Nama: Oksla Metriana Zahra Neyzlita
NIM : PO7131226058
Prodi : D4 Gizi dan Dietetika
Refleksi Pancasila dalam Tindakan Nyata
Menurut saya, Pancasila bukan hanya lima sila yang dipelajari di dalam kelas atau dihafalkan sebagai dasar negara. Nilai-nilai Pancasila sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak hal yang saya lakukan, baik di rumah, lingkungan pertemanan, kampus, maupun masyarakat, secara tidak langsung mencerminkan nilai dari kelima sila tersebut.
Dalam sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, saya menerapkannya dengan menjalankan ibadah sebagai bagian dari keseharian. Saya melaksanakan Shalat, membaca Al-Qur’an, dan berdoa dalam berbagai kegiatan. Bagi saya berdoa dan beribadah bukan hanya dilakukan ketika sedang dalam masalah, tetapi sudah menjadi kebiasaan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Beberapa waktu lalu, saya ikut membantu dalam sebuah kegiatan keagamaan yang cukup besar di lingkungan tempat tinggal saya. Selain itu, sejak SMA saya dan teman-teman terbiasa untuk saling mengingatkan ketika waktu Isoma agar dapat melaksanakan salat berjamaah. Saya juga bersedekah dengan memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan di jalan. Menjalankan sila pertama bagi saya tidak hanya berkaitan dengan hubungan kepada Tuhan, tetapi juga bagaimana kita menghargai orang lain. Karena itu, saya berusaha menghormati orang yang berbeda agama dengan tidak mencampuri urusan ibadahnya, tidak menghina, dan tidak melakukan diskriminasi.
Dalam kehidupan sehari-hari, saya juga selalu menerapkan sila kedua, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Saya percaya bahwa ketika seseorang membutuhkan bantuan dan saya bisa membantunya, tidak ada salahnya untuk memberikan bantuan tersebut. Saya pernah menjaga saudara yang sedang dirawat di rumah sakit yang dimana sedang tidak ada yang menjaganya.
Saya juga tidak membedakan teman berdasarkan keadaan ekonomi, daerah asal, penampilan, maupun latar belakang lainnya. Jika ada seseorang yang ingin berteman dengan saya, saya akan menerimanya dengan baik. Ketika melihat teman diperlakukan tidak baik atau direndahkan, saya juga berusaha membela dan memberikan dukungan kepadanya. Di rumah, saya membantu orang tua menjaga warung dan mengerjakan pekerjaan rumah. Dari berbagai pengalaman tersebut, saya belajar bahwa membantu orang lain tidak harus selalu dalam bentuk sesuatu yang besar. Hal sederhana pun saat dilakukan dengan kepedulian juga merupakan bentuk penerapan nilai kemanusiaan.
Dalam sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia, saya banyak merasakannya melalui pengalaman bekerja sama dengan orang lain. Saat duduk di bangku SMA, saya aktif dalam organisasi seperti OSIS dan Pramuka. Saya juga pernah terlibat dalam kegiatan Gebyar, yaitu perlombaan antar sekolah yang membutuhkan kerja sama dari banyak pihak. Selain itu, saya pernah menjadi panitia perlombaan 17 Agustus di tempat tinggal saya bersama teman-teman karang taruna. Kegiatan-kegiatan tersebut mengajarkan saya bahwa setiap orang mempunyai kemampuan dan tugas yang berbeda, tetapi semuanya dapat disatukan untuk mencapai tujuan bersama. Dalam menghadapi perbedaan pendapat yang sudah pasti ada saat bekerja dalam tim, saya lebih memilih mendengarkan kedua pihak terlebih dahulu sebelum memberikan masukan. Saat menjadi mahasiswa baru dan harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru, saya juga berusaha untuk tidak malu berkenalan dan bertanya kepada teman-teman. Bagi saya, menjaga persatuan dapat dimulai dari hal sederhana seperti menghargai perbedaan dan menghindari perkataan maupun tindakan yang dapat memicu perpecahan.
Pada sila keempat, yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, saya menerapkannya ketika harus mengambil keputusan bersama dalam diskusi ataupun kerja kelompok. Saya tidak terbiasa langsung menentukan keputusan berdasarkan pendapat sendiri. Saya lebih memilih mendengarkan pendapat anggota lain karena setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Setelah semua pendapat didengar, barulah dapat mencari jalan tengah dan menentukan keputusan yang dianggap paling tepat. Pengalaman seperti ini juga saya dapatkan ketika aktif di OSIS. Saya pernah menjadi koordinator yang menjadi penghubung antara pihak OSIS, ekstrakurikuler, dan sekolah dalam satu kegiatan. Dari pengalaman tersebut, saya belajar untuk tidak hanya menyampaikan pendapat sendiri, tetapi juga mendengarkan dan mempertimbangkan pendapat orang lain sebelum mengambil keputusan.
Terakhir, pada sila kelima, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, saya menerapkannya dengan berusaha memperlakukan orang lain secara adil, termasuk dalam kerja kelompok. Saya merasa pembagian tugas sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anggota. Dengan begitu, setiap orang tetap memiliki tanggung jawab dan tidak ada yang merasa terlalu dibebani. Saya juga berusaha membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Dalam pertemanan, saya tidak membedakan seseorang berdasarkan kondisi ekonominya. Hal-hal sederhana seperti menghargai antrean, tidak mengambil hak orang lain, dan menggunakan fasilitas bersama dengan tertib juga saya terapkan sebagai bentuk keadilan. Sebagai mahasiswa, saya berusaha menghargai hak dan kesempatan teman serta bersikap adil dalam berbagai kegiatan yang dilakukan bersama.
Dari berbagai pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa Pancasila sebenarnya tidak jauh dari kehidupan saya. Nilai-nilainya dapat ditemukan dalam kebiasaan sederhana yang sering saya lakukan, seperti beribadah, membantu orang lain, bekerja sama, mendengarkan pendapat, dan menghargai hak orang lain. Bagi saya, penerapan Pancasila bukan hanya tentang mengetahui dan menghafalkan kelima silanya, tetapi bagaimana nilai-nilai tersebut benar-benar terlihat dari cara kita bersikap dan memperlakukan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.













