Nama : Mei Dina Tri Sari
Nim : PO7131226076
Prodi : D4 Gizi & Dietetika
Pengamalan Nilai Pancasila Di Kehidupan Sehari-hari
Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia mempunyai nilai nilai yang wajib diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kandungan dari sila-sila Pancasila secara garis besar terbagi atas beberapa tingkatan yang pertama adalah nilai dasar, instrumental dan praktis. Pancasila juga mengandung nilai moral dan norma yang harus diterima oleh seluruh warga negara karena hal tersebut menjadi landasan bagi kehidupan bersama di Indonesia. Meskipun Pancasila terdiri dari lima sila berbeda tetapi semua saling melengkapi dan menjadikan Pancasila sebagai satu kesatuan yang utuh untuk jadi pedoman kehidupan Bersama di Indonesia.
Pengamalan sila pertama, yaitu dapat saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan menghargai teman yang memiliki perbedaan agama. Di lingkungan pertemanan, saya memiliki teman yang berbeda keyakinan. Meskipun berbeda agama, kami tetap bermain dan berinteraksi bersama tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Ketika waktu ishoma tiba, kami yang beragama Islam pergi ke musala sekolah untuk melaksanakan salat. Sementara itu, teman saya yang berbeda keyakinan dengan sabar menunggu kami hingga selesai beribadah. Begitu pula sebaliknya, ketika kami berencana bermain pada Minggu pagi, kami menunggu teman kami yang sedang melaksanakan ibadah. Setelah ia selesai beribadah, barulah kami bermain bersama. Pada saat Hari Raya Idulfitri, teman kami yang berbeda keyakinan datang ke rumah untuk bersilaturahmi dan memberikan ucapan kepada kami yang beragama Islam. Begitu pula ketika teman kami yang berbeda keyakinan sedang merayakan hari raya agamanya, kami juga berkunjung ke rumahnya untuk bersilaturahmi dan menghargai perayaan yang sedang dilaksanakan. Meskipun memiliki perbedaan agama dan keyakinan, kami tetap saling menghormati dan menjaga hubungan pertemanan dengan baik.
Pengamalan sila kedua, satunya saat bersama kedua adik sepupu saya. Kalau saya sedang punya jajanan, biasanya saya membaginya kepada mereka supaya bisa dimakan bersama. Saya juga sering berbagi mainan ketika kami sedang bermain. Saya berusaha membaginya dengan adil supaya tidak ada yang merasa dibedakan. Kalau mereka ingin bermain dengan mainan yang sama, biasanya kami bermain secara bergantian. Dengan begitu, mereka tidak perlu berebut dan bisa tetap bermain bersama. Saya juga berusaha memperlakukan keduanya dengan sama dan tidak pilih kasih. Menurut saya, berbagi dengan orang lain adalah hal sederhana yang bisa membuat orang lain senang. Selain itu, saya juga belajar untuk lebih peduli dengan orang-orang di sekitar saya. Walaupun yang saya bagikan hanya jajanan atau mainan, hal tersebut tetap berarti bagi mereka. Saya merasa senang ketika melihat kedua adik sepupu saya bisa menikmati jajanan dan bermain bersama. Dari hal sederhana tersebut, saya belajar untuk saling berbagi dan menghargai. Saya juga belajar bahwa kita tidak boleh mementingkan diri sendiri. Dengan berbagi dan tidak membeda-bedakan, hubungan kami menjadi lebih dekat dan rukun.
Pengamalan sila ketiga, dapat saya terapkan melalui kegiatan gotong royong saat menyambut lomba 17 Agustus. Saya bersama teman-teman dan warga sekitar bekerja sama untuk mempersiapkan lingkungan agar terlihat lebih meriah. Kami menghias jalan dan lingkungan dengan berbagai dekorasi bernuansa merah putih. Ada yang memasang bendera, membersihkan lingkungan, dan menyiapkan tempat untuk perlombaan. Meskipun warga memiliki kesibukan yang berbeda, kami tetap saling membantu. Kami bekerja bersama tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Ketika ada yang mengalami kesulitan, kami dengan senang hati membantu. Kami juga saling berbagi tugas agar semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat. Kegiatan gotong royong tersebut membuat kami menjadi lebih dekat dan kompak. Kami merasa senang karena dapat mempersiapkan perayaan kemerdekaan bersama-sama. Dari kegiatan tersebut, saya belajar bahwa persatuan dapat dimulai dari hal-hal sederhana.
Pengamalan sila keempat, saat mengikuti rapat OSIS, Terkadang, pendapat yang disampaikan berbeda dengan pendapat anggota lainnya. Meskipun berbeda pendapat, kami tetap saling menghargai dan tidak saling menyalahkan satu sama lain. Kami mendengarkan pendapat teman sampai selesai tanpa memotong pembicaraan. Jika ada pendapat yang kurang sesuai, kami menyampaikannya dengan bahasa yang baik. Kami juga tidak boleh merendahkan atau mengejek pendapat orang lain. Setiap anggota diberikan kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat. Ketika terjadi perbedaan pendapat, kami berusaha menyelesaikannya melalui diskusi. Kami mencari jalan tengah agar keputusan yang diambil dapat diterima bersama. Kami juga belajar untuk tidak memaksakan kehendak kepada anggota lainnya. Keputusan yang diambil harus mempertimbangkan kepentingan bersama, bukan kepentingan pribadi, dengan begitu, rapat dapat berjalan dengan tertib, bijak dalam mengambil keputusan, dan penuh rasa saling menghargai.
Pengamalan sila kelima, Salah satu contohnya adalah bersikap adil kepada orang-orang di sekitar kita Misalnya, saat mengerjakan tugas bersama teman, saya berusaha membagi tugas dengan adil supaya semua ikut mengerjakan. Saya tidak ingin hanya satu atau dua orang yang bekerja, sedangkan yang lainnya hanya menunggu. Kalau ada teman yang kesulitan, saya juga berusaha membantu. Selain itu, saya juga berusaha tidak mengambil hak orang lain dan mau berbagi jika memiliki sesuatu yang bisa dibagikan. Menurut saya, bersikap adil bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti tidak pilih kasih, menghargai orang lain, dan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang. Dari hal tersebut, saya belajar bahwa keadilan bukan hanya tentang mendapatkan sesuatu yang sama, tetapi juga tentang menghargai hak dan kepentingan orang lain. Dengan menerapkan sikap adil dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa menciptakan hubungan yang lebih baik dan tidak saling merugikan.













