Inflasi Sumsel Naik 0,27 Persen pada September, Volatile Food Jadi Pendorong Utama

- Redaksi

Rabu, 1 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala BPS Sumatera Selatan Moh Wahyu Yulianto saat diwawancarai usai rilis inflasi, Rabu (1/10/2025). Foto: Tia

Kepala BPS Sumatera Selatan Moh Wahyu Yulianto saat diwawancarai usai rilis inflasi, Rabu (1/10/2025). Foto: Tia

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan mencatat laju inflasi bulanan (month to month/mtm) di wilayah itu mencapai 0,27 persen pada September 2025, dipicu oleh kenaikan harga komoditas pangan bergejolak (volatile food).

Kepala BPS Sumatera Selatan Moh Wahyu Yulianto mengatakan inflasi bulan September menunjukkan tren kenaikan setelah sebelumnya mencatat deflasi 0,04 persen pada Agustus 2025. Meski demikian, inflasi Sumsel masih sejalan dengan angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,21 persen (mtm).

“Masih ada pekerjaan rumah pada Oktober, November, dan Desember. Diharapkan pemerintah daerah bersama instansi terkait dapat menjaga laju inflasi agar tetap dalam kisaran target 2,5 persen plus minus satu,” ujarnya saat rilis berita statistik di Palembang, Rabu (1/10/2025).

Menurut Wahyu, beberapa komoditas yang menyumbang inflasi terbesar di Sumsel antara lain cabai merah, emas perhiasan, daging ayam ras, sigaret kretek mesin, serta ayam hidup.

Ia menjelaskan, cuaca ekstrem turut memengaruhi stabilitas harga karena mengganggu produksi maupun distribusi bahan pangan.

“Jika dilihat dari kelompok pengeluarannya, tekanan inflasi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menyumbang 0,14 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,14 persen,” kata dia.

Sementara itu, beberapa kelompok pengeluaran mengalami penurunan harga (deflasi), di antaranya pakaian dan alas kaki sebesar 0,19 persen, perlengkapan dan peralatan rumah tangga 0,09 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,03 persen.

Berdasarkan wilayah, inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Muara Enim sebesar 0,35 persen, disusul Kota Palembang 0,30 persen, dan Kota Lubuklinggau sebesar 0,27 persen.

“Inflasi terendah tercatat di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sebesar 0,03 persen,” imbuhnya.

BPS mengingatkan pentingnya koordinasi lintas sektor untuk menjaga stabilitas harga, khususnya menjelang akhir tahun yang biasanya diwarnai peningkatan permintaan masyarakat.

Berita Terkait

Penggeledahan Ketiga Kasus OTT KUPP Sungai Lumpur, Penyidik Kejati Sumsel Sita Dokumen SPB Tahun 2024-2026
Mandek, SIRA Desak Kejati Sumsel Lakukan Supervisi Kasus Dugaan Monopoli Proyek di Pali
Feby Herman Deru: PMR Bukan Sekadar Ekskul, tetapi Garda Terdepan Kemanusiaan
Polisi Geruduk Tempat Hiburan Malam Elite di Palembang, 50 Pengunjung di Tes Urine 
Diduga Aniaya Sopir di Workshop, Direktur Perusahaan di Palembang Jadi Tersangka
Ribuan Jemaah Padati PSCC, Ratu Dewa Hadiri Tabligh Akbar Bersama Habib Syech
Diduga Cemburu, Suami Aniaya Istri hingga Bibir Pecah 
Proyek Pipa Transmisi Rp21 Miliar di PALI Belum Dibayar, Publik Desak Penanganan Hukum Transparan

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 15:51 WIB

Mandek, SIRA Desak Kejati Sumsel Lakukan Supervisi Kasus Dugaan Monopoli Proyek di Pali

Minggu, 7 Juni 2026 - 11:44 WIB

Feby Herman Deru: PMR Bukan Sekadar Ekskul, tetapi Garda Terdepan Kemanusiaan

Minggu, 7 Juni 2026 - 10:15 WIB

Polisi Geruduk Tempat Hiburan Malam Elite di Palembang, 50 Pengunjung di Tes Urine 

Minggu, 7 Juni 2026 - 10:01 WIB

Diduga Aniaya Sopir di Workshop, Direktur Perusahaan di Palembang Jadi Tersangka

Sabtu, 6 Juni 2026 - 20:31 WIB

Ribuan Jemaah Padati PSCC, Ratu Dewa Hadiri Tabligh Akbar Bersama Habib Syech

Berita Terbaru