Category: Budaya dan Pariwisata

  • Aksi Teatrikal Pantomim Pelajar Palembang Suguhkan Kehidupan Pinggiran Sungai Musi

    Aksi Teatrikal Pantomim Pelajar Palembang Suguhkan Kehidupan Pinggiran Sungai Musi

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Sejumlah pelajar di Kota Palembang yang tergabung dalam berbagai kelompok teater unjuk kebolehan dengan menampilkan kreativitas pementasan pantomim di Graha Taman Budaya Sriwijaya Jakabaring Palembang, tadi malam.

    Pementasan pantomim dengan tema ‘musiku musimu’, diperankan 30 pelajar dari berbagai sekolah. Di antaranya teater askuter SMK Muhammadiyah 1 Palembang, teater terkam SMKN 6 Palembang, teater satu dua SMPN 12 Palembang dan sejumlah seniman muda lainnya.

    Pertunjukan ini digarap oleh Palembang Mime Club bekerja sama dengan Blok E Art Company, serta berbagai kelompok teater pelajar yang ada di Kota Palembang.

    Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP), M Nasir yang hadir dalam acara tersebut mengaku sangat memberikan dukungan di setiap karya seni yang ditampilkan di Palembang.

    “Apalagi dimainkan oleh banyak generasi muda yang penuh talenta seperti halnya seni pantomim ini,” katanya.

    “Kita masih sangat jarang menyaksikan seni pantomim di mainkan. Pada hari ini berkat pelatihan dan pembinaan dari seniman asli Palembang Wak Dolah kepada generasi muda, maka kita kembali disuguhkan dengan pertunjukan yang jarang di lihat seperti pantomim ini. Semoga pementasan ini dapat mencetak bibit baru di dunia pantomim,” tambahnya.

    Sementara itu, Dedy, perwakilan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VI Sumatera Selatan yang juga hadir dalam kegiatan itu mengajak seluruh masyarakat khususnya pelajar agar melestarikan kebudayaan dan seni yang ada di Sumsel, termasuk seni pertunjukan seperti pantomim ini.

    “Melalui dukungan dana bantuan pemerintah fasilitasi pemajuan kebudayaan setiap seni budaya dapat ditampilkan, semoga dana bantuan pemerintah ini dapat menjadi dukungan bagi para seniman untuk berkarya lebih jauh lagi,” katanya.

    Menurutnya, BPK terus berusaha membantu para seniman dan pemerhati seni budaya yang ada di Sumsel khususnya Palembang untuk mewujudkan pelestarian budaya.

    Sedangkan M Dandi Afriza selaku ketua pelaksana berterimakasih atas bantuan dukungan dana dari pemerintah dalam fasilitasi pemajuan kebudayaan tahun 2025 sehingga kegiatan ini dapat terlaksana.

    Dengan mengusung tema Sungai Musi, kata Dandi pementasan ini menghadirkan cerita-cerita kehidupan masyarakat di pinggiran sungai melalui bahasa tubuh, gerak, dan ekspresi tanpa kata.

    “Para adik-adik pelajar dan seniman muda Palembang seperti Saleh, Bebeg, Dedi Jordan, Sukma, dan Nasrulah turut memperkuat komposisi pertunjukan,” ujarnya.

    “Sedangkan penggarapan musik dipercayakan kepada Randi dan Krismawan, visual dikerjakan oleh Rillo, serta tata panggung ditangani oleh Marta, Sonof, dan Koko. Pementasan ini diarahkan langsung oleh seniman asli Palembang Wak Dolah sebagai sutradara dengan Hasan sebagai supervisi,” tambahnya.

    Wak Dolah menjelaskan bahwa pemilihan seni pantomim dan tema Sungai Musi bukan tanpa alasan, karena Sungai Musi adalah nadi kehidupan masyarakat Palembang yang menyimpan banyak kisah dan kearifan lokal.

    “Sungai Musi bukan hanya aliran air yang membelah Kota Palembang, tetapi juga menjadi saksi tumbuhnya budaya lokal, kebiasaan, dan dinamika sosial masyarakat. ‘Musiku Musimu’ kami hadirkan sebagai bentuk refleksi kehidupan masyarakat Musi melalui seni tanpa kata yang menyentuh dan mendalam,” ujar Wak Dolah.

    Wak Dolah menambahkan kalau pementasan ini juga bertujuan memperkenalkan budaya dan tradisi masyarakat Musi kepada khalayak luas, meningkatkan apresiasi terhadap seni pantomim sebagai media ekspresi budaya, serta mendorong generasi muda untuk terlibat dalam pelestarian kearifan lokal. Kehadiran para pelajar tingkat SD, SMP, dan SMK dalam pementasan ini menjadi bukti bahwa seni pertunjukan dapat menjadi ruang kreatif yang inklusif dan edukatif.

    “Melalui pementasan ini, kami berharap dapat menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga budaya lokal, serta menginspirasi lahirnya kegiatan serupa di berbagai daerah. Pertunjukan ini juga menjadi sarana edukasi budaya yang menyajikan hiburan sekaligus pengetahuan mengenai kehidupan masyarakat di sepanjang Sungai Musi,” ungkapnya.

    “Dengan keberagaman tampilan seni dan kolaborasi para seniman muda, musiku musimu menjadi upaya nyata memperkuat identitas budaya Palembang sekaligus mendorong apresiasi masyarakat terhadap seni pertunjukan tradisional maupun kontemporer,” tuturnya menambahkan. (ANA)

  • Kain Tenun Tajung Ciri Khas Palembang Tetap Eksis hingga Sekarang

    Kain Tenun Tajung Ciri Khas Palembang Tetap Eksis hingga Sekarang

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Kain tenun Tajung warisan sastra (Wastra) di Palembang masih eksis di tangan pengrajin legendaris Udin Abdillah.

    Udin tetap konsisten menggeluti bisnis tekstil dan memberdayakan warga sekitar tempat tinggalnya sebaai upaya memberdayakan kearifan lokal agar tetap eksis.

    Kain tenun Tajung kini dibuat menjadi beberapa busana yang menarik dengan balutan berbagai motif. Seperti Limar, Bunga Tabur, Kotak dan lainnya.

    Saat ditemui di kawasan Tuan Kentang Kecamatan Jakabaring Palembang Udin mengaku bahwa usaha tekstil ini berawal dari ketertarikannya pada bidang budaya yang dimulai sejak tahun 1984.

    “Waktu itu umur saya 31 tahun, kain tenun Tajung ini juga merupakan warisan turun temurun dari orang tua,” ungkap Udin saat ditemui di rumahnya, Selasa (10/12/2024).

    Eksistensi wastra yang kian tergerus tidak membuat Udin menyerah dan terus konsisten menggeluti bisnis tekstil tersebut.

    “Alhamdulillah sekarang saya sudah mempekerjakan puluhan karyawan untuk membuat kain tenun Tajung ini,” ujar Udin.

    Di usianya yang menginjak 64 tahun Udin juga masih aktif menenun.

    Untuk menghasilkan satu kain tenun Tajung dibutuhkan 36.000 helai benang dengan memakan waktu 25 hari. Namun, penenun per meter hanya 3 sampai 4 hari.

    “Prosesnya dimulai dari pembuatan lusi atau pola benang di mesin, serta pembuatan pakaian motif,” kata Udin.

    Harga kain tenun Tajung bervariasi sesuai dengan motif dan bahan baku, dimulai dari 200 sampai 300 ribu rupiah per meter.

    “Alhamdulillah penjualan tidak hanya dari Palembang, tetapi sudah tembus pasar internasional, seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Belanda,” kata Udin.

    Dari sana, Udin makin optimistis Wastra yang merupakan salah satu identitas daerah ini menjadi sumber penghasilan sekaligus upaya mempertahankan kebudayaan Nusantara.

    “Mudah-mudahan usaha kain tenun Tajung ini makin berkembang, hingga kearifan lokal ini tidak tergerus oleh zaman,” tutur Udin. (ANA)

  • BRI Sabet Penghargaan Global Berkat Transformasi Digital melalui BRIAPI

    BRI Sabet Penghargaan Global Berkat Transformasi Digital melalui BRIAPI

    SUARAPUBLIK.ID, JAKARTA PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI kembali memperoleh pengakuan internasional dengan meraihpenghargaan Best API Initiative dalam ajang Global Retail Banking Innovation Awards 2024 yang diadakan oleh The Digital Banker di Singapore pada 24 Oktober 2024.

    Penghargaan ini diberikan atas keberhasilan BRI dalammengembangkan BRIAPI, layanan open banking API yang untuk mempercepat digitalisasi ekosistem perbankan di Indonesia. Prestasi ini menjadi bukti komitmen BRI untuk terusmenghadirkan solusi perbankan digital yang inovatif, aman, dan inklusif bagi masyarakat luas, serta memperkuat komitmendalam transformasi digital perbankan.

    Dikembangkan sejak tahun 2018, BRIAPI adalah solusi open banking yang memungkinkan ribuan mitra pihak ketiga untuk mengintegrasikan berbagai produk dan layanan BRI ke dalamplatform mereka. Dengan ratusan produk API, BRIAPI menyediakan fitur perbankan informasional, seperti informasimutasi dan rekening, hingga layanan transaksional sepertitransfer, BRIVA, Co-branding Credit Card, Tarik Tunai Tanpa Kartu, dan QRIS. Kehadiran BRIAPI mempermudah pemilikplatform digital untuk menyediakan layanan pembayaran dan informasi dari BRI.

    Penghargaan ini mengangkat kontribusi BRIAPI dalampemberdayaan dan digitalisasi ekosistem, khususnya ekosistem pendidikan melalui program Gerakan 1000 Sekolah. Melalui inisiatif ini, BRIAPI mendorong adopsi layanan perbankandigital di ribuan institusi pendidikan di seluruh Indonesia, dengan institusi pendidikan dan startup edtech kini mencakuphampir 17% dari basis mitra BRIAPI.

    Penghargaan ini juga menjadi bentuk apresiasi atas kemampuanBRIAPI dalam mempermudah integrasi bagi mitra, didukungoleh berbagai fitur seperti BRIAPI Developers Studio—sandbox environment yang memudahkan proses pengembangan, BRIAPI SPOT untuk pemantauan aplikasi, dan chatbot AI BRI, Sabrina, yang meningkatkan responsivitas operasional.

    Direktur Digital dan Teknologi Informasi BRI Arga M. Nugrahamenegaskan bahwa penghargaan ini mencerminkan komitmenBRI dalam mengembangkan teknologi yang inklusif, gunamemudahkan akses layanan perbankan dan mendorong inklusifinansial bagi seluruh lapisan masyarakat.

    Penghargaan ini merupakan pengakuan atas komitmen BRIterhadap inovasi dan inisiatif untuk meningkatkan aksesibilitaslayanan perbankan bagi semua. BRIAPI dikembangkan denganprinsip teknologi yang humanis, di mana inovasi dan transformasi digital diselaraskan dengan perluasan akses dan inklusivitas bagi seluruh pengguna,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Arga menambahkan bahwa penghargaan ini tidakhanya menjadi pengakuan bagi BRI tetapi juga menjadi motivasiuntuk terus berinovasi, menjawab kebutuhan digitalisasi, sertamemperkuat peran BRI dalam ekosistem keuangan digital di Indonesia.

    Dengan terus mengedepankan solusi yang fleksibel dan mudahdiakses, BRI berkomitmen untuk memberikan kontribusi nyatadalam memperluas akses perbankan, memastikan seluruhlapisan masyarakat dapat merasakan manfaat dari layanankeuangan digital yang aman dan andal,” pungkasnya.

    Melalui pengembangan BRIAPI dan berbagai inisiatif digital lainnya, BRI berkomitmen mempercepat digitalisasi layanan perbankan demi memudahkan akses keuangan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Dengan inovasi digital yang berkelanjutan, BRI optimis dapat menciptakan ekosistem perbankan yang lebih inklusif, memberdayakan komunitas, dan mendorong transformasi ekonomi digital secara menyeluruh. Langkah ini sejalan dengan visi BRI untuk menjadi The Most Valuable Banking Group in Southeast Asia and Champion of Financial Inclusion pada tahun 2025.

  • Masjid Lawang Kidul, Rumah Ibadah Islam Tertua Ketiga di Palembang

    Masjid Lawang Kidul, Rumah Ibadah Islam Tertua Ketiga di Palembang

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Jalur sungai menjadi alternatif untuk melakukan syiar agama Islam. Seperti Masjid Lawang Kidul yang berada di tepian Sungai Musi Palembang menjadi salah satu tempat penyebaran agama Islam.

    Masjid ini dibangun Mgs. H. Abdul Hamid (Ki Marogan) pada tahun 1881 silam. Meski usianya yang sudah ratusan tahun. Namun, tidak merubah keaslian bangunan masjid yang bergaya Tiongkok dan Nusantara.

    Kiagus M Fauzi selaku pengurus Masjid Lawang Kidul mengatakan, Masjid Lawang Kidul merupakan Masjid tertua ketiga setelah Masjid Agung dan Masjid Ki Marogan di Kertapati Palembang.

    “Masjid Lawang Kidul ini merupakan kembaran masjid Ki Marogan, karena yang buat kedua masjid orang yang sama, yakni Mgs. H. Abdul Hamid,” kata Fauzi saat ditemui di Masjid yang berada di Jalan Slamet Riyadi, Lorong Lawang Kidul, Kelurahan 5 Ilir, Kecamatan Ilir Timur (IT) II Palembang, Minggu (1/4/2024).

    Dinamakan Masjid Lawang Kidul sendiri karena posisi masjid yang menghadap sisi Selatan Sungai Musi atau bagian Hilir.

    “Jalur sungai menjadi alternatif penyebaran agama Islam di Kota Palembang sejak dahulu, dari itulah Kgs Abdul Hamid atau Ki Marogan membangun masjid Lawang Kidul di tepian Sungai Musi ini,” ungkap Fauzi.

    Dijelaskan Fauzi bahwa bangunan masjid bergaya Tiongkok dan Nusantara ini dibuat mirip dengan Masjid Agung Palembang.

    “Atapnya berbentuk Limas berundak dan dihiasi tanduk, ada tambahan mustaka juga di puncak kubah utama,” jelas Fauzi.

    Sementara di dalam masjid ditopang empat tiang soko guru dan tiang penyanggah lainnya.

    Tiang masjid terbuat dari kayu unglen, keunikan masjid juga terlihat dari mimbar masjid yang indah dengan ukiran khas Palembang.

    “Masjid Lawang Kidul mampu menampung hingga 1.500 jemaah,” terang Fauzi.

    Saat Ramadan kegiatan keagamaan juga makin giat dilaksanakan, seperti tausiah dan khatam Al-quran.

    “Di Masjid Lawang Kidul juga ada kegiatan buka puasa bersama,” tutur Fauzi. (ANA)

  • Jabat Ketua IKKM, Barkudin Ingin Lestarikan Budaya Komering

    Jabat Ketua IKKM, Barkudin Ingin Lestarikan Budaya Komering

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Barkudin terpilih sebagai Ketua Ikatan keluarga Komering Mengulak (IKKM) masa bakti 2024-2029. IKKM sendiri merupakan wadah bagi warga Komering yang sudah merantau di Palembang maupun Desa Mengulak sendiri.

    Barkudin mengharapkan, kepada warga asal Komering di manapun, baik yang berada di Palembang maupun di Desa Mengulak, tetap menjaga nama baik Ikatan Keluarga Komering Mengulak, dan juga menjujung tinggi persatuan, solid menjaga adat istiadat yang ditinggalkan nenek moyang dari dahulu.

    Salah satunya pemberian gelar pada setiap pernikahan, agar tidak luntur oleh budaya-budaya asing di tengah moderenisasi pergaulan saat ini.

    “IKKM salah satu wadah warga Komering yang sudah merantau untuk tetap menjalin silaturahim, baik langsung maupun tidak langsung,” ujarnya, Minggu (3/3/2024).

    “Saya berharap di mana pun warga Komering merantau harus tetap solid menjaga budaya daerah, khususnya warga Desa Mangulak. Karena mengapa, budaya Komering saat ini berangsur-angsur hilang, ditelan modernisasinya keadaan dan zaman,” ungkap Barkudin.

    Untuk diketahui, pelantikan Barkudin dilaksanakan di Sekretaris IKKM di kediaman Dewan Pembina, Romzi Bastari, di Jalan Padang Selasa, Bukit kecil Palembang. Pelantikan dihadiri ketua IKKM periode sebelumnya, Syarwani Ahmad, dan Kepala Desa Mengulak Ansori Anhar, dan tokoh-tokoh warga perantau Desa Mengulak lainnya, Minggu (3/3/2024).

    Disela-sela acara, Ketua IKKM sebelumnya, Syarwani Ahmad, mengharapkan agar ke depannya ketua terpilih yang baru Barkudi, dapat menjalankan organisasi dengan amanah. Menjujung tinggi kebersamaan tidak membeda bedakan golongan dan terus perkuat jalinan silaturahmi.

    “Jaga nama organisasi, terus junjung tinggi kebersamaan dan tidak membedakan golongan dan jaga silahturahim antar sesama,” jelasnya. (ANA)

  • Air Terjun Suban Kedubu, Objek Wisata Eksotis yang Belum Banyak Diketahui

    Air Terjun Suban Kedubu, Objek Wisata Eksotis yang Belum Banyak Diketahui

    SUARAPUBLIK.ID, EMPAT LAWANG – Suban Kedubu, merupakan salah satu air terjun yang berada di aliran sungai bayau. Letaknya pun berada di kaki gunung Dempo. Tepatnya di Talang Suban kedubu Desa Sawah, Kecamatan Muara Pinang, Kabupaten Empat Lawang.

    Saat ini air terjun Suban Kedubu merupakan air terjun tertinggi ketiga di aliran sungai. Setelah air terjun raja bau dan air terjun renteng yang memiliki ketinggian sekitar 40 meter.

    Ketua KPA Sawah Riki mengatakan, untuk mencapai lokasi air terjun tersebut, dari Desa Sawah membutuhkan waktu sekitar 1 jam mengunakan kendaraan roda dua khusus kebun menuju talang Suban Kedubu.

    “Kalau kendaran bisa parkir atau dititip dengan warga di sana, setelah itu lanjut berjalan kaki sekitar 15 menit atau kendaran bisa sampai kelokasi,” kata Riki.

    Sayangnya, ditambahkan Riki, sampai sejauh ini masih sedikit sekali orang yang berkunjung ke air terjun tersebut. Baik wisatawan lokal maupun wisatawan luar.

    “Ini dikarenakan jarak yang lumayan jauh dan harus menggunakan kendaran khusus serta minimnya info tentang air terjun ini. Meskipun tempatnya berada di tengah-tengah perkebunan warga,” ujarnya.

    Sampai sejauh ini hanya anak komunitas laskar penjelajah alam dan komunitas Pemuda pemudi peduli empat lawang saja yang sering mengunjungi air terjun suban kedunu tersebut. (ANA)

  • Dua Cagar Budaya Dirusak, Seniman Palembang Lapor Polisi

    Dua Cagar Budaya Dirusak, Seniman Palembang Lapor Polisi

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Usai menggelar demo di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), para seniman yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Cagar Budaya (AMPCB) Kota Palembang mendatangi Polrestabes, pada Jum’at petang (17/2/2023).

    Kedatangan mereka untuk berkoordinasi dengan aparat kepolisian Polrestabes Palembang terkait kasus perusakan dua cagar budaya. Yakni, Makam Krama Jaya di Jalan Segaran, Lorong Kambing, Kelurahan 15 Ilir, Kecamatan IT I, dan Balai Pertemuan di Jalan Sekanak Palembang.

    “Kita melaporkan perusakan cagar budaya. Ada dua objek diduga cagar budaya dirusak. Pertama makam dan kedua balai pertemuan,” kata Vebri Al Lintani, selaku Penanggungjawab AMPCB Palembang.

    Dia menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang Cagar Budaya, bahwa perusakan cagar budaya dapat dikenakan pidana. Oleh karena itulah, pihaknya membuat pengaduan ke Polrestabes Palembang untuk dilakukan penyelidikan dan menangkap pelaku perusakan.

    “Kita tidak tahu siapa yang merusak. Akan tetapi, sudah rusak. Tentu ada pelakunya. Seperti makam Krama Jaya, banyak batu nisan yang hilang. Balai pertemuan, jendela lama, kusen listrik sudah habis dirusak dan dicuri. Kusen itu kayu lama, pasti harganya mahal,” tegasnya.

    Usai melakukan koordinasi dengan penyidik Unit Harda Satreskrim Polrestabes Palembang, para seninam itu diminta melengkapi berkas pengaduan untuk diserahkaan ke Kapolrestabes Palembang, Kombes Pol Mokhammad Ngajib. (ANA)

  • Datang ke Bangka, Wajib Kunjungi Mercusuar Menyaksikan Pemandangan Laut Lepas yang Indah

    Datang ke Bangka, Wajib Kunjungi Mercusuar Menyaksikan Pemandangan Laut Lepas yang Indah

    SUARAPUBLIK.ID, BANGKA – Menara Suar atau Mercusuar Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1862, hingga saat ini masih berdiri kokoh.

    Selain itu, bangunan setinggi 65 meter tersebut juga masih berfungsi dengan baik dan memancarkan cahaya lampu sejauh 25 mil, untuk memandu kapal-kapal yang keluar masuk di perairan Selat Bangka.

    Saat ini, Mercusuar dapat dinikmati masyarakat umum. Cukup membayar Rp 5 ribu per satu orang, pengunjung sudah bisa menikmati keindahan Bangka Barat dari puncak Mercusuar.

    Untuk menuju puncak Mercusuar, pengunjung harus menaiki 199 anak tangga yang melingkar.

    Menapaki 199 anak tangga bukanlah hal yang mudah bagi mereka yang tidak terbiasa melakukan aktivitas berat.

    Namun, pengunjung tak perlu khawatir, pada tingkat ketiga, bisa istirahat sebentar sembari melihat keindahan laut dari balik jendela berbentuk bulat pada dinding Mercusuar.

    Setiap selang 10 tapak, anak tangga dibuat melebar berfungsi sebagai penanda tingkat.

    Semakin tinggi sampai ke tingkat 18, tangga batu digantikan oleh 19 tapak tangga yang terbuat dari besi. Dan mengantarkan ke bagian paling atas Mercusuar.

    Di ruangan berdiameter tiga meter itu, terdapat lampu Mercusuar yang terletak di tengah-tengah ruangan.

    Bagian luar menara dikelilingi teras melingkar dengan pagar pembatas warna merah.

    Dari puncak menara itulah pengunjung dapat menyaksikan wilayah Bangka Barat. Serta kapal-kapal nelayan di Pelabuhan Muntok.

    Mercusuar sendiri terletak di ujung barat pulau Bangka atau tepatnya di Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung.

    Melisa (29), salah seorang pengunjung mengatakan, dirinya nekat naik mercusuar lantaran punya data tarik tersendiri.

    “Mercusuar ini kan ibarat pintunya Bangka Barat, rugi kalau tidak naik,” kata Melisa.

    Meski harus menaiki 199 anak tangga. Namun, Melisa mengaku rasa capek itu terbayar dengan pemandangan di atas Mercusuar.

    “Alhamdulillah walaupun capek, tapi terbayar ketika sudah sampai atas, lihat pemandangan laut lepas yang begitu indah,” ungkap Melisa. (*)

  • Ketua DPRD Sumsel Hadiri Pengukuhan Panguyuban Warga Jawa Timur di Sumsel

    Ketua DPRD Sumsel Hadiri Pengukuhan Panguyuban Warga Jawa Timur di Sumsel

    PALEMBANG,SUARAPUBLIK.ID-  Ketua DPRD Provinsi Sumatera Selatan
    Ibu Hj. R.A. Anita Noeringhati, SH., MH., Menghadiri Pengukuhan Pengurus Paguyuban Jawa Timur, yang dihari secara langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Ibu Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Sos., dan Turut dihadiri oleh Gubernur Sumsel H Herman Deru.di Griya Agung, Kota Palembang, Sabtu (7/1/2023)

    Dalam sambutannya, Ketua DPRD Prov. Sumsel, yang juga sebagai Dewan Penasehat Paguyuban Jawa Timur Sumatera Selatan berharap semoga Paguyuban Jawa Timur semakin kokoh untuk bersinegri dengan Provinsi Sumatera Selatan dalam pembangunan untuk Sumatera Selatan Maju untuk Semua.

    Sementara Gubernur Sumsel,H Herman Deru juga mengajak Paguyuban Jatim di Sumsel melestarikan budaya ciri khas Sumsel maupun Jatim. Ia menyontohkan Reyog Ponorogo yang paling banyak disukai oleh masyarakat Sumsel. Termasuk kuliner khas Jatim seperti sate madura, rujak cingur dan rawon.

    Ia menilai, masyarakat Sumsel dan Jatim memiliki sifat ataupun watak yang hampir sama. Untuk itu ia yakin Paguyuban Jatim di Sumsel bisa membawa kerukunan di Sumsel.

    Dikesempatan yang sama Gubernur Jawa Timur Khofifah dalam sambutan, berharap Paguyuban Jatim bisa membangun kolaborasi bersama masyarakat Sumsel.

    “Banyaknya masyarakat Jatim yang bermukim di Sumsel adalah para transmigran yang mencari sumber penghasilan di daerah lain. Produktifnya kegiatan yang dilakukan mereka ini tentu memberikan kontribusi yang positif bagi Sumsel,” jelasnya.

    Disebutkannya, dari sektor pendidikan banyak pesantren yang tersebar. Selain itu, warga Jatim juga banyak yang mencari nafkah dengan berjualan. Hal itu, lanjut dia, bisa memberikan sumbangsih penguatan sektor ekonomi di Sumatera Selatan.

    Turut hadir juga Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Hudiyono yang turut hadir dalam prosesi pengukuhan juga memberikan apresiasi untuk Paguyuban Warga Jatim di Sumsel. Menurutnya, paguyuban menjadi Duta Budaya dan Duta Kuliner untuk mengenalkan tradisi khas Jawa Timur di Sumatera Selatan.

    “Mereka ini (Paguyuban Warga Jatim di Sumsel) menjadi duta budaya bagi Provinsi Jawa Timur. Mereka melestarikan kesenian tradisi seperti Reyog dan Tari Gandrung Banyuwangi. Di Palembang ini banyak yang jual Pecel Lele Lamongan. Ini sangat membantu promosi Jawa Timur agar lebih dikenal oleh masyarakat di luar daerah. Ke depan semoga paguyuban juga bisa turut mempromosikan Pariwisata unggulan di Jawa Timur,” harapnya.

    Hadir dalam acara tersebut, , Wakil Bupati Banyuasin, Bapak H. Slamet Somosentono, SH., Direktur Utama PT. Pusri Palembang, Bapak Drs. Tri Wahyudi Saleh, MM.

     

  • Cerita Penjaga Makam di Bukit Siguntang, Tak Pernah Terima Gaji

    Cerita Penjaga Makam di Bukit Siguntang, Tak Pernah Terima Gaji

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Bukit Siguntang salah satu destinasi wisata sejarah di Kota Palembang, terutama mengenai sejarah Kerajaan Sriwijaya.

    Di Bukit tersebut terdapat beberapa makam para tokoh kerajaan Sriwijaya.

    Kondisi peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Bukit Siguntang sangat memprihatinkan, rerumputan yang menjulang tinggi, serta dedaunan yang berserakan menandakan tempat bersejarah tersebut seperti tidak terawat.

    Namun, kendati demikian, kondisi 7 makam para raja, panglima, serta putri Sriwijaya yang berada di taman tersebut masih sangat terawat. Semua berkat sosok Salim (50), juru kuncen atau penjaga makam.

    Saat ditemui di lokasi, Salim nampak duduk menjaga makam Putri Kembang Dadar atau Putri Melur seorang putri berwajah cantik yang berasal dari khayangan.

    “Selama menjaga makam di sini (Bukit Siguntang) saya tidak pernah menerima gaji dari pemerintah Kota Palembang,” ungkap Salim, Senin (12/12/2022).

    Meski tak pernah menerima gaji sepeserpun dari pemerintah, Salim tak pernah absen untuk membersihkan makam para kerajaan Sriwijaya, sebab, ia menilai, tugas menjaga dan membersihkan makam memiliki nilai ibadah.

    “Gak ada libur, saya setiap hari membersihkan makam, dari awal menjaga makam niatnya memang untuk mencari amal,” ucap pria paruh baya itu.

    Salim sendiri di Bukit Siguntang dipercaya menjaga makam Putri Kembang Dadar.

    “Alhamdulillah, saya dipercaya untuk menjaga makam Putri Kembang Dadar,” katanya.

    Selain Salim, ada 2 juru kuncen lainnya, yang menjaga makam di Bukit Siguntang.

    Saat disinggung harapan ke depan kepada pemerintah mengenai soal gaji, Salim hanya tersenyum.

    “Jangankan mau memberi gaji Mba, taman ini dirawat saja saya sudah senang sekali,” ketusnya.

    Pria yang sudah 20 tahun menjadi penjaga makam tersebut sangat menyayangkan, peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Bukit Siguntang sudah tidak diperhatikan oleh pemerintah setempat.

    “Sangat disayangkan tempat bersejarah di Palembang ini seperti tidak diperhatikan oleh pemerintah setempat, contoh saja sekarang ini banyak rerumputan yang tumbuh menjulang tinggi di sekitar area Bukit,” terangnya.

    Padahal menurut Salim, tempat atau benda-benda bersejarah harusnya bisa dijaga kelestariannya.

    “Cara melestarikan benda atau tempat bersejarah sendiri dengan tidak mencoret dan membuat kotor, kebersihannya harus tetap terjaga,” jelasnya.

    Salim berharap, agar ke depan, keberadaan Bukit Siguntang lebih diperhatikan.

    “Yah harapannya Bukit Siguntang ke depannya bisa lebih terawat, jangan sampai seperti sekarang, merawatnya setengah-setengah,” harapnya.

    Terlebih lanjut Salim, jika di Bukit Siguntang juga terdapat 7 makam yang terpisah, diantaranya makam Raja Sigentar Alam, Putri Rambut Selako, Pangeran Batu Api, Pangeran Djunjungan, Putri Kembang Dadar, Pangeran Bagus Karang dan Pangeran Bagus Kuning.

    “Makam-makam tersebut kalau tidak dijaga bisa disalah gunakan oleh peziarah yang datang berkunjung,” tuturnya.

    Ari Panji Akademisi sekaligus Sejarawan Palembang mengungkapkan, sangat menyayangkan kondisi Bukit Siguntang yang terawat.

    “Saya pribadi sangat menyayangkan jika benar kondisi Bukit Siguntang tidak terawat, karena itu merupakan situs bersejarah,” ungkap Ari saat diwawancarai via telephone.

    Menurut Ari, situs bersejarah itu bukan hanya untuk masyarakat Kota Palembang, tapi juga untuk dunia khususnya bangsa Melayu.

    “Karena Bukit Siguntang merupakan cikal bakal masyarakat Melayu,” ujar Ari.

    Untuk itu lanjut Ari, tempat bersejarah tersebut hendaklah dijaga serta dilestarikan.

    Sebagai informasi, Bukit Siguntang sebagai dataran paling tinggi di Palembang, ketinggiannya mencapai 29-30 mdpl.

    Bukit Siguntang merupakan tempat yang dianggap suci dan berkharisma sejak abad ke 14-17.

    Di tempat ini terdapat makam para tokoh keturunan Kerajaan Sriwijaya.

    Tidak heran, jika kawasan Bukit Siguntang menjadi salah satu destinasi wisata sejarah, terutama mengenai sejarah Kerajaan Sriwijaya yang pernah menjadi pusat kegiatan agama Buddha di Nusantara.

    Bukit Siguntang sendiri berlokasi di jalan Sultan Mansyur, Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I Palembang.

    Bukit ini berjarak sekitar 4 kilometer dari pusat Kota Palembang dengan waktu tempuh 10 menit.

    Untuk menuju Bukit ini pengunjung dapat menggunakan angkutan kota (angkot) jurusan Bukit Besar, atau bisa juga melalui ojek online (ojol).

    Harga tiket masuk ke Bukit Siguntang Rp 5.000 per orang dewasa serta Rp 3.000 untuk anak-anak.

    Adapun jam operasional Bukit Siguntang sendiri dibuka setiap hari, dari pukul 08.00-16.00 WIB. (*)

  • Berani Coba Rumah Hantu di PTC Mall Palembang, Dijamin Bikin Histeris

    Berani Coba Rumah Hantu di PTC Mall Palembang, Dijamin Bikin Histeris

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Guna menyambut libur Natal 2022 dan Tahun Baru 2023 (Nataru), Sarang Hantu Indonesia (SHI) menghadirkan wahana rumah hantu di lantai M1 Palembang Trade Center (PTC) Mal.

    Di dalam wahana tersebut beragam jenis hantu yang dihadirkan mulai dari pocong, kuntilanak, hantu pengantin, dan nenek sihir.

    “Ada 10 hantu yang selalu berganti setiap hari menyesuaikan tema kami Misteri Kamar Mayat, jadi ada pocong, kuntilanak, hantu pengantin, nenek sihir, dan hantu-hantu lainnya,” ungkap Dendy Ketua Tim atau Pimpinan Hantu di wahana, Minggu (11/12).

    Bahkan, kata Dendy, para crew Sarang Hantu Indonesia juga memakai kostum dokter dan perawat karena tema Misteri Kamar Mayat tersebut erat kaitannya dengan rumah sakit.

    Pihaknya juga menyiapkan tim medis yang siap menangani apabila ada pengunjung yang pinsan karena ketakukan.

    “Setiap hari itu pasti ada sekitar lima orang yang pinsan karena ketakutan,” kata Dendy.

    Untuk merasakan sensasi menegangkan di wahana rumah hantu tersebut, pengunjung cukup merogoh kocek Rp 35.000 untuk weekday dan Rp 40.000 untuk weekend.

    Adapun jam operasional rumah hantu ini dimulai pukul 14.00 WIB hingga jam tutup mal.

    “Bagi anak-anak berusia di bawah 12 tahun, diwajibkan membawa pendamping,” terang Dendy.

    Sementara waktu yang diberikan bagi pengunjung memasuki wahana berkisar 3 hingga 5 menit.

    “Bagi yang penakut bisa 5 menit lebih di dalam, tapi kalau pengunjung yang berani 3 menit sudah keluar dari rumah hantu tersebut,” jelas Dendy.

    Nah bagi anda yang ingin merasakan keseruan berada di dalam rumah hantu ini kalian bisa datang langsung ke lantai M1 Palembang Trade Center (PTC) Mal.

    “Jadi wahana rumah hantu ini memang
    dipersiapkan untuk menyambut libur Natal dan Tahun Baru, Desember 2022 nanti sudah berakhir,” pungkas Dendy. (*)

  • Ada Goa Peninggalan Tentara Jepang di Palembang, Begini Kondisinya Sekarang

    Ada Goa Peninggalan Tentara Jepang di Palembang, Begini Kondisinya Sekarang

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Goa yang terletak di Jalan AKBP H Umar atau tepatnya berada di belakang Pasar KM 5, merupakan peninggalan tentara Jepang saat menjajah masyarakat Palembang.

    Pantauan di lokasi, Goa tersebut ditumbuhi rumput yang menjulang tinggi serta semak belukar, membuat tempat bersejarah tersebut seperti tak terawat.

    Berdasarkan informasi yang didapat, Goa tersebut dahulunya digunakan sebagai tempat persembunyian tentara Jepang.

    Bahkan, goa tersebut terhubung dengan pintu masuk di dekat RS Charitas dan Benteng Kuto Besak (BKB).

    Goa tersebut memang sangat cocok dijadikan tempat pertahanan dan tempat mengintai para musuh.

    Tapi sayangnya, goa dengan dua pintu tersebut sudah tak lagi terurus, tak hanya menimbulkan bau tak sedap, dinding goa tersebut juga dipenuhi dengan coretan tangan jahil orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

    Sejarawan Palembang Kemas Ari Panji mengungkapkan, Kota Palembang sendiri memilik banyak sekali cagar budaya.

    “Cagar budaya di Kota Palembang ini banyak ya. Namun, sayang tempat-tempat bersejarah tersebut terkesan dibiarkan begitu saja,” ungkap Ari, Rabu (16/11/2022).

    Ari pun sangat menyayangkan jika tempat peninggalan Tentara Jepang tersebut kondisinya tidak terawat.

    “Saya pribadi sangat menyayangkan kondisi Goa Jepang saat ini karena itu merupakan situs bersejarah,” ucap Ari.

    Menurut Ari, situs bersejarah itu bukan hanya untuk masyarakat Kota Palembang, tapi juga untuk dunia.

    Untuk itu lanjut Ari, tempat bersejarah tersebut hendaklah dijaga serta dilestarikan.

    “Pemerintah harusnya lebih peduli terhadap benda cagar budaya yang ada di Kota Palembang,” tutup Ari. (*)

  • Kenalkan Budaya Aksara Ulu Sumsel Lewat Pameran Batik Ulu

    Kenalkan Budaya Aksara Ulu Sumsel Lewat Pameran Batik Ulu

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Fasilitasi Bidang Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi menggelar Launching dan Pameran Batik Ulu Berbahan Alami, di Pelataran Bukit Siguntang, Minggu (23/10/2022).

    Acara ini sendiri untuk mengenalkan serta melestarikan Budaya Aksara Ulu di Sumsel.

    Ketua Perkumpulan Aksara Ulu Sumsel Nuzulur Ramadhona mengungkapkan, pameran kali ini mengangkat budaya atau kesenian aksara ulu yang dituangkan dalam bentuk sandang berbahan alami.

    “Ya, bentuk sandangnya ada baju, syal, kain, tanyak, batik, dompet dan lainnya, ” ungkap Nuzul saat ditemui di lokasi.

    Proses pewarnaannya pun juga menggunakan bahan bahan pewarna alami, sehingga tidak bisa mengurangi penggunaan pewarna kimia.

    “Kami juga ingin mengenalkan pewarna alami serta kebudayaan kepada masyarakat,” kata Nuzul.

    “Selain itu, harapannya dengan pameran ini akan semakin banyak yang mengurangi penggunaan senyawa kimia dalam pewarnaan tekstil sehingga bisa melindungi bumi, ” harap Nuzul. (*)

  • Gubernur Sumsel : Sang Juara Harus Menggali Potensi Kearifan Lokal

    Gubernur Sumsel : Sang Juara Harus Menggali Potensi Kearifan Lokal

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Pentingnya menggali, mengembangkan, dan melestarikan kearifan lokal, mendapat perhatian serius dari H Herman Deru, Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel). Hal itu terungkap saat orang nomor satu di Bumi Sriwijaya ini menghadiri Grand Final Sang Juara ‘Payo ke Museum’ di halaman Museum Negeri Sumatera Selatan, Kamis (20/10/2022).

    Kearifan lokal yang dimaksud Bupati OKU Timur dua periode (2005-2015) ini, Lomba “Sang Juara” diharapkan mampu mendorong dan melahirkan generasi muda yang bisa melestarikan nilai-nilai dan kebudayaan masyarakatnya.

    “Sebab kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat itu sendiri,” tegas pria kelahiran Belitang 17 November 1967 ini.

    Oleh sebab itu, Gubernur yang mendapat gelar Cek Deru ini, mengharapkan agar lomba Sang Juara “Payo Ke Museum” tetap diagendakan dan dilanjutkan. “Tujuannya melalui acara ini, dapat menciptakan siswa yang berani menghadapi kompetisi global, tanpa harus meninggalkan kearifan lokal,” tegas, alumnus Magister Manajemen STIE Trisna Negara 2008 ini, Kamis (20/10/ 2022).

    Dia menjelaskan, peserta lomba Sang Juara yang berasal dari berbagai sekolah di Sumatera Selatan ini merupakan calon pemimpin yang akan mengelola daerah. Oleh sebab itulah, calon pemimpin ini membutuhkan jiwa keberanian dan kompetisi sehingga bisa bersaing dengan daerah lain. “Apalagi lomba ini dilaksanakan oleh museum yang mindset orang museum itu tempat menyimpan benda pusaka,” katanya.

    Namun demikian, HD menyarankan agar tidak melihat usia dari benda pusaka ini. Sebab, benda tersebut mengandung nilai sejarah serta memiliki nilai seni yang tinggi.

    “Hasil peninggalan sejarah yang kita punya mengandung nilai seni yang tinggi. Padahal, waktu itu masih keterbatasan peralatan atau boleh dibilang dalam peralatan yang sangat minim. Namun orang tua kita tetap mampu menciptakan benda yang mencerminkan peradaban mereka saat itu,” kata Deru.

    Untuk itulah, dia menilai jika masyarakat Sumsel sudah dari dulu memiliki keberanian dalam berkompetisi.

    Sebab tanpa jiwa tersebut akan sulit menciptakan benda bersejarah yang memiliki nilai seni yang baik. “Peserta Sang Juara ini harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kompetisi secara terbuka. Siapkan diri untuk menghadapi kompetisi dengan bekal ilmu pengetahuan tanpa meninggalkan kearifan lokal,” katanya.

    Oleh sebab itulah, dia meminta Museum Negeri Sumatera Selatan untuk meneruskan lomba Sang Juara dengan inovasi yang berbeda. Dengan begitu diharapkan agar peserta yang berasal dari kalangan milenial ini bisa membangun jiwa keberanian dalam kompetisi tanpa meninggalkan kearifan lokal.

    “Pada kesempatan ini saya minta Pak Chandra (Kepala UPTD Museum Negeri Sumsel) bahwa acara ini harus diteruskan. Tapi jangan berkutat menjadi acara ritual saja, tapi saya berharap ada berkesinambungan dengan inovasi baru karena siswa ini punya disiplin ilmu yang berbeda-beda,” saran Herman Deru.

    Sementara itu, Grand Final Sang Juara dengan tema Payo ke Museum berlangsung dengan meriah. Masing-masing sekolah mengutus suporter untuk menyemarakkan lomba dengan beragam yel-yel kreatif.

    Penampilan yel-yel ini pun menjadi bagian penilaian dewan juri dalam mencari juara umum yang memperebutkan piala bergilir Gubernur Sumsel dan uang pembinaan sebesar 5 juta rupiah.

    Dalam kesempatan ini dihadiri juga Ketua Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) Sumsel, Hj Samantha Tivani, Staf Ahli Gubernur bidang Kebudayaan, Agus Sutikno, Staf Ahli Gubernur bidang Kependudukan Hidayat Comsu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar Sumsel) Dr H Aufa Syahrizal, Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan, H Chandra Amprayadi, serta sejumlah seniman dan budayawan Sumsel lain.

    Dari hasil seleksi dewan juri, SMAN 1 Palembang berhasil meraih juara pertama dalam lomba yel-yel. Selanjutnya juara kedua SMAN 15 Palembang dan terakhir SMAN 1 Gelumbang.

    Keseruan Grand Final juga terlihat saat berlangsungnya lomba Sang Juara. Para finalis yang mewakili sekolahnya berusaha meraih podium tertinggi Sang Juara.

    Setelah berlangsung secara alot, perwakilan dari SMAN 6 Palembang Tiara Jannah dan RA Refa Agustina, berhasil meraih juara pertama dan kedua. Sementara juara ketiga diduduki Reva Marselah dari SMAN 8 Palembang.

    Dalam momen ini, dewan juri juga memutuskan SMAN 6 Palembang meraih juara umum yang dinilai berhak menerima Piala Gubernur Sumsel dan uang pembinaan sebesar Rp5 juta. Raihan juara umum ini hasil akumulasi dari lomba Sang Juara, penampilan yel-yel dan video challenge.

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak museum yang sudah mengadakan lomba ini. Semoga Museum Negeri Sumsel semakin jaya,” ucap Guru Pendamping SMAN 6 Palembang, Leny Parlina, S.Pd.

    Pihaknya juga mengaku memberikan pendidikan sejarah secara intens kepada para finalis sebelum Grand Final ini.

    “Selama mengikuti sang juara, anak-anak kami sangat antusias dalam berlatih serta
    belajar dan menghafal mengenai soal sejarah dan pengetahuan umum,” tutupnya. (*)

  • Parade dan Anugerah Teater Sekolah Dimulai, Fortas Usung “Puyang Leluhur”

    Parade dan Anugerah Teater Sekolah Dimulai, Fortas Usung “Puyang Leluhur”

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Menandai dimulaianya Parade dan Anugerah Teater Sekolah se-Sumsel 2022, Forum Teater Sekolah (Fortas) Sumsel mengusung Teater Sangsas Madrasah Aliyah (MA) Patra Mandiri Palembang shoting perdana di TVRI Sumsel, Sabtu (15/10/2022).

    Naskah “Puyang Leluhur” karya dan sutradara Eka Armawati, S.Pd ini, tampil di layar kaca TVRI Sumsel dalam durasi 40 menit. Parade Teater dilanjutkan dengan “Bedah Panggung” dengan menghadirkan tokoh teater Sumsel, Toton Dai Permana di pandu Imron Supriyadi, Jurnalis senior di Palembang.

    Dalam diskusi singkat itu, Toton yang mengenal teater sejak tahun 1979 saat di Teater DD Palembang ini menilai, sebagai pemula, pementasan Teater Sangsas sudah lumayan baik. Hanya saja masih diperlukan perbaikan dari berbagai sisi. Baik keaktoran, artistik, penguatan konten naskah dan penyutradaraan.

    “Kalau melihat secara umum, sebagai teater sekolah sudah baik. Tetapi ini tetap perlu banyak evaluasi dan perbaikan, agar ke depan bisa tampil lebih maksimal. Teruslah saja berkarya dan belajar dan belajar,” ujar pendiri Teater 707 Palembang.

    Toton juga menyarakan, naskah “Puyang Leluhur” bila kemudian didasari tradisi mistik di sebuah daerah di Sumsel, akan lebih baik diwarnai dengan alunan musik yang bisa membangun suasana kedaerahan, tempat peristiwa itu terjadi.

    Pendiri Teater Umak Palembang ini juga memisalkan, ada tradisi di Pagaralam, atau di OKU Selatan atau di daerah yang berbasis suku Pasmah, maka dalam pementasan teater bisa memunculkan tradisi di daerah itu. Boleh dengan musik, sastra tutur, diantaranya geguritan, tadud atau apa saja yang bisa mewakili daerah tempat peristiwa terjadi.

    “Konten daerah, apalagi ada tradisi mistik boleh saja diusung. Tetapi akan lebih baik, suasana magis dan lokasi kejadian didukung dengan ilustrasi musik, atau tradisi sastra lisan, seperti geguritan, tadud di daerah itu. Jadi musik bukan sekadar backsund pentas, tetapi juga punya makna atau mewakili daerah tertentu, sesuai konten naskah yang sedang diusung di atas panggung,” ujarnya.

    Menanggapi kritik dari penulis novel “Angin” itu, Eka Armawati sebagai sutradara dan penulis naskah “Puyang Leluhur” merespon positif. Eka mengakui dalam garapan teaternya, masih diperlukan masukan dari berbagai pihak untuk perbaikan, supaya teater di MA Patra Mandiri di masa mendatang akan bisa tampil lebih baik.

    “Kami siap untuk terus berproses belajar. Anak-anak kami dan saya juga akan ikut proses latihan, tertama latihan dasar teater, sehingga ke depan kami akan lebih banyak mengetahui ilmu teater, dan bisa tampil lebih baik lagi,” ujarnya dalam perbincangan informal bersama Toton Dai Permana dan pegiat teater lain di Palembang, Erwin Janim dan Yussudarson (Sonov) usai shoting di TVRI Sumsel, Sabtu (15/10/2022).

    Terpisah, Ketua Fortas Sumsel, Yosep Suterisno, SE menyatakan pementasan Teater Sangsas di TVRI Sumsel ini merupakan shoting perdana. Pekan selanjutnya Fortas akan akan menyeleksi teater sekolah lain yang sudah lolos kurasi dari Tim Fortas Sumsel.

    “Ini perdana, kita shoting di TVRI Sumsel. Pekan selanjutnya masih ada lima puluhan teater sekolah yang antri, untuk kita kurasi. Jadi yang akan tampil ini harus lolos kurasi Fortas Sumsel. Sebab kita punya standar yang harus sesuai dengan rambu-rambu TVRI Sumsel. Shoting perdana ini menandakan Fortas serius kerja bareng dengan TVRI Sumsel, untuk menyongsong Anugerah Teater sekolah se-Sumsel yang akan kita gelar Maret tahun depan,” tegas jebolan Teater Leksi Palembang, usai pementasan Teater Sangsas di TVRI Sumsel, Sabtu (15/10/2022).

    Yosep menambahkan, shooting ini akan berjalan sesuai jadwal. Oleh sebab itu, program yang sudah diagendakan bersama TVRI Sumsel ini tidak boleh berhenti di tengah jalan.

    “Ini adalah ruang berkreasi bagi anak-anak teater di sekolah dalam jangka panjang, apalagi kita dan TVRI Sumsel sudah bersepakat mengusung program ini. Jadi ini tidak boleh berhenti. Kita akan terus berkarya,” tandasnya.

    Ditanya soal data teater sekolah yang sudah masuk dalam jaringan dan mitra Fortas Sumsel, Yosep mengatakan, terhitung sejak Agustus 2022, pihaknya sudah mendata ada 50 teater sekolah di Sumsel yang sudah siap ikut serta dalam Parade dan Anugerah teater Sekolah se-Sumsel 2022. Data ini menurut Yosep didapatkan saat Fortas Sumsel menggelar Temu Teater di Aula TVRI Sumsel pada 1 Agustus 2022.

    “Sampai hari ini, menurut data litbang kami ada lima puluh teater sekolah di Sumsel yang Insya Allah akan menjadi mitra kita bersama TVRI Sumsel, untuk menuju Anugerah Teater Sekolah tahun depan, bagi yang belum terdaftar silakan hubungi Fortas di link https://fortassumsel.blogspot.com/p/kontak-kami.html. Kita sangat terbuka,” jelasnya.

    Tim Fortas Sumsel
    1.Yosep Suterisno, SE (Ketua Umum)
    2.Imron Supriyadi, S. Ag, M. Hum (Sekretaris Umum)
    3.Wila Rosi (Bendahara)
    4.Erwin Janim (Kadiv. Program)
    5.Yussudarsin (Sonov) (Kadiv. Diklat dan Pemberdayaan)
    (*)

  • Festival Teater 2022 Libatkan 12 Komunitas dari 9 Provinsi di Sumatera

    Festival Teater 2022 Libatkan 12 Komunitas dari 9 Provinsi di Sumatera

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Sukses menggelar Festival Teater Sumatera (FTS) pada 2021, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan kembali menggelar kegiatan yang melibatkan sejumlah komunitas teater.

    Para komunitas ini berasal dari sembilan Provinsi di Pulau Sumatera. Rencananya, kegiatan berlangsunh di Taman Budaya Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, 29 September-1 Oktober 2022. FTS 2022 mengusung tema “Ritual of Healing”.

    Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan, Aufa Syahrizal, menjelaskan Sumatera merupakan Pulau yang sangat penting dalam sejarah peradaban bangsa Indonesia.

    Berbagai pengetahuan luhur lahir dan tumbuh pada masyarakat di Sumatera, yang memberi arti bagi peradaban bangsa Indonesia, termasuk bangsa lainnya di Asia.

    “Pekerja seni teater merupakan seniman yang berkarya atas dasar berbagai pengetahuan luhur tersebut. Baik karya yang melestarikan maupun yang mengembangkan. Setelah sukses menyajikan tema Sriwijaya dalam Jejak Rempah pada 2021, pada 2022 ini kita menyajikan karya komunitas teater di Sumatera dengan tema Ritual of Healing,” kata Aufa, Rabu (28/9/2022).

    Dia berharap, para pekerja teater di Sumatera, dapat menyajikan beragam produk kearifan lokal, seperti nilai-niai spiritualitas melalui ritual, upacara, dan tradisi adat, lainnya.

    “Nilai-nilai keluhuran masa lalu dari peradaban di Sumatera yang penting atau tetap dipertahankan antara lain, keterbukaan, egaliter, kebersamaan dan keberlanjutan. Nilai-nilai ini yang selama belasan abad membangun peradaban bangsa Indonesia,” terangnya.

    Adapun tujuan dari FTS 2022 ini, pertama, mempererat silahturahim antarpekerja teater se Sumatera dalam menarasikan karya-karyanya, terkait tematik ritual dan prosesi budaya yang ada di tiap daerah.

    Kedua, menggali nilai-nilai luhur peradaban masa lalu khususnya di Pulau Sumatera, serta mengaktualisasikan dan memaknainya dalam praktik karya kebudayaan hari ini.

    Ketiga, menguatkan peranan teater sebagai rumah belajar, mengelola, dan memproduksi berbagai pengetahuan luhur bangsa Indonesia.

    Keempat, menguatkan agenda Pemajuan Kebudayaan nasional yang dikaitkan dengan pokok-pokok pikiran kebudayaan daerah (PPKD).

    12 Komunitas Teater

    Chandra Amprayadi, Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Museum Negeri Sumatera Selatan, menjelaskan jumlah komunitas teater yang terlibat dalam FTS 2022 sama seperti pada FTS 2021 lalu, yakni 12 komunitas. Dari Aceh hingga Lampung.

    “Namun tidak semua komunitas teater yang berekspresi pada FTS 2021, kembali tampil pada FTS 2022. Semua komunitas teater dari luar Sumatera Selatan mewakili provinsinya,” kata dia.

    Sementara itu, ketua penyelenggara Taufik Hidayat mengatakan, bakal ada 12 komunitas teater tersebut yang akan menyemarakan, yakni Komunitas Seni Tanda Tanya (Aceh), Teater Rumah Mata (Sumatera Utara), Teater Senyawa (Bengkulu) dan Teater Umak (Sumatera Selatan).

    Kemudian, Teater Oncak (Sumatera Selatan), Lembaga Teater Selembayung (Riau), Teater Tonggak (Jambi), Sanggar Dulmuluk Harapan Jaya (Palembang), Komunitas Berkat Yakin (Lampung), Komunitas Seni Nan Tumpah (Sumatera Barat), Dewan Kesenian Belitung (Kepulauan Bangka Belitung), dan Teater Potlot (Palembang).

    “Selain penampilan 12 komunitas teater se-Sumatera, kita juga akan lakukan diskusi 12 karya, teater, dan FGD Taman Budaya se-Sumatera,” tuturnya. (ANA)

  • Tarif Tiket Masuk Pulau Komodo Rp3,75 Juta Ditunda Hingga 1 Januari 2023

    Tarif Tiket Masuk Pulau Komodo Rp3,75 Juta Ditunda Hingga 1 Januari 2023

    SUARAPUBLIK.ID, NTT – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menunda pemberlakuan tarif baru untuk masuk ke kawasan wisata Pulau Komodo dan Padar, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, hingga 1 Januari 2023.

    “Pemerintah Provinsi NTT memberikan dispensasi selama lima bulan ke depan atau tetap berlaku tarif lama masuk Pulau Komodo maupun Pulau Padar. Pemberlakuan tarif baru sebesar Rp3,75 juta mulai berlaku pada 1 Januari 2023,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur Zeth Sony Libing kepada wartawan di Kupang, NTT, seperti dikutip dari cnn indonesia, Senin (8/8/2022).

    Ia menjelaskan, pemberlakuan tarif baru sebesar Rp3,75 juta yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi NTT mulai berlaku resmi pada 1 Januari 2023.

    Dengan demikian, menurut dia, selama periode Agustus – Desember 2022, wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang masuk ke Pulau Komodo dan Padar, tetap berlaku tarif lama yaitu Rp75 ribu bagi wisatawan domestik dan Rp150 ribu bagi wisatawan mancanegara.

    Dia menjelaskan, pemberian dispensasi itu merupakan saran Presiden Joko Widodo dan masukan dari sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama di Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

    “Pemberian dispensasi ini merupakan atas saran dan masukan dari berbagai pihak termasuk arahan dari bapak Presiden Joko Widodo. Pemerintah NTT tentu tetap memperhatikan semua masukan dari berbagai pihak seperti masukan dari Bapa Uskup Ruteng Mgr Siprianus Hormat, para alim ulama, para pendeta, dan tokoh-tokoh masyarakat di daerah itu,” kata Zeth.

    Menurut dia, selama lima bulan, Pemerintah NTT akan mempersiapkan berbagai fasilitas dan infrastruktur dalam kawasan wisata Pulau Komodo dan Pulau Padar serta mengintensifkan kegiatan sosialisasi dengan berbagai pihak seperti kalangan gereja, tokoh-tokoh masyarakat dan berbagai pihak di kabupaten ujung barat Pulau Flores itu terkait pemberlakuan tarif baru sebesar Rp3,75 juta.

    Ia menegaskan para wisatawan yang ingin membeli tiket masuk ke Pulau Komodo dan Padar yang berkunjung mulai 1 Januari 2023 sudah bisa mendaftar melalui aplikasi INISA dimiliki PT Flobamor.

    “Para wisatawan yang ingin melakukan pembelian tiket masuk ke Pulau Komodo dan Padar sudah bisa dilakukan saat ini untuk pelaksanaan kunjungan wisata mulai 1 Januari 2023,” kata Zeth. (*)

  • Sriwijaya Travel Fair Promosikan Pariwisata Malaysia

    Sriwijaya Travel Fair Promosikan Pariwisata Malaysia

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Sriwijaya Travel Fair (STF) 2022 menjadi kegiatan promosi perdana yang diikuti Tourism Malaysia Medan di tahun 2022. Setelah berbagai tahapan relaksasi atau kelonggaran prosedur masuk ke Malaysia bagi wisatawan mancanegara.

    Penyertaan Tourism Malaysia Medan pada STF ini bukanlah yang pertama kalinya. Sebelum pandemi COVID-19 melanda dunia, Tourism Malaysia telah beberapa kali mengikuti pameran wisata terbesar di Palembang, sebagai bukti komitmen Tourism Malaysia Medan dalam mendukung kegiatan pariwisata kedua negara, Indonesia dan Malaysia.

    STF 2022 sendiri merupakan event yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui Dinas Kebudayaan dan pariwisata, bekerjasama dengan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) dan Asosiasi Perusahaan Penyelenggara Pameran dan Konvensi Indonesia (ASPERAPI).

    STF 2022 diadakan di Atrium Palembang Trade Centre (PTC) Mal, pada 5-7 Agustus 2022. Pameran wisata ini diikuti sejumlah Badan promosi, Dinas Pariwisata, Hotel, Resort, Kuliner, Travel Agent, Jasa Transportasi dan pemain industri pariwisata lainnya dari seluruh Indonesia.

    Konsul Muda Pelancongan/Deputy Director Tourism Malaysia Medan, Yusnita Yusof mengatakan, bahwa penyertaan Tourism Malaysia dalam STF 2022 ini sebagai peluang untuk bertemu dengan stakeholders industri pelancongan di Sumatera Selatan, serta masyarakat Palembang secara langsung.

    Memberikan informasi yang akurat dan terkini mengenai prosedur masuk ke Malaysia dan juga menawarkan destinasi-destinasi menarik Malaysia yang dipromosikan bersama ASITA Palembang.

    “Dengan demikian dapat memberikan kontribusi terhadap jumlah wisatawan mancanegara berlibur di Malaysia, terutama bagi warga Palembang dan Sumatera Selatan,” jelas Yusnita, Jum’at (5/8/2022).

    Pada STF 2022 ini Tourism Malaysia menawarkan paket wisata yang dipromosikan oleh beberapa travel di Palembang, diantaranya 3 hari 2 malam Kuala Lumpur-Genting Highland, 4 hari 3  malam Batam–Johor-Kuala Lumpur, dan 5 hari 4 malam Johor Bahru–Kuala Lumpur.

    Sementara itu, Ketua ASITA Sumatera Selatan, Anthon Wahyudi mengatakan sangat gembira atas kehadiran Tourism Malaysia pada perhelatan ini, Anthon optimis dalam waktu dekat akan ada penerbangan langsung dari Palembang ke Malaysia sehingga Sumatera Selatan akan mudah dikunjungi baik oleh pelancong, pebisnis dan lainnya.

    Sementara itu, statistik wisatawan ke Malaysia mencatat kedatangan 98,053 pada kuartal pertama tahun 2022, Januari-Maret. Dari kedatangan seluruh wisatawan mancanegara pada kuartal pertama tahun 2022 tersebut, sebanyak 6,945 adalah wisatawan dari Indonesia.

    “Adanya pandemi menyebabkan tren pelancongan berubah. Orang-orang menginginkan kawasan yang selamat untuk mereka bercuti. Kehadiran kami juga adalah untuk meyakinkan kepada penduduk Palembang maupun Sumsel bahwa Malaysia adalah destinasi yang aman dan nyaman untuk berlibur bagi semua kalangan, baik mereka yang bepergian seorang diri maupun beramai-ramai dalam rombongan tour. Maka itu, jom pigi Malaysia, bercutilah di Malaysia,” ujar Yusnita Yusof. (ANA)

  • Luhut : Demi Jaga Kelestarian Sejarah-Budaya, Soal Harga Tiket Candi Borobudur

    Luhut : Demi Jaga Kelestarian Sejarah-Budaya, Soal Harga Tiket Candi Borobudur

    SUARAPUBLIK.ID, JAKARTA – Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan alasan pemerintah memutuskan menaikkan harga tiket ke Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
    Menurut Luhut, hal ini dilakukan demi melestarikan kekayaan sejarah dan budaya Indonesia.

    “Langkah ini kami lakukan semata-mata demi menjaga kelestarian kekayaan sejarah dan budaya nusantara,” kata Luhut dalam akun Instagramnya, dikutip cnn indonesia Minggu (5/6/2022).

    Diketahui, tarif untuk naik ke Candi Borobudur menjadi Rp750 ribu untuk wisatawan domestik, sementara itu US$100 untuk wisatawan asing. Sedangkan harga untuk pelajar yaitu Rp5 ribu.

    Pemerintah sepakat membatasi kuota turis ke Candi Borobudur hanya 1.200 orang per hari.

    Luhut mengatakan nantinya semua turis wajib menggunakan jasa pemandu wisata atau tour guide dari warga lokal sekitar kawasan Borobudur. Harapannya, bisa memberikan lapangan kerja baru bagi warga sekitar sekaligus menumbuhkan rasa memiliki atau sense of belonging.

    “Sehingga rasa tanggung jawab untuk merawat dan melestarikan salah satu situs sejarah nusantara ini bisa terus tumbuh dalam sanubari generasi muda di masa mendatang,” ujar dia.

    Luhut menerangkan saat ini pemerintah tengah bergotong royong mengembangkan konsep Candi Borobudur sebagai laboratorium konservasi cagar budaya bertaraf internasional.

    Ia pun menekankan kembali sinergi antara konservasi dan pariwisata melalui mekanisme badan otoritas tunggal (single authority agency). Hal tersebut, sambungnya, dimaksudkan agar Borobudur bukan hanya menjadi salah satu dari lima destinasi wisata super prioritas, tetapi juga destinasi wisata berkualitas.

    Selain itu, Luhut memastikan arahan Jokowi terkait penerapan prinsip ekonomi biru, hijau, dan sirkular.

    Oleh karena itu, mulai Sabtu (4/6), pemerintah melaksanakan uji coba penggunaan bus listrik sebagai shuttle bus kendaraan pariwisata Magelang-Yogyakarta. Rute perjalanan shuttle bus ini meliputi Borobudur-Malioboro-Prambanan. (*)

  • Wah ! Harga Tiket Masuk Borobudur Jadi Rp750 Ribu

    Wah ! Harga Tiket Masuk Borobudur Jadi Rp750 Ribu

    SUARAPUBLIK.ID, JAKARTA – Candi Borobudur menjadi trending topic di media sosial Twitter setelah pemerintah mengumumkan harga tiket masuk ke kawasan candi untuk wisatawan domestik jadi sebesar Rp750 ribu. Pengumuman tarif baru ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

    “Kami juga sepakat untuk membatasi kuota turis sebanyak 1.200 orang per hari, dengan biaya 100 dollar untuk wisman dan turis domestik sebesar 750 ribu rupiah. Khusus untuk pelajar, kami berikan biaya 5.000 rupiah saja,” ujar Luhut melalui akun Instagram pribadinya @luhut.pandjaitan, Sabtu (4/6) dikutip cnn Indonesia, Minggu (5/6/2022).

    Tarif baru yang dianggap terlalu tinggi tersebut mengundang berbagai komentar dari warganet, Minggu (5/6) pukul 10.24 WIB, kata kunci Borobudur di twitter telah mencapai lebih dari enam ribu cuitan.

    Salah satu cuitan datang dari akun @snap_chalkzone yang menyebut dirinya akan berpikir ulang jika akan berkunjung ke Borobudur sekarang.

    “Mikir ulang buat ke Borobudur dengan harga segitu. 750rb bisa buat jalan-jalan ke Jogja 4-5 hari,” katanya.

    Komentar lain datang dari akun @si_gembira yang menyebut tarif masuk tersebut hampir setara dengan setengah upah minimum regional (UMR) Yogyakarta.

    “Tarif masuk borobudur ki setengahe umr jogja yo,” ujarnya.

    Lebih lanjut, salah satu warganet bernama @danangps melontarkan candaan untuk menggunakan seragam saat berkunjung ke Borobudur agar tarif masuknya murah.

    “Tips, kalo mau masuk Borobudur, pakailah baju seragam sekolah, karena hanya bayar 5000 saja,” ujarnya.

    Meski demikian, salah seorang warganet mengaku setuju dengan kenaikan tarif masuk ini. Menurut akun @DipoNiarto, harga tiket masuk kawasan Candi Borobudur yang telalu murah menyebabkan kawasan candi cepat rusak karena wisatawan.

    “Setuju!! Saking murahnya tiket borobudur sekarang, banyak wisatawan norak yg suka ngerusak: naik-naik stupa buat foto dll,” kata dia. (*)

  • Lestarikan Budaya Lokal, Erick Thohir Beri Penghargaan Kepada Bupati Pali

    Lestarikan Budaya Lokal, Erick Thohir Beri Penghargaan Kepada Bupati Pali

    SUARAPUBLIK,PALI – Bupati Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Heri Amalindo, meraih penghargaan Perkumpulan Keluarga Besar (PKB) Putra Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakusuma) 2022. Penghargaan ini diberikan langsung Menteri BUMN, Erick Thohir.

    Penghargaan oleh Menteri BUMN diserahkan kepada orang nomor satu di Bumi Serepat Serasan, saat musyawarah besar ke-5 PKB Pujakusuma, Jumat (3/6/2022), di Hotel Bidakara Grand Pancoran Jakarta.

    Dedikasi diberikan, atas apresiasi dan kontribusi Heri Amalindo, dalam pelestarian budaya nusantara, serta partisipasi mengembangkan dan memajukan PKB Pujakusuma.

    Heri Amalindo berkata, berkontribusi secara nyata melestarikan budaya lokal adalah tugas mutlak seseorang sebagai warga negara. Sehingga, dinilai sudah sepatutnya untuk terus dikembangkan dan dituntut terus melakukan inovasi seiring kian majunya peradaban.

    “Kami ucapkan terimakasih atas dedikasi yang diberikan PKB Pujakusuma. Semoga kedepan bisa terus bersinergi,” ujar Heri.

    Pada pelaksanaanya, PKB Pujakusuma menganugerahi penghargaan kepada tokoh dari berbagai daerah di Sumatera sebagai bentuk apresiasi kepada tokoh yang terpilih tersebut. (ADV)

  • THE 1O1 Hotel Palembang Rajawali Sajikan Makan Sepuasnya Barbeque Night Internasional

    THE 1O1 Hotel Palembang Rajawali Sajikan Makan Sepuasnya Barbeque Night Internasional

    SUARAPUBLIK,ID.Palembang- Hotel THE 1O1 Palembang Rajawali, selalu mempersembahkan sajian Menu All You Can Eat. Berbagai varian Barbeque Internasional mulai dari Makanan pembuka seperti Coleslaw prawn salad, fruits salad, avocado and chiken salad, ada live cooking BBQ Corner “Sausages, Beef & Chiken Satay, Peawn, whole Fish, Chiken wing with varian sauce’s” sampai makanan penutup dan masih banyak lagi mulai dari menu pembuka hingga penutup siap memanjakan lidah anda.

    Barbeque Night International dihidangkan dan diracik khusus oleh Chef Ade Sofiyan, Executive Chef Hotel THE 1O1 Palembang Rajawali.

    Setiap Bulannya menyedikan menu berbeda dengan Barbeque Night sebelumnya, kali ini THE 1O1 Hotel Palembang Rajawali ingin memberikan sesuatu yang berbeda dengan mengangkat tema International dan memiliki menu yang di masak secara live dan pastinya makanan yang disajikan masih fresh.

    “Kali ini promo BBQ Night Internasional All you can eat tersedia di hari Sabtu, 19 Maret 2022, mulai pukul 19.00 WIB – 22.00 WIB, tamu dapat dengan sepuasnya menyantap hidangan all you can eat International Barbeque sambil menikmati Music di THE 1O1 Palembang Rajawali” ujar Rizky Putri Asisten Marketing Manager.

    Konsep pelayanannya hidangan akan ada live cooking barbeque bersama para Chef andalan Hotel THE 1O1 Palembang Rajawali, namun dengan tetap menjaga protokol kesehatan, Tim Hotel akan memberikan sarung tangan plastik untuk tamu saat mengambilkan aneka hidangan yang tamu pilih untuk menghidari kontak fisik antar tamu melalui peralatan makanan.

    Semua menu pada Barbeque Night Internatioanl dipilih dari bahan berkualitas dan dijamin kelezatannya ini bisa dinikmati sepuasnya dengan harga IDR 125.000++/Pax Cocok banget nih untuk kamu barbeque bersama dengan keluarga maupun kerabat Nah, Anda pasti sudah penasaran bagaimana suasana barbeque dinner yang ditawarkan oleh hotel bintang empat ini.

    Kunjungi THE 1O1 Palembang Rajawali pada Sabtu malam, atau bisa melalui reservasi dengan menghubungi 07113031101.(Ril)

  • Pagar Alam Bakal Dikunjungi Ratusan Pendaki Usia 40 Tahun ke Atas se-Indonesia

    Pagar Alam Bakal Dikunjungi Ratusan Pendaki Usia 40 Tahun ke Atas se-Indonesia

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Ratusan pendaki gunung se-Indonesia, khususnya yang berusia di atas 40 tahun, akan memadati Deklarasi dan Family Ghatering komunitas pendaki gunung diatas usia 40 tahun atau U-Forty Korwil Sumsel, pada 28-30 Januari 2022.

    Dikatakan Ketua Panitia, Jumardi, jumlah peserta saat ini yang mengikuti kegiatan yang dilaksanakan di Lapangan Tangga 2001, Gunung Gare, Kota Pagar Alam, Sumsel itu sebanyak 320 orang bahkan bisa lebih.

    “Saat rapat terakhir, dilaporkan sebanyak 320 orang. Potensi pendaftar on the spot masih ada,” kata dia, dalam keterangan pers yang diterima Suarapublik.id, Selasa (25/1/2022).

    Jumardi melanjutkan, peserta yang mendaftar juga banyak yang berasal dari luar Sumsel. Diantaranya, dari Sumatera Barat, Riau, Jambi, Lampung, Jabodetabek serta pulau Jawa lainnya bahkan dari jika tak ada halangan dari pulau Kalimantan dan Sulawesi ingin turut hadir.

    “Sangat luar biasa antusias deklarasi ini, tentu ini menjadi semangat bagi pendaki diatas usia 40 tahun lainnya untuk selalu menjalin silaturahmi,” ujarnya.

    Selain diminati banyak peserta, Jumardi menuturkan juga banjir ucapan baik dari kalangan pemerintahan hingga ke artis ibu kota. Seperti, Gubernur Sumsel, Herman Deru, Ketua DPRD Sumsel, Wali Kota Pagaralam hingga musisi legendaris yang terkenal yaitu, personil band Armada, Power Slaves, Steven Coconuts, D’Masiv serta banyak lagi lainnya.

    “Kami sangat nersyukur, karena sudah ratusan ucapan yang telah kami terima. Artinya, kegiatan yang akan dilakukan ini banyak didukung oleh seluruh elemen,” tuturnya.

    Ia berharap, pasca kegiatan nanti, sesama pecinta alam, khususnya pendaki berusia 40 tahun keatas semakin harmonis dan silaturahmi tetap terjaga. Selain itu, bisa menjadikan cerminan bagi pendaki yang usianya masih muda, untuk terus melakukann kegiatan di alam bebas secara aturan yang benar dan tanggungjawab.

    “Kita juga siap bersinergi dengan seluruh jajaran pemerintah dalam melaksanakan kegiatan yang bermanfaat bagi alam dan lingkungan,” sebutnya.

    Sementara itu, Ketua U-Forty Sumsel, Asrul Indrawan mengatakan, pada kegiatan Deklarasi dan Family Ghatering U-Forty Korwil Sumsel akan dimeriahkan beberapa bintang tamu, seperti pendaki legendaris Indonesia Kang Bongkeng, band Hutan Tropis, Rumah Sastra Pagar Alam dan Band Cupi Kudai.

    “Akan diadakan bakti sosial berupa donor darah dan vaksinasi COVID-19,” ucap Asrul.

    Selain itu, Asrul menyebutkan, pihaknya sengaja memilih lokasi kegiatan di kota yang berjuluk “Beauty of South Sumatera” itu untuk mempromosikan wisata alam yang ada di Sumsel.

    “Ini merupakan ikon kita, jadi kita promosikan lagi,” terangnya. (ANA)

  • Gubernur Ingin Hadirkan Transportasi Air di Sungai Sekanak Lambidaro, Akhir Bulan di Uji Coba

    Gubernur Ingin Hadirkan Transportasi Air di Sungai Sekanak Lambidaro, Akhir Bulan di Uji Coba

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Di sela gowes bersama dengan para alumni UGM, Gubernur Sumsel berkesempatan meninjau serta turun langsung untuk melihat aliran Sungai Sakanak Lambidaro yang menjadi salah satu icon baru di Kota Palembang.

     

    Bahkan, orang nomor satu di Bumi Sriwijaya itu juga mengajak Ketua Umum Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama) yang juga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk merasakan berperahu di aliran sungai tersebut

     

    “Ini cara saya dan pak Ganjar mengajak Walikota dan berbagai pihak untuk melihat potensi yang ada di daerahnya. Jadi hal yang baik yang ada di daerah lain bisa kita tiru. Begitu juga sebaliknya,” kata Herman Deru, Minggu (23/1/22).

     

    Terkait Sungai Sekanak Lambidaro, dia menyebut dalam waktu dekat akan segera dilakukan uji coba untuk angkutan air.

     

    “Rencananya tanggal 29 Januari ini akan kita lakukan uji coba untuk sarana transportasi. Setelah dilakukan restorasi ini tentu sungai ini sudah layak untuk digunakan kembali,” tuturnya.

     

    Sebab itulah, dia mengajak masyarakat untuk tidak lagi mengotori sungai sehingga dapat membawa manfaat di berbagai sektor.

     

    “Yang harus terus kita perbaiki adalah kecintaan kita terhadap lingkungan. Jangan lagi mengotori sungai, agar bisa terus kita manfaatkan,” ujarnya.

     

    Sementara itu, Ketua Umum Kagama yang juga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memuji keseriusan Pemprov Sumsel dan Pemkot Palembang dalam membangun daerah.

     

    Apalagi sejak tahun 2015, Kota Palembang konsisten melakukan pembenahan dengan menerapkan gotong royong di setiap kelurahan yang ada.

     

    “Nilai yang dapat kita ambil disini luar biasa. Sejak 2015, masyarakat Palembang terus menerus melakukan gotong royong,” kata Ganjar.

     

    Melihat kondisi ini, dia menuturkan, Jawa Tengah memiliki tambahan ilmu baru dalam membangun daerah.

     

    “Kami tentu akan belajar dengan Palembang. Palembang bisa mengelola sungai dengan baik. Saya mungkin tidak tahu masa lalu sungai disini seperti apa, tapi jika dilihat saat ini sangat luar biasa,” tuturnya.

     

    Untuk itulah, dia berharap, seluruh masyarakat untuk bisa peduli dan menjaga lingkungannya.

     

    “Sungai ini masa depan kita untuk mengelola air. Saya salut dengan pak Gubernur dan pak Walikota bisa menggerakkan masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan dan membangun kesadaran untuk membersihkan sungai,” paparnya.

     

    Dia pun mengusulkan agar nantinya Sungai Sekanak Lambidaro tersebut dijadikan tempat edukasi dalam mengelola sungai.

     

    “Saya juga usul, ini juga harus dibuat sebagai tempat edukasi pengelolaan sungai sehingga Palembang akan semakin baik,” pungkasnya.

  • Temuan Nisan Kuno Memperjelas Adanya Keraton Beringin Janggut

    Temuan Nisan Kuno Memperjelas Adanya Keraton Beringin Janggut

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Batu nisan kuno yang ditemukan di Kompleks Pertokoan Tengkuruk Permai Blok C, 17 Ilir Palembang, memperjelas adanya Keraton Beringin Janggut.

    Hal itu terkuak usai dilakukannya penelitian oleh beberapa ilmuan tentang keenam batu nisan tersebut.

    Sultan Iskandar Mahmud Baddarudin mengatakan, Keraton Beringin Janggut ialah merupakan keraton yang dibangun Ki Mas Hindi. Sebelum menegakkan Keraton Beringin Janggut Ki Mas Hindi terlebih dahulu menegakan Kesultanan Palembang Darussalam.

    Sejarah awal ditegakan kesultanan Palembang Darussalam yang merupakan cikal bakal terbentuknya Keraton Beringin Janggut, ialah bermula dari terjadinya perang Kuto Gawang dengan VOC.

    “Kuto Gawang itu terletak di daerah Pusri  saat ini,” ujar Sultan Iskandar, Kamis (20/1/2022)

    Dalam perang tersebut Belanda menembak gudang mesiu kerajaan Kuto Gawang, sehingga membuat kerjaaan Kuto Gawang menjadi terbakar.

    Setelah kalahnya kerajaan Kuto Gawang melawan Belanda saat dibawah kepemimpinan Pangeran Sido Ing Rejek, ia hijarah ke Sakatiga atau Ogan Ilir kemudian wafat disana.

    Sementara Kuto Gawang diserahkan kepada adiknya Ki Mas Hindi. “Usai diserahkan kepada dirinya barulah Kiai Mas Hindi menegakkan kesultanan Palembang Darussalam dan membangun Keraton Beringin Janggut,” jelasnya.

    Keraton Beringin janggut ini didirikan agak jauh dari sungai. Tujuan dibangun agak jauh dari sungai dimaksudkan agar jauh dari meriam-meriam belanda.

    “Ketika terjadi pertempuran diharapakan meriam-meriam Belanda tidak sampai ke Keraton Beringin Janggut,” jelas Sultan.

    Sementara itu, Sultan menjelaskan penenemuan ke enam makam yang baru saja ditemukan dijelaskan oleh ilmuan kalau itu berusia setelah era Kesultanan Palembang Darussalam.

    “Kalau saya lihat ini sangat menarik, sebab Keraton Beringin Janggut hingga saat ini belum ditemukan, akan tetapi nama-namanya sudah ada,” jelasnya.

    Namun ia menjelaskan terdapat banyak makam keluarga-keluarga yang berada di Palembang salah satunya yang baru ditemukan ini.

    “Banyak makam kungkonan atau makam keluarga jadi satu keluarga yang dikuburkan dalam satu area,” jelasnya.

    Bahkan saat ini banyak makam-makam sejarah kesultan yang dapat kita temuai dibeberapa daerah seperti dikawasan cinde.

    “Tetapi hal yang membuat menarik dari ke enam makam yang ditemukan ialah ada setiap ujung namanya tertulis Palembani,” jelasnya.

    “Mungkin ke empat makam ini bisa jadi anak seorang ulama.”

    Ia menceritakan di daerah Jalan Sudirman hingga tempat makam yang baru ditemukan ini, banyak terdapat makam-makam masa Kesultanan dulu. “Akan tetapi makam-makam itu telah banyak tertimbun pada zaman belanda.

    “Kalau kita gali didaerah itu bisa jadi  lebih banyak lagi makam-makan zaman dulu,” ungkapnya.

    Belanda banyak menimbun daerah termasuk sungai tengkuruk yang juga ikut ditimbun oleh belanda.

    “Saat ini sungai tengkuruk tidak ada lagi, kalau sekarang lokasinya yang ditempati Kantor Walikota Palembang,” ungkapnya.

    Ia juga menjelaskan, pada saat itu makam memang ditulis dengan arab melayu.

    Namun dirinya menghikmahi penemuan ke empat makam itu dapat dijadikan sebuah hal penting untuk menegaskan kalau era kesultanan pada saat itu ada.

    “Semakin menegaskan bahwa Kesultanan Palembang Darussalam itu ada, bahwa kami itu ada bahkan ada sebelum negara ini ada,” ungkapnya.

    Sultan Iskandar mengapresiasi kepada semua pihak yang ikut mengungkap penemuan makam itu, baik itu PT Waskita yang pertama kali menemukan, Para Arkeolog, Sejarahwan, Cagar Budaya, Dinas Kebudayaan dan Pemerintah. (Etr)

  • Tombak hingga Pedang, PPS Punya Ribuan Pusaka Bersejarah

    Tombak hingga Pedang, PPS Punya Ribuan Pusaka Bersejarah

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Berbagai peninggalan bersejarah ataupun berbagai benda pusaka yang memiliki nilai sejarah tinggi, hingga saat ini masih terus terjaga oleh para komunitas Palembang Pusaka Sriwijaya (PPS).

    Hal tersebut diketahui dalam kegiatan audiensi PPS kota Palembang bersama Wakil Walikota Palembang, Fitrianti Agustinda di Balai Kota, Kantor Sekretariat Daerah (Setda) Pemkot Palembang, Rabu (19/1/2022).

    Ketua komunitas PPS kota Palembang, Surya Negara menjelaskan, bahwa pihaknya saat ini sengaja ingin mempublish keberadaan komunitas tersebut sekaligus mengajak Pemerintah untuk dapat bersinergi bersama.

    “Anggota kita kurang lebih ada 50 orang, dan setiap orang itu minimal menyimpan 10 hingga 15 benda pusaka. Bahkan ada juga yang mencapai 100 hingga 1000 benda pusaka,” kata Surya Negara.

    Dijelaskannya, berbagai jenis benda pusaka juga disimpan serta dirawat oleh setiap anggota dengan baik, baik itu pedang, tombak.

    Ia juga menyampaikan, ada juga beberapa benda lainnya yang merupakan peninggalan para petuah adat ataupun digolongkan tertentu yang memberikan simbol spesial yang juga sengaja disimpan sekaligus dijaga dengan baik oleh para anggota komunitas.

    “Mulai dari kepala, pakaian sampai ke aksesoris lainnya itu ada juga yang non pusaka, seperti kain, tanjak, kalung, ataupun benda yang pernah dimiliki oleh para petinggi adat atau kepala. Jadi bukan hanya senjata,” tuturnya.

    Sementara itu, Wakil Walikota Palembang, Fitrianti Agustinda sangat menyambut baik atas keinginan komunitas PPS untuk keterlibatan penuh di Pemerintahan kota Palembang terkait dengan koleksi-koleksi benda pusaka yang dimiliki selama ini.

    Wakil Walikota Palembang dua periode itu juga menilai, bahwa benda-benda pusaka yang disimpan oleh komunitas PPS tersebut memiliki nilai-nilai sejarah yang tidak ternilai harganya.

    Menurutnya, dengan banyaknya event yang akan diselenggarakan oleh Pemerintah kota Palembang di tahun ini, PPS juga dapat terlibat penuh dalam even-even tersebut untuk memamerkan benda-benda pusaka yang selama ini menjadi koleksi setiap anggota.

    “Supaya nantinya orang-orang yang hadir juga bisa menikmati benda-benda pusaka yang memiliki nilai sejarah, khususnya dari kejayaan sriwijaya,” ujarnya.

    Dijelaskan Fitri, beragam jenis benda pusaka yang dimiliki oleh setiap anggota komunitas, mulai dari kris, piring, manik-manik dan lainnya sebagainya yang menjadi peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan kota Palembang.

    “Kami belum melihat secara langsung, tetapi kami berharap nanti pada saat pelantikan kepengurusan mereka nanti pada 26 Januari, kita ingin benda-benda pusaka itu bisa ikut ditampilkan,” jelasnya. (ANA)

  • Enam Nisan Kuno Ditemukan di Saluran IPAL 16 Ilir

    Enam Nisan Kuno Ditemukan di Saluran IPAL 16 Ilir

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Ditemukan enam nisan kuno oleh pekerja Waskita saat melakukan penggalian membuat saluran Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di kawasan pertokoan 16 Ilir Palembang. Namun sayangnya beberapa nisan yang sempat disngkat kepermukaan tersebut, malan dikembalikan lagi ke tempat awalnya oleh pekerja penggalian.

    Nisan Kuno bertuliskan Arab Melayu ditemukan di galian IPAL pertokoan pasar 16 ilir Palembang.
    Foto: ist

    Penemuan nisan bertuliskan Arab Melayu tersebut, sayangnya tidak segera dilaporkan kepada pemerintah kota Palembang, atau Badan Arkeolog (Balar) kota Palembang.

    Di salah satu nisan bertulisankan Arab Melayu atau aksara jawi itu, berbunyi “Faqod Intiqolad Ila Rohmatullahil Abror, Nyiaji Nadirah /Nadrah  Binti Kiyai Abdul Aziz Falembani”, yang artinya Telah Berpulang ke Rahmatu Allah Nyiaji Nadiroh Anak Kiyai Abdul Aziz orang  Palembang. Yang ditemukan pada galian proyek IPAL pada kedalaman kurang lebih tiga meter.

    “Memang ada nisan yang kita temukan di penggalian kita pembuatan IPAL, namun itu kita kembalikan lagi di asalnya. Karena kami takut menganggu sebab gak ada instruksi untuk tidak diapa-apakan nisan itu,” ungkapnya Rizal, manager operasional proyek IPAL PT Waskita Karya.

    Semenjak ditemukan pada Kamis malam lalu (14/01/2022), baru dilaporkan dua hari setelah pemasangan pipa saluran IPAL di titik penemuan batu nisan tersebut. Ia menyebutkan, kalau nanti malam (malam ini, red) penemuan batu nisan tersebut akan dibongkar kembali.

    “Ya, nanti malam (malam ini) sudah disetujui akan digali lagi sekitar jam delapan malam,” lanjutnya.

    Pihak PT Waskita Karya bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Dinas Kebudayaan Provinsi Sumsel, dan dinas kebudayaan kota Palembang, beserta Balai Arkeolog Sumsel, melakukan rapat koordinasi terkait tindak lanjut dari penemuan nisan kuno tersebut, Senin pagi (17/01/2022) di kantor Disbud kota Palembang.

    Sementara itu dijelaskan Kadisbud Kota Palembang Agus Rizal, dari areal penemuan nisan kuno yang diduga dari abad ke 19 tersebut, merupakan kawasan bersejarah. Sebab, di kawasan pertokoan 16 Ilir tersebut juga menjadi lokasi peninggalan kerajaan Beringin Janggut.

    “Pemerintah kota sudah ada regulasi Perda nomor 11 tahun 2012, tentang perlindungan cagar budaya. Apabila menemukan benda bersejarah dalam 30 hari harus melaporkan ke dinas kebudayaan kota Palembang atau instansi terkait maupun kepolisian,” kata Agus Rizal.

    Rencana dilakukannya penggalian kembali dari penemuan nisan kuno tersebut, akan diteliti oleh Tim Ahli Cagar Budaya, untuk memastikan penemuan tersebut berasal dari era siapa. 

    Selain itu disampaikan Agus, sebelumnya dari pihak dinas kebudayaan sudah sempat turun ke lokasi melihat langsung. Namun sayang saat tiba di lokasi titik penemuan nisan tersebut, sudah tertimbun pada Jumat siang (13/01).

    “Waskita mungkin tidak mengetahui terkait regulasi tentang perlindungan cagar Budaya. Dan memang terjadi miss komunikasi antara kita dan tim Waskita, makanya Jumat, kami sempat turun ke lokasi,” ungkapnya.

    Sementara itu, arkeolog Retno Purwanti dari Balai Arkeologi Sumsel menyebutkan, belum ada rencana untuk menjadikan areal pertokoan 16 Ilir yang banyak ditemui benda benda bersejarah sebagai kawasan bersejarah.

    “Kalau untuk penetapan itu belum, karena itu tugas TACB kota Palembang. Karena itu tergantung juga dari data data yang disiapkan tim pendataan dan tim teoritik kawasan ini bisa ditetapkan atau tidak,” ungkapnya.

    Ada dua teori indikator dari penemuan nisan kuno yang dinilai sebagai benda bersejarah tersebut, yang diduga merupakan bentuk nisan Demak. Dengan penemuan itu ada potensi bahwa kawasan tersebut merupakan situs bersejarah, terlepas apakah nisan itu memang sudah ada di situ, atau proses transformasi (perpindahan).

    “Kalau dilihat, itu nisan Demak, sudah mulai digunakan di Palembang pada masa Geding Suro sekitar awal abad 16. Itu analisa sementara kalau melihat inskripsi dari nisan yang pertama saya lihat dari abad itu. Sementara untuk nisan berikutnya itu yang saya lihat, sepertinya dari masa selanjutnya,” ungkapnya.

    Menurutnya, dari vidio penemuan nisan yang Semoat Butak tersebut bentuk nisan tersebut sama dengan bentuk dari nisan-nisan Kumi seperti yang ada di Saboking King, Kebon Gede, dan Talang Kerangga.

    “Sekitar 98 persen tipe nisannya sama dengan nisan-nisan yang ada di makam-makam kuno lainnya. Karena itu lokasi bekas keraton Beringin Janggut kemungkinan ada, tapi nanti kita lihat lagi lapisan tanahnya apakah lapisan tanah asli atau timbunan,” ungkapnya. (Etr)

  • Penemuan Batu Besar Berwajah Mirip Manusia, Diduga Megalit

    Penemuan Batu Besar Berwajah Mirip Manusia, Diduga Megalit

    SUARAPUBLIK.ID, EMPATLAWANG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Empat Lawang, sudah melapor ke Balai Arkeolog Jambi dan Provinsi Sumatera Selatan. Atas penemuan batu besar ukuran sekitar 3 meter yang menggemparkan warga Desa Ulak Mengkudu, Kecamatan Tebing Tinggi. Batu tersebut jika diperhatikan dari samping mirip wajah manusia sehingga banyak warga menduga-duga bahwa batu itu merupakan batu megalit.

    Namun untuk menentukan batu itu megalit atau bukan, harus menunggu kepastian dari Balai Arkeolog.

    Kepala Dikbud Kabupaten Empat Lawang, Rita Purwaningsih melalui Vera Nita selaku Kabid Kebudayaan mengatakan, pihaknya sudah mengirimkan foto-foto batu tersebut kepada Balai Arkeolog guna diteliti terlebih dahulu.

    “Ya, sudah kami laporkan ke Balai Arkeologi Jambi dan Provinsi Sumsel. Foto-fotonya sudah kami kirim semua ke mereka. Mereka teliti dulu dari foto. Nanti dikabari sama mereka. Takutnya itu bukan batu megalit. Sama seperti kejadian kita di Jalan Poros kemarin. Cuma masih diteliti mereka dulu,” kata Vera Nita kepada wartawan, Kamis (23/12/2021).

    Terpisah, AK Sigit dari Balai Arkeologi Sumatera Selatan sekaligus tim Cagar Budaya Sumatera Selatan mengatakan, tidak bisa menjustifikasi apakah itu megalitik atau bukan. Memang harus turun ke lapangan, namun untuk tahun 2022 belum bisa dipastikan karena sedang masa peralihan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). “Penelitian tahun 2022 otomatis berubah semua,” ucap Sigit.

    Diberitakan sebelumnya, penemuan batu mirip wajah manusia di Desa Ulak Mengkudu, Kecamatan Tebing Tinggi, membuat gempar jagat maya. Banyak warga Empat Lawang yang berbondong untuk melihat batu tersebut. Batu itu ditemukan oleh tim yang sedang melakukan normalisasi sungai Musi. Banyak opini bermunculan berkenaan dengan batu besar yang menyerupai wajah manusia.

    Camat Tebing Tinggi, Sopian berpendapat batu tersebut merupakan proses dari bentukan alam.

    “Namun kita tetap harus menunggu kabar dari Balai Arkeolog untuk menentukan itu megalit atau batu biasa yang terbentuk dari proses alam,” tutur Sopian kepada awak media.

    Ada juga, warga yang mengaitkan batu tersebut dengan legenda pendekar Si Pahit Lidah. Berdasarkan keterangan dari Kades Ulak Mengkudu, Anshori menceritakan bahwa tepat di seberang Sungai Musi yang berhadapan langsung dengan lokasi batu tersebut, terdapat makam Puyang Syeikh Ali Majidin anak dari Serunting Sakti atau sering kita sebut dengan pendekar Si Pahit Lidah.

    “Di seberang sungai Musi ini ada makam Puyang keturunan dari pendekar si Pahit Lidah,” ucap Anshori.

    Selanjutnya, Edwin salah seorang warga di Kecamatan Pendopo Kabupaten Empat Lawang berpendapat bahwa kemungkinan besar batu tersebut dibuat secara lengkap oleh nenek-nenek moyang dahulu. Mulai dari kepala hingga ke kaki untuk digunakan dalam ritual pemujaan terhadap segala bentuk kekuatan di luar kemampuan manusia. Sebelum masuknya ajaran Islam ke Negeri Ini sekitar Abad ke-7 Masehi (Tahun 600-an).

    “Pendapat saya ini, saya komper (bandingkan) saat kunjungan saya beberapa tahun yang silam, ke Dusun Tinggi Hari, Kecamatan Pulau Pinang, Kabupaten Lahat.

    Di Dusun Tinggi Hari, patung-patung berbentuk lengkap, dari kepala hingga kaki, baik dalam posisi duduk, maupun berdiri. Walloohu a’alam bish_showaab,” ujar Edwin. (Alf)

  • Situs Sejarah Megalit Besemah Raih Juara Pertama API Award 2021

    Situs Sejarah Megalit Besemah Raih Juara Pertama API Award 2021

    SUARAPUBLIK.ID, PAGAR ALAM – Setelah melewati proses pemungutan suara dengan cara votting melalui akun Instagram (IG) @Ayojalanijalanindonesia, Chanel Youtube APIaward atau melalui SMS Premium yang di mulai sejak 1 Juli hingga 31 Oktober 2021 lalu. Akhirnya situs sejarah megalitik besemah Kota Pagar Alam ditetapkan sebagai juara pertama, dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2021 dengan raihan 46.42 persen.

    Sementara juara kedua diraih oleh Museum Buya Hamka Kabupaten Agam dengan raihan 18,44 persen, dan juara ketiga situs Gajah mada Kabupaten Raijuah dengan raihan 16,30 persen
    Hal ini diketahui pada malam penganugerahan API tahun 2021 di Kabupaten Musi Banyuasin, Selasa Malam (30/11/21).

    Sebelumnya, dalam ajang ini Megalitik Besemah kota Pagar Alam  bersaing dengan sejumlah Situs sejarah dari berbagai daerah. Yakni Benteng Kraton Wollio (Baubau), Candi Ijo (Kabupaten Sleman), Istana Mini Banda Nairah (Kabupaten Maluku Utara), Megalitik Batu Brak (Kabupaten Lampung Barat), Museum Buya Hamka (Kabupaten Agam), Situs Gajah Mada (Kabupaten Raijua),Taman Arkeolog Onrust (Kabupaten Kepulauan Riau),Taman Nurmada (Kota Mataram) dan Tundrunbaho (Kabupaten Nias Selatan).

    Kepala Dinas Pendidikan Kota Pagar Alam melalui Kabid Kebudayaan Jemiyo Siswanto mengatakan, bahwa ini adalah hal yang luar biasa, dan mengharumkan nama kota Pagar Alam. Sebagai destinasi wisata, Pagar Alam memang dikenal dengan situs megalitnya, dengan jenis seperti Dolmen, Arca, Rumah Batu, Meja Batu, Bati Berelif, Lupang Batu, Lesung Batu, batu berformasi atau batu gelang dan lain-lain.

    “Dan tercatat ada sebanyak 46 situs megalit yang terdata saat ini di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pagar Alam,” ungkapnya.

    Ia melanjutkan, kesuksesan megalith besemah pada ajang ini, tidak lepas dari partisipasi masyarakat Kota Pagar Alam, baik itu dari lingkungan pemerintah, mahasiswa, pelajar serta masyarakat umum lainnya yang telah memberikan dukungan.

    “Dan dengan kesuksesan ini juga, kita berharap nama Pagar Alam akan semakin dikenal secara nasional tidak hanya dari sektor pariwistanya namun juga dari sektor-sektor lainya,” pungkasnya. (Dhd)