Bahas Dampak Lingkungan Tambang Batubara, Aktivis Merasa Diacuhkan DPRD

- Redaksi

Senin, 26 Juli 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Photo: Yudiansyah

Photo: Yudiansyah

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – DPRD Sumsel melalui Komisi IV melakukan rapat dengar pendapat dengan PT Bukit Asam (PTBA), PT Kereta Api Indonesia (KAI), dan perusahaan tambang swasta. Rapat ini digelar guna menindaklanjuti laporan masyarakat, terkait dampak lingkungan tambang batubara.

Lucunya, dalam rapat ini tidak ada satupun perwakilan Aktivis lingkungan dan pegiat anti korupsi yang diundang. Terkesan, DPRD Sumsel berupaya melokalisir pertemuan ini untuk kepentingan tertentu dengan tidak mengundang perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat.

MAKI Sumsel melalui Deputynya Feri Kurniawan, cukup menyesalkan pertemuan ini. Baginya, pertemuan ini seakan menjauhkan masyarakat dari permasalahan dampak lingkungan, terkait kerusakan lingkungan dampak dari eksploitasi batubara.

“Inisiatif DPRD Sumsel ini telah melukai hati para akitivis lingkungan dan pegiat anti korupsi. Seakan ada kepentingan para anggota Dewan dengan pertemuan tertutup ini,” terang Feri, Senin (26/7/2021).

“Kebetulan tadi kami bertanya dengan staff Komisi IV dan mempertanyakan materi dan siapa-siapa yang di undang, dan tidak ada undangan untuk Lembaga Swadaya Masyarakat,” ucap Feri.

Menurut Feri, apa yang DPRD Sumsel ketahui terkait dampak lingkungan selama ini, tanpa adanya laporan ke mereka melalui aksi damai.

“Apa yang mereka ketahui tentang dampak pasca tambang dan kerusakan yang diakibatkannya? Dan apa program reklamasi serta pasca tambang dengan dana ratusan miliar itu,” kata Deputy MAKI Sumsel dengan nada kesal.

Dia menerangkan, ratusan miliar dana reklamasi pasca tambang tidak jelas penggunaannya dan berapa yang disetor ke Pemerintah dan digunakan sendiri oleh PT BA, dan perusahaan tambang swasta, karena tidak ada sumber informasi yang jelas.

Permasalahan ini telah disuarakan pegiat dan aktivis lingkungan, namun mereka seakan tiada dianggap keberadaannya. (ANA)

Berita Terkait

Antisipasi Cuaca Ekstrem, Polsek Buay Madang Timur Pantau Debit Air Sungai Macak dan Irigasi BK
Dukung Ketahanan Pangan, Polsek Buay Madang Timur Kawal Penyaluran 5 Ton Jagung ke Bulog
Dinkes Sumsel Perketat Pengawasan Kasus Celah Bibir pada Bayi
Jelang Iduladha Pemprov Sumsel Minta Warga Tak Panic Buying
Dinkes Sebut Sumsel jadi Wilayah Tertinggi Kedua Kasus Bibir Sumbing di Indonesia
Pagar Alam Lawan Stunting Lewat Edukasi Gizi 
Musprov Inkindo Sumsel Dibuka, Cik Ujang Dorong Transformasi dan Profesionalisme Konsultan
Konser HS di Palembang Pecah, Polisi Sebut Paling Aman dan Tertib

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 21:18 WIB

Antisipasi Cuaca Ekstrem, Polsek Buay Madang Timur Pantau Debit Air Sungai Macak dan Irigasi BK

Senin, 25 Mei 2026 - 21:12 WIB

Dukung Ketahanan Pangan, Polsek Buay Madang Timur Kawal Penyaluran 5 Ton Jagung ke Bulog

Senin, 25 Mei 2026 - 20:56 WIB

Dinkes Sumsel Perketat Pengawasan Kasus Celah Bibir pada Bayi

Senin, 25 Mei 2026 - 20:53 WIB

Dinkes Sebut Sumsel jadi Wilayah Tertinggi Kedua Kasus Bibir Sumbing di Indonesia

Senin, 25 Mei 2026 - 17:40 WIB

Pagar Alam Lawan Stunting Lewat Edukasi Gizi 

Berita Terbaru

Dua penderita bibir sumbing yang akan dioperasi di RSKGM Palembang. Foto: Tia

Kota Palembang

Dinkes Sumsel Perketat Pengawasan Kasus Celah Bibir pada Bayi

Senin, 25 Mei 2026 - 20:56 WIB