Nama: Meylia Rahmawati
NIM : PO7131226026
Prodi : D4 Gizi
Menerapkan Pancasila dalam Kehidupan Sehari Hari di Lingkungan Sekitar
Pancasila bukan hanya lima sila yang harus dihafalkan, tetapi juga menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Menurut saya, penerapan Pancasila sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang sering kita lakukan. Entah itu sebagai masyarakat, siswa ataupun mahasiswa. Saya sebagai Mahasiswa tentunya saya menemukan banyak situasi yang membuat saya belajar untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila, baik dalam pertemanan, kegiatan kampus, maupun ketika bekerja sama dengan orang lain yang baru kita kenal.
Penerapan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa
Salah satu yang saya lakukan yaitu dengan menghargai teman yang memiliki agama dan keyakinan yang berbeda. Ketika berada di lingkungan kampus, saya bertemu dengan teman-teman yang memiliki latar belakang yang berbeda, termasuk dalam hal agama. Saya menyadari bahwa setiap orang memiliki hak untuk menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaannya. Karena itu, ketika ada teman yang sedang menjalankan ibadah atau kegiatan keagamaan, saya berusaha untuk menghormatinya dan tidak mengganggu. Menurut saya, kita tidak harus memiliki keyakinan yang sama untuk bisa saling menghargai. Justru dengan adanya perbedaan, kita belajar untuk lebih toleransi dan menghormati satu sama lain. Bukan hanya dikampus, melainkan dimana pun kita berada, kita harus menghargai semua keyakinan yang di anut oleh orang lain.
Penerapan sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Waktu itu saat saya masih sd yang saya rasakan ketika melihat teman mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan ataupun pelajaran disekolah. ketika kelas dimulai ada teman saya yang belum memahami materi atau belum mengetahui cara mengerjakan tugas, dan saya berusaha membantu sebisa saya agar teman saya mengerti dengan pelajarannya sehingga dia tidak sia sia menuntut ilmu nya. Begitu juga ketika ada teman saya yang sedang mengalami masalah, saya mencoba mendengarkan dan memberikan dukungan sebisa saya, agar teman saya merasa baikan dan tidak merasa frustasi sehingga teman saya bisa menyelesaikan masalah yang dia hadapi. Dari situ saya belajar bahwa sebagai sesama manusia, kita tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri. Membantu orang lain tidak harus selalu dalam bentuk sesuatu yang besar. Menurut saya, memberikan bantuan kecil dan memperlakukan orang lain dengan baik juga sudah menjadi bentuk kepedulian terhadap sesama.
Penerapan sila ketiga, Persatuan Indonesia
Pengalaman yang saya rasakan ketika pertama kali memasuki dunia perkuliahan. Saya bertemu dengan teman-teman yang berasal dari daerah, sekolah, dan memiliki kebiasaan yang berbeda-beda. Pada awalnya, tentu tidak mudah untuk langsung akrab karena kami belum saling mengenal. Namun, seiring berjalannya waktu, kami mulai berkomunikasi, bercanda, saling membantu, dan bekerja sama dalam berbagai kegiatan. Ketika mengerjakan tugas kelompok, kami tidak mempermasalahkan perbedaan yang ada, tetapi lebih fokus pada tujuan yang ingin dicapai bersama. Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa persatuan bukan berarti semua orang harus sama. Persatuan justru mampu tetap bersama dan bekerja sama meskipun memiliki banyak perbedaan. Walaupun berbeda tapi tujuan kita itu tetap bersama dan jangan pernah terpikir untuk membedakan semuanya karena dia tidak sama dengan kita, justru semua orang itu harus berbeda beda agar kita bisa mempelajari semua ilmu atau tradisi yang ada di daerah mereka.
Penerapan sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Di waktu Sma saya banyak sekali mengikuti semua kegiatan, entah itu di sma ataupun kegiatan diluar sma. Salah satu contohnya ketika saya mengikuti kegiatan pramuka di luar sekolah yang mengharuskan saya mengikuti seluruh rangkaian perlombaan dan disitu saya ditunjuk jadi panitia bahkan ketua pelaksananya yang dimana setiap kegiatan itu kita tidak bisa mengambil keputusan yang kita inginkan karena setiap orang itu memiliki pendapat yang berbeda. Jika semua orang hanya ingin pendapatnya sendiri yang diterima, tentu akan sulit untuk mencapai kesepakatan. Oleh karena itu, kami mencoba membuat rapat untuk mendengarkan pendapat masing-masing dan membicarakannya bersama, dari permasalahan tugas, kegiatan ataupun penanggung jawab disetiap lomba. Setelah semua pendapat disampaikan, kami mencoba menyelaraskan semua pendapat mereka sampai menemukan titik terang dari permasalahan ini. Sehingga kami mengambil keputusan yang telah disepakati bersama dengan solusi yang ringan. Dari situ saya belajar bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, tetapi harus diselesaikan dengan cara berdiskusi dan tidak memaksakan kehendak pribadi.
Penerapan sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Saat saya mengerjakan tugas kelompok. Dalam sebuah kelompok, setiap anggota memiliki tanggung jawab masing-masing. Saya dan teman-teman biasanya membagi tugas berdasarkan kesepakatan dan kemampuan masing-masing agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik. Menurut saya, tidak adil jika hanya beberapa orang yang mengerjakan tugas sementara anggota lainnya tidak ikut berkontribusi. Karena itu, setiap anggota harus memiliki kesempatan dan tanggung jawab yang sama untuk ikut menyelesaikan pekerjaan. Dengan pembagian tugas yang adil, pekerjaan menjadi lebih ringan dan hubungan antaranggota juga tetap baik.
Dari berbagai pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa penerapan Pancasila sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan saya sehari-hari. Menghargai perbedaan agama, membantu teman, menjaga persatuan, menghargai pendapat orang lain, dan bersikap adil merupakan hal-hal sederhana yang dapat dilakukan oleh setiap orang. Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan, tetapi harus dibuktikan melalui sikap dan tindakan. Bagi saya, memahami Pancasila akan lebih bermakna ketika nilai-nilainya benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar.














