Nama: Delva Melinda
NIM : PO7124126031
Prodi : D3 Kebidanan
Hubungan Diri Kita dengan Pancasila
Pada suatu pagi, Delva dan Wulan berjalan membawa sajadah menuju masjid. Di perjalanan, mereka tidak sengaja bertemu dengan tetangga baru mereka yang bernama Ayu.
Delva: “Ayu, yuk ikut salat Subuh bersama, biar ramai di masjid.”
Wulan: “Iya, sekalian jalan bersama saja.”
Ayu: “Delva, sebenarnya aku berbeda keyakinan dengan kalian.”
Delva: “Oh, maaf, Ayu. Aku tidak tahu sebelumnya.”
Wulan: “Hehe, memang setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda, ya.”
Delva: “Betul, Wulan. Kita harus saling menghargai meskipun cara beribadah kita berbeda.”
Wulan: “Iya, aku mengerti. Maaf ya, sebelumnya.”
Ayu: “Iya, tidak apa-apa. Semoga ibadah kita diterima oleh Tuhan, ya.”
Delva: “Amin. Dan selamat datang di desa kita, ya.”
Ayu: “Terima kasih. Yang penting, kita tetap rukun meskipun berbeda keyakinan.”
Delva: “Iya. Aku jadi lebih paham bahwa saling menghargai adalah hal yang utama.”
Percakapan tersebut mencerminkan sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, yang mengajarkan kita untuk menghormati perbedaan agama dan keyakinan.
Pada siang harinya, Delva berjalan sambil membawa keranjang buah untuk menjenguk adik Ayu yang sedang sakit. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Anisa dan Madina.
Delva: “Teman-teman, adiknya Ayu sedang sakit. Bagaimana kalau kita menjenguknya bersama-sama?”
Anisa: “Setuju. Kasihan kalau hanya sendirian di rumah.”
Madina: “Eh, apa tidak repot-repot? Dia kan miskin, paling juga tidak bisa membalas apa-apa.”
Delva: “Madina, jangan begitu. Justru kalau ada orang yang sedang kesusahan, kita harus peduli, baik kaya maupun miskin.”
Anisa: “Iya, perhatian kecil saja bisa membuat mereka bahagia.”
Madina: “Hehe, iya, iya. Aku ikut, deh. Tapi aku tidak mau membawa yang berat, ya.”
Delva: “Tidak apa-apa, yang penting kita bersama-sama.”
Anisa: “Aku paham. Sila kedua mengajarkan kita untuk saling menghargai dan berbuat adil kepada sesama.”
Percakapan tersebut merupakan contoh penerapan sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, yaitu peduli terhadap sesama tanpa membedakan status ekonomi.
Keesokan harinya, para warga berkumpul sambil membawa alat kebersihan untuk mengadakan kegiatan bersih-bersih pemukiman dan saluran air di desa.
Delva: “Ayo, teman-teman. Sekarang kita bersihkan pemukiman dan selokan agar tidak terjadi banjir.”
Anisa: “Ayo! Aku sudah membawa cangkul dan karung.”
Wulan: “Aku juga membawa sapu dan serokan, biar makin cepat.”
Delva: “Aku juga sudah menyiapkan makanan untuk kalian kalau sudah selesai.”
Madina: “Ah, malas banget. Capek, tahu. Apalagi selokan di depan rumahku tidak kotor.”
Delva: “Kalau selokan mampet, yang terkena banjir adalah semua rumah, termasuk rumahmu.”
Madina: “Iya juga, ya. Kalau begitu, aku mau membantu, deh.”
Wulan: “Nah, begitu dong. Lebih enak kalau dikerjakan bersama-sama.”
Delva: “Hehe, ternyata seru juga, ya, kalau ramai-ramai seperti ini. Kita bisa saling membantu dan pekerjaan cepat selesai.”
Madina: “Iya dong. Ini yang namanya mewujudkan nilai persatuan dalam kehidupan sehari-hari.”
Kegiatan tersebut mencerminkan sila ketiga, Persatuan Indonesia, melalui kerja sama dan gotong royong demi kepentingan bersama.
Pada sore hari, teman-teman berkumpul di rumah Dewi untuk bermusyawarah mengenai pembuatan taman bunga bersama hingga tercapai mufakat.
Dewi: “Teman-teman, bagaimana kalau halaman kosong di dekat musala kita jadikan taman bunga?”
Delva: “Ide bagus. Biar kampung kita semakin asri.”
Wulan: “Kalau menurutku, bunga mawar dan melati cocok ditanam karena mudah dirawat.”
Delva: “Aku setuju. Jangan lupa sediakan bangku untuk duduk santai.”
Madina: “Ah, lebih baik taman bunganya dibuat di depan rumahku saja, biar aku yang sering melihatnya.”
Dewi: “Tapi warga jadi sulit menikmatinya. Musyawarah itu harus sesuai dengan kepentingan bersama, Din.”
Madina: “Hehe, benar juga, ya. Kalau begitu, aku ikut keputusan musyawarah saja.”
Delva: “Nah, dengan ini mari kita sepakati bahwa taman bunga dibuat di dekat musala.”
Musyawarah tersebut mencerminkan sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, yaitu mengambil keputusan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.
Di balai desa, warga mengadakan pembagian makanan gratis dan makan bersama untuk seluruh masyarakat.
Dewi: “Teman-teman, makanannya sudah datang. Ambil secukupnya, ya, agar semua mendapat bagian.”
Delva: “Wah, sudah datang, ya. Jadi tidak sabar untuk makan bersama.”
Madina: “Kalau aku mengambil agak banyak, tidak apa-apa, kan? Aku juga berhak, loh.”
Dewi: “Madina, kalau kamu mengambil terlalu banyak, nanti yang lain tidak kebagian. Itu tidak adil.”
Wulan: “Benar. Sila kelima mengajarkan kita untuk selalu bersikap adil.”
Madina: “Hmm, benar juga. Kalau aku egois, orang lain bisa dirugikan.”
Delva: “Nah, lebih baik kita berbagi secara adil agar semua mendapatkan manfaatnya.”
Madina: “Oke, kalau begitu. Lebih adil jika semua mendapatkan bagian yang sama.”
Wulan: “Inilah contoh nyata sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”
Delva: “Jika keadilan ditegakkan, kesejahteraan bersama akan tercapai.”
Dari berbagai kejadian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pancasila tidak hanya perlu dihafalkan, tetapi juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari menghargai perbedaan keyakinan, peduli terhadap sesama, bergotong royong, bermusyawarah, hingga bersikap adil. Dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, kehidupan masyarakat dapat menjadi lebih rukun, damai, dan harmonis.







