SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG — Di tengah hiruk pikuk Rumah Susun 26 Ilir, Palembang, ada secercah harapan yang tumbuh dari tangan seorang perempuan bernama Oca Tresia, atau akrab disapa Ibu Oca. Sebagai _local hero_ pendiri Kampung Literasi 26 Ilir dan mitra binaan Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), ia membuktikan bahwa pendidikan adalah hak semua anak, tanpa terkecuali.
Berawal dari keprihatinan melihat anak-anak putus sekolah dan penyandang disabilitas kehilangan akses pendidikan, Ibu Oca mendirikan Kampung Literasi 26 Ilir pada 2018. Dengan dukungan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, 20 anak putus sekolah dan 4 anak disabilitas kini berhasil meraih ijazah dari tingkat SD, SMP, hingga SMA.
Tak berhenti pada ranah pendidikan, program ini terus berkembang. Sejak 2025, kegiatan Kampung Literasi meluas ke bidang kesehatan dan pemberdayaan ekonomi. Melalui posyandu aktif yang melayani 30 anak dan 15 lansia, warga mendapatkan pemeriksaan kesehatan rutin, edukasi gizi, hingga senam bersama. Sementara itu, UMKM Kampung Literasi yang dikelola oleh lima orang tua murid mampu menambah penghasilan keluarga hingga Rp500 ribu per bulan, membuktikan bahwa pendidikan dan kemandirian ekonomi dapat berjalan beriringan.
“Saya ingin menghapus stigma negatif tentang rumah susun. Melalui Kampung Literasi, Dengan dukungan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, kami berjuang agar tidak ada lagi anak yang putus sekolah. Saya percaya, dari tempat sederhana seperti ini, bisa lahir generasi hebat yang membawa perubahan,” tutur Ibu Oca penuh harapan.
Atas dedikasi dan perjuangannya, Ibu Oca menerima Penghargaan Bhakti Adipustaka yang diserahkan langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, dalam Festival Literasi Sumatera Selatan 2025 di Asrama Haji Palembang, Jumat (7/11). Penghargaan ini menjadi bukti bahwa kerja keras, keikhlasan, dan kepedulian terhadap pendidikan mampu membawa perubahan nyata bagi masyarakat.
Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi menyatakan program pembinaan ini adalah wujud Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup warga Rumah Susun 26 Ilir.
“Ibu Oca adalah contoh nyata bagaimana tekad kuat satu individu dapat mengubah kehidupan banyak orang. Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel bangga mendampingi Kampung Literasi yang tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga kesehatan dan pemberdayaan ekonomi,” ungkap Rusminto.
Kampung Literasi telah membawa perubahan nyata, anak-anak yang putus sekolah kini dapat melanjutkan pendidikan, orang tua mendapat tambahan penghasilan, dan kesadaran akan pentingnya pendidikan serta kesehatan meningkat.
Melalui program ini, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel mendukung pencapaian SDGs poin ke-4 (Pendidikan Berkualitas) dan poin ke-8 (Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan yang Layak) yang membuktikan bahwa perubahan dimulai dari kepedulian dan aksi nyata.

Leave a Reply