Menerapkan Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari Sejak Kecil

- Redaksi

Sabtu, 22 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nama: Rama Ilham Imani

NIM : P07131226012

Prodi : D4 Gizi

 

Menerapkan Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari Sejak Kecil

 

Hampir setiap warga negara Indonesia telah mengenal dan menghafal lima sila Pancasila sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dalam upacara bendera setiap Senin pagi, teks Pancasila dibacakan dengan lantang dan serentak oleh siswa di berbagai penjuru negeri. Namun, di balik hafalan tersebut, muncul pertanyaan: sejauh mana nilai-nilai luhur Pancasila benar-benar diterapkan dalam sikap, perilaku, dan keputusan sehari-hari?

 

Fenomena korupsi, intoleransi, hingga individualisme yang dapat mengikis semangat gotong royong menunjukkan bahwa masih terdapat jarak antara mengetahui Pancasila secara normatif dan mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Bagi saya, Pancasila tidak seharusnya berhenti sebagai rangkaian kata yang dihafalkan, tetapi harus menjadi pedoman hidup yang membentuk karakter dan tindakan setiap warga negara Indonesia.

 

Berikut adalah pengalaman saya dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila sejak kecil hingga menginjak bangku perkuliahan.

 

Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa

Pengamalan sila pertama sudah saya mulai sejak duduk di bangku kelas 1 SD. Saat bersekolah di SDN Klander 03 Pagi, saya bertemu dengan teman-teman yang memiliki latar belakang agama yang beragam, seperti Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Buddha, dan Konghucu.

 

Pada awalnya, saya sempat berpikir apakah saya bisa berteman dengan orang yang berbeda agama. Ternyata, saya justru memiliki banyak teman yang berbeda agama dengan saya. Saya menyadari bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk menjalin pertemanan dan saling menghargai.

 

Hal tersebut saya pelajari dari guru yang mengajarkan bahwa sila pertama bukan hanya berkaitan dengan menjalankan perintah Tuhan, tetapi juga mengajarkan toleransi terhadap pemeluk agama lain. Nilai toleransi tersebut hingga saat ini masih saya pegang teguh dan menjadi bagian dari diri saya.

 

Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Pengalaman yang berkaitan dengan sila kedua terjadi ketika saya duduk di bangku SMA kelas 10. Saat itu, saya mengikuti ekstrakurikuler Paskibra. Kami sedang melakukan seleksi untuk menentukan pembagian barisan bagi petugas pengibaran bendera Merah Putih tingkat kecamatan.

 

Saya sangat bersemangat mengikuti seleksi tersebut. Saya berlatih dengan giat dan merasa memiliki kemampuan yang cukup untuk menempati barisan terbaik. Namun, kenyataan yang saya hadapi justru berbeda. Beberapa orang yang terpilih bukan hanya berdasarkan kemampuan, tetapi juga karena latar belakang, penampilan, senioritas, atau hubungan pertemanan.

 

Saya merasa kecewa dan bertanya-tanya mengapa bukan saya yang terpilih. Saya juga menyadari bahwa bukan hanya saya yang merasakan kekecewaan tersebut, tetapi beberapa teman seperjuangan saya juga mengalami hal serupa.

 

Saat itu, saya mulai memahami lebih dalam makna keadilan yang terkandung dalam sila kedua. Keadilan seharusnya diberikan kepada setiap orang berdasarkan hak dan kemampuannya, bukan karena latar belakang atau kepentingan tertentu. Pengalaman tersebut membuat saya semakin memahami pentingnya memperlakukan setiap orang secara adil dan beradab.

 

Sila Ketiga: Persatuan Indonesia

Nilai persatuan saya alami ketika pindah dari Jakarta kembali ke rumah ibu saya di Empat Lawang. Saat itu, saya masih berusia sekitar tujuh tahun. Saya yang sebelumnya tinggal di kota harus beradaptasi dengan lingkungan pedesaan yang sangat berbeda.

 

Awalnya, saya merasa bingung bagaimana cara mencari teman karena memiliki latar belakang yang berbeda dengan anak-anak di desa. Saya kemudian meminta bantuan ibu untuk memperkenalkan saya kepada teman-teman di lingkungan sekitar. Perlahan, saya mulai memiliki teman meskipun kami memiliki perbedaan pengalaman dan cara pandang.

 

Ketika pertama kali masuk sekolah dasar di desa, saya sempat merasa diperhatikan oleh banyak orang. Perbedaan tersebut bahkan membuat saya mengalami perundungan sejak kelas 2 hingga kelas 5 SD. Meskipun demikian, saya terus berusaha untuk berbaur dan membangun hubungan yang baik dengan teman-teman.

 

Seiring berjalannya waktu, perundungan tersebut perlahan berakhir. Dari pengalaman itu, saya memahami bahwa persatuan dapat terwujud ketika kita mau menerima perbedaan dan berusaha membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Walaupun memiliki latar belakang yang berbeda, kita tetap merupakan bagian dari satu bangsa Indonesia.

 

Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

 

Nilai sila keempat saya terapkan ketika duduk di bangku SMA dan mengikuti pemilihan ketua Rohis. Saat itu, saya menjadi salah satu kandidat yang akan memimpin organisasi tersebut.

 

Saya menyadari bahwa saya tidak memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada teman-teman. Namun, saya memiliki pengalaman sebagai ketua kelas, pernah mengikuti OSIS sejak SMP, serta pernah menjadi bendahara Pramuka. Dengan pengalaman tersebut dan tekad yang kuat, saya berusaha meyakinkan teman-teman agar memilih saya.

 

Pada akhirnya, saya terpilih menjadi ketua Rohis untuk periode tersebut. Organisasi Rohis di sekolah saya saat itu masih tergolong baru karena baru memasuki angkatan kedua. Karena itu, saya bertekad untuk membuat berbagai kegiatan baru dan mengembangkan kreativitas dalam organisasi.

 

Saya berusaha membawa Rohis menjadi organisasi yang dapat dikenal dan diakui oleh sekolah, bahkan di luar sekolah. Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang menjadi seorang pemimpin, tetapi juga tentang mendengarkan orang lain, mengambil keputusan bersama, dan bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan.

 

Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

 

Sila kelima juga memiliki kaitan erat dengan pengalaman saya ketika bersekolah di SMP. Saat itu, saya masih menjadi siswa baru dan kembali mengalami perundungan karena perbedaan yang saya miliki. Perundungan tersebut bahkan lebih parah dibandingkan pengalaman saya ketika SD hingga menyebabkan saya mengalami luka.

 

Saya kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada guru. Setelah dilakukan penanganan, siswa yang melakukan perundungan kepada saya dikeluarkan dari sekolah karena tindakannya.

 

Saat itu, saya melihat tindakan guru tersebut sebagai bentuk penerapan keadilan di lingkungan sekolah. Guru memberikan perlindungan kepada siswa yang menjadi korban dan memberikan konsekuensi kepada pelaku sesuai dengan tindakannya.

 

Pengalaman tersebut membuat saya menjadi lebih percaya diri meskipun memiliki pemikiran dan karakter yang berbeda. Saya juga terdorong untuk menjadi salah satu siswa yang mendukung gerakan anti-perundungan di lingkungan sekolah.

 

Pancasila sebagai Pedoman dalam Kehidupan

 

Dari seluruh pengalaman yang telah saya ceritakan, sejak duduk di bangku SD hingga menginjak bangku perkuliahan, saya menyadari bahwa Pancasila bukan sekadar teks yang dihafalkan dan dibacakan dalam upacara bendera. Nilai-nilai Pancasila justru membentuk diri saya melalui berbagai pengalaman hidup.

 

Toleransi yang saya pelajari sejak kelas 1 SD di tengah keberagaman agama teman-teman, kekecewaan yang mengajarkan saya tentang arti keadilan saat mengikuti seleksi Paskibra, perjuangan berbaur dan menghadapi perundungan yang menumbuhkan semangat persatuan, pengalaman memimpin organisasi Rohis yang mengajarkan kepemimpinan dan musyawarah, hingga keberanian melaporkan ketidakadilan yang saya alami di SMP merupakan bagian dari perjalanan saya dalam memahami Pancasila.

 

Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa memahami Pancasila tidak cukup hanya dengan mengetahui urutan dan bunyi kelima silanya. Pancasila harus diwujudkan melalui keberanian untuk menerapkan nilai-nilainya dalam berbagai situasi, termasuk ketika menghadapi kekecewaan, ketidakadilan, perbedaan, maupun tanggung jawab yang belum pernah kita jalani sebelumnya.

 

Bagi saya, mengamalkan Pancasila berarti menjadikannya bagian dari cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila bukan sekadar rangkaian kata yang dihafal sejak kecil, tetapi merupakan pedoman yang membantu saya menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Ke depan, saya berkomitmen untuk terus menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sebagai bekal untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab, menghargai perbedaan, menjunjung keadilan, serta mampu memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Berita Terkait

Herman Deru Ajak Masyarakat Sumsel Perkuat Gotong Royong Hadapi Kemarau dan Karhutla
Polres Muba Tangkap Pelaku Pembakaran Hutan Di Bayung Lencir.
Peduli Warga, Kapolres Muba Salurkan Bansos dan Salurkan Bantuan Al-Qur’an
Langkahku untuk Menjadi Generasi Pancasila
Ceritaku dalam Lima Sila Pancasila
Wamen Kesehatan WamenDagri kunjungi RSUD Bari Palembang Pastikan Layanan Terbaik 
Belajar Menjadi Pribadi yang Lebih Baik melalui Nilai Pancasila
Update Perampokan Sadis Terhadap Petani Kopi Di Pagar Alam, Polres Tetapkan Tiga Pelaku DPO

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 13:17 WIB

Herman Deru Ajak Masyarakat Sumsel Perkuat Gotong Royong Hadapi Kemarau dan Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 - 11:29 WIB

Polres Muba Tangkap Pelaku Pembakaran Hutan Di Bayung Lencir.

Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:01 WIB

Peduli Warga, Kapolres Muba Salurkan Bansos dan Salurkan Bantuan Al-Qur’an

Selasa, 25 Agustus 2026 - 00:31 WIB

Langkahku untuk Menjadi Generasi Pancasila

Selasa, 25 Agustus 2026 - 00:28 WIB

Ceritaku dalam Lima Sila Pancasila

Berita Terbaru

Sumsel

Langkahku untuk Menjadi Generasi Pancasila

Selasa, 25 Agu 2026 - 00:31 WIB

Sumsel

Ceritaku dalam Lima Sila Pancasila

Selasa, 25 Agu 2026 - 00:28 WIB