Nama : Dzakira Nur Fadhilah
NIM : PO7131226014
Prodi : D4 Gizi
Pancasila sebagai Pedoman dalam Perjalanan Mahasiswa Gizi
Pancasila bukan hanya sekadar teks hafalan saat upacara bendera, melainkan arah moral yang membimbing keputusan saya setiap hari. Sebagai mahasiswa baru jurusan gizi, lima sila di dalamnya menjadi fondasi penting dalam masa transisi kuliah, cara saya memandang kesehatan masyarakat, serta berinteraksi dengan lingkungan kampus.
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, saya wujudkan melalui rasa syukur karena berhasil diterima di jurusan ini. Rasa syukur ini memotivasi saya untuk memulai perkuliahan dengan niat belajar yang tulus agar ilmu yang didapat membawa berkah bagi sesama. Hal ini terhubung langsung dengan sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Bagi saya, ilmu gizi adalah ilmu kemanusiaan. Di awal perkuliahan ini, saya belajar untuk menumbuhkan empati tinggi, menyadari bahwa kelak tugas saya adalah membantu memperbaiki kualitas hidup orang lain melalui pendekatan pola makan yang sesuai dengan aturan nilai gizi.
Persatuan Indonesia, sila ketiga, tercermin nyata saat memasuki dunia kampus yang penuh keberagaman. Sebagai mahasiswa baru, saya bertemu dengan teman-teman dari latar belakang daerah, budaya dan keyakinan yang berbeda. Kami bersatu, saling merangkul, dan membuang batas perbedaan demi beradaptasi di lingkungan baru. Dalam interaksi perkuliahan, sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, menjadi acuan utama. Saat pertama kali membentuk kelompok belajar atau pembagian tugas, kami mengutamakan diskusi bersama, saling mendengarkan dan menyatukan opini, dan tidak memaksakan ego pribadi.
Terakhir, sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menjadi pemicu semangat belajar saya. Masalah ketimpangan gizi di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Sebagai generasi baru ahli gizi, saya berkomitmen memanfaatkan masa kuliah ini untuk mendalami cara meningkatkan gizi yang berkualitsn dengan bahan pangan yang murah, sehat, dan dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Nilai luhur Pancasila kini bukan lagi teori usang di buku sekolah, melainkan sebuah komitmen awal perjalanan akademik saya untuk menyehatkan bangsa.














