Suarapublik.id – Sebagai salah satu provinsi dengan kekayaan sumber daya alam terbesar di Indonesia. Sumatera Selatan mmempunyai komoditas batubara, gas bumi, karet, sawit, serta potensi pertanian dan perikanan menjadikan Sumsel sebagai lumbung energi dan pangan nasional.
Namun, meskipun ada potensi besar, ekonomi Sumsel masih menghadapi masalah tradisional seperti ketergantungan pada ekspor bahan mentah, nilai tambah industri yang rendah, dan ketimpangan pembangunan antar wilayah.
Guna menumbuhkan perekonomian yang merata, Provinsi Sumatera Selatan mempunyai berbagai tantangan yang harus dihadapi. Meski pertumbuhan ekonomi Sumsel cukup stabil di atas rata-rata nasional, yang sebagian besar ditopang oleh sektor pertambangan dan energi.
Pertumbuhan ekonomi yang belum ditopang pondasi yang kuat dan rapuh, masih mengalami gejolak pada saat harga komoditas global menurun. Sehingga berpengaruh pada perekonomian daerah, yang ikut melambat. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan seyogyanya mulai memperhatikan sektor industri pengolahan, dan pertanian berkelanjutan yang belum tumbuh dan digarap secara optimal.
Dukungan konektivitas ekonomi antarwilayah juga masih menjadi kendala. Wilayah Hinterland seperti Musi Banyuasin, Lahat, dan Muara Enim belum sepenuhnya terhubung dengan pusat perdagangan di Palembang dan kawasan industri di Tanjung Api-Api. Padahal, kawasan itu berpotensi besar menjadi simpul utama pertumbuhan ekonomi regional.
Rekomendasi Kebijakan untuk Memotivasi Perubahan Ekonomi Sumsel
1. Mempercepat Hilirisasi Produk Unggulan
Kebijakan hilirisasi industri berbasis sumber daya lokal, terutama karet, batubara, dan sawit, harus didorong oleh pemerintah daerah.Sawit dapat digunakan sebagai biofuel dan bahan baku oleokimia.
Karet dapat diubah menjadi ban dan sarung tangan industri. Untuk menghasilkan energi yang ramah lingkungan, batubara dapat digunakan untuk gasifikasi.
Ini memerlukan pembangunan kawasan industri berbasis energi terintegrasi di Tanjung Api-Api dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Carat, serta insentif fiskal daerah.
2. Penguatan Infrastruktur dan Konektivitas Ekonomi
Sumsel harus mempercepat pembangunan koridor logistik terpadu antara Pelabuhan Tanjung Api-Api, jalur tol Palembang–Bengkulu, dan rel kereta logistik menuju kawasan industri dan pelabuhan.
Langkah ini akan menekan biaya logistik hingga 30%, mempercepat arus barang, dan memperkuat daya saing produk lokal.
Selain itu, pengembangan bandara dan pelabuhan logistik di daerah penyangga seperti Lubuk Linggau dan Sekayu juga penting untuk membuka akses ekspor langsung ke luar negeri tanpa bergantung pada pelabuhan di provinsi lain.
3. Digitalisasi dan UMKM Naik Kelas
Kebijakan ekonomi digital juga perlu dipercepat, terutama untuk mendukung UMKM di sektor pertanian, perikanan, dan kerajinan.
Program pelatihan digital marketing, pembiayaan mikro berbasis aplikasi, serta kemitraan dengan BUMN dan e-commerce nasional akan memperluas akses pasar produk lokal Sumsel hingga tingkat nasional dan ekspor.
Sumsel memiliki peluang besar untuk menjadi poros ekonomi baru di luar Jawa berkat potensi energinya, sumber daya alamnya, dan posisinya yang strategis di tengah Pulau Sumatera.
Ini, bagaimanapun, hanya dapat dicapai melalui fokus kebijakan untuk hilirisasi industri, efisiensi logistik, digitalisasi ekonomi, dan transisi energi berkelanjutan.
Masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah daerah harus bekerja sama untuk mewujudkan transformasi ini. Sudah waktunya Sumsel diakui tidak hanya sebagai “lumbung energi” tetapi juga sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan dan berdaya saing di Sumatera.
Oleh: Yunani














