Nama : Fatimah Az-zahrah
NIM : PO7131226066
Kelas : STr Gizi
Pancasila? Bukannya Cuma Lima Sila?
Jujur, dulu kalau mendengar kata Pancasila, yang terpikirkan hanyalah upacara, menghafal lima sila, dan tugas sekolah. Sesimpel itu. Tapi makin ke sini, aku sadar bahwa Pancasila sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, bahkan saat aku sedang menjadi versi diriku yang belum tentu selalu baik-baik saja.
Aku suka mencoba hal baru, ikut organisasi, bertemu orang baru, dan merasakan suasana yang berbeda. Jujur, aku mudah bosan, tapi tidak mudah menyerah. Kalau keadaan tidak sesuai harapan, aku mencoba memperbaikinya. Kalau tidak bisa, aku belajar beradaptasi. Dari situ, aku sadar bahwa Pancasila hadir dalam banyak hal sederhana.
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, berarti belajar menjadi orang yang amanah. Saat dipercaya menjadi ketua panitia 17 Agustus, aku tetap mengatur persiapan di tengah kesibukan kuliah. Bahkan ketika handphoneku hilang di hari pelaksanaan, aku memilih tetap tenang dan profesional. Aku belajar bahwa amanah berarti tetap bertanggung jawab meski keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan aku untuk mendengarkan cerita teman tanpa langsung menghakimi. Biasanya aku bertanya, “Kamu mau aku dengarkan saja atau mau aku kasih solusi?” Karena tidak semua orang butuh nasihat. Kadang, mereka hanya butuh didengarkan.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia, mengajarkan aku tentang menjaga persatuan. Saat ada teman dalam kelompok yang mengalami konflik dengan beberapa anggota, kami memilih membicarakannya bersama daripada langsung menjauh. Dari situ aku belajar bahwa menjaga persatuan bukan berarti menghindari konflik, tetapi berani menyelesaikannya bersama.
Sila keempat, aku rasakan saat terjadi perdebatan soal baju acara. Aku mendengarkan semua saran dan mencoba menggabungkannya hingga menjadi keputusan yang bisa diterima bersama.
Sila kelima, aku terapkan saat menemukan kesalahan hasil lomba tarik tambang yang sebenarnya menguntungkan kelasku. Aku dan temanku tetap melaporkannya. Bagiku, adil tetap harus diperjuangkan, bahkan ketika kita bisa diuntungkan.
Pada akhirnya, aku sadar bahwa Pancasila bukan sekadar lima sila yang dihafalkan. Pancasila ada dalam pilihan-pilihan kecil: menahan ego, mendengarkan, menyelesaikan masalah, dan tetap adil. Aku masih belajar dan masih sering salah. Tapi mungkin, menjadi Pancasila bukan tentang sempurna, melainkan terus memilih untuk menjadi lebih baik.













