Semambu tak lagi dikenal sebagai wilayah rawan kekeringan, melainkan desa inspiratif yang mampu bangkit dengan energi matahari dan semangat gotong royong.
“Kami merasa lebih percaya diri sekarang. Tanah kami subur kembali, air melimpah, dan hasil panen meningkat. Ini bukan cuma bantuan, tapi perubahan hidup,” ujar Purnadi menutup perbincangan.

Leave a Reply