Nama : Siti Nurhazizah
NIM : PO7131226056
Prodi : D4 Gizi
Ketika Pancasila Hadir Tanpa Disadari
Sebagai dasar negara, Pancasila bukan hanya simbol yang berdiri sendiri, melainkan cerminan dari cara hidup masyarakat Indonesia sehari-hari. Nilai-nilai itu ternyata bukan hanya sekedar simbol, tetapi sesuatu yang sangat berharga dan berperan besar dalam kehidupan sehari-hari kita, karena kelima sila itulah yang sebenarnya membentuk sikap, cara berpikir, dan cara bertindak kita sebagai bangsa Indonesia.
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, saya jalani melalui ibadah. Mulai dari puasa penuh selama Ramadan, bersedekah, hal yang sudah biasa dilakukan sejak SD. Lalu ketika saya baligh Alhamdulillah, Insyaallah tidak lupa sama yang namanya kewajiban. Sejak TK sampai SMP, lingkungan saya membiasakan hafalan dan mengaji, bahkan sempat mengikuti madrasah diniyah, selama dua tahun. Kebiasaan ini berlanjut hingga saya SMA melalui program tahfidz, di mana saya berhasil menyelesaikan hafalan juz 30. Bagi saya, proses panjang ini membantu membentuk karakter positif dalam diri saya terutama kedisiplinan dan kesadaran bahwa nilai ketuhanan perlu dijaga secara konsisten, bukan hanya saat merasa perlu.
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, tercermin dari kebiasaan saya membantu orang lain, sekecil apa pun bentuknya. Jujur saya senang membantu teman yang kesulitan memahami pelajaran atau menghadapi masalah lain, selama hal itu tidak memberatkan saya sendiri. Tidak hanya membantu teman, membantu orang-orang di sekitar seperti membantu orang tua yang kesusahan ketika menyebrang, lalu orang tua saya bahkan adik saya sendiri yang terkadang kesulitan melakukan sesuatu. Bagi saya, kepedulian tidak harus berbentuk sesuatu yang besar, hal-hal sederhana yang dilakukan secara tulus.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia, saya terapkan lewat kontribusi aktif dalam setiap kerja kelompok. Di lingkungan sekolah saya juga ikut serta dalam kegiatan gotong royong seperti bersih-bersih bersama, meskipun di luar lingkungan sekolah kegiatan semacam itu jarang saya ikuti karena sebagian besar aktivitas saya memang sering di sekolah. Sikap menghargai perbedaan juga saya jalani, misalnya ketika berteman dekat dengan salah satu anggota Paskibra yang berbeda agama, dan hal itu mengajarkan saya bahwa persatuan tidak mengharuskan keseragaman.
Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan, sangat terasa saat saya menjabat sebagai Buklu (ketua anggota putri) di Paskibra SMA PGRI 02. Walaupun posisi ini bukan posisi yang resmi secara menyurat namun, saya juga memiliki tugas yang sangat penting. Tugas saya saat itu adalah bertanggung jawab, mengatur, serta menjaga kekompakan sesama anggota terutama putri, dan musyawarah menjadi hal yang rutin dilakukan, terutama selama menjadi senior. Dari pengalaman ini saya belajar bahwa keputusan bersama, meskipun kadang memakan waktu lebih lama, biasanya lebih diterima semua pihak dibanding keputusan sepihak.
Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, saya wujudkan dengan bersikap adil kepada semua adik, teman atau siapa pun entah itu di rumah, sekolah, bahkan lingkungan masyarakat, terutama selama saya di ekstrakulikuler Paskibra tidak membeda-bedakan. Selain itu, kebiasaan kecil seperti selalu membawakan jajan untuk keluarga setiap kali bepergian juga menjadi bentuk kepedulian yang saya jaga, sebagai cara sederhana untuk tetap berbagi dengan orang-orang terdekat.
Menulis essay, ini membuat saya sadar ternyata saya sudah lama mengamalkan Pancasila.
















