Buya Syafii, Khittah Muhammadiyah hingga Tolak Jabatan dari Istana

- Redaksi

Jumat, 27 Mei 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAPUBLIK.ID, JAKARTA – Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif alias Buya Syafii meninggal dunia pada Jumat pukul 10.15 WIB di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta. Buya Syafii wafat pada usianya yang ke 86 tahun.

Buya Syafii rencananya akan dimakamkan di Pemakaman Husnul Khotimah yang terletak di Dusun Donomulyo, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo selepas waktu Salat Ashar nanti. Buya Syafii sebelumnya juga sempat dirawat di rumah sakit karena terkena serangan jantung ringan pada akhir Maret lalu

Semasa hidupnya, Buya Syafii dikenal orang sebagai seorang ulama moderat dan seorang sejarawan. Pria kelahiran tanah Minangkabau ini mengawali kariernya sebagai guru di sekolah Muhammadiyah di Lombok 1957 silam.

Ia juga tercatat menjadi Dosen Sejarah dan Kebudayaan Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta pada periode 1964-1969. Buya Syafii kemudian menghabiskan sekitar 27 tahun sebagai pengajar di IKIP Yogyakarta, ia mengampu sejarah Asia Tenggara hingga filsafat sejarah.

Buya Syafii juga meraih gelar doktornya dari Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Tengah, Universitas Chicago, AS, dengan disertasi: Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia.

Buya Syafii kemudian menjajal kariernya di organisasi keagamaan Muhammadiyah pada 1995 silam dengan menjabat sebagai Wakil Ketua PP Muhammadiyah. Kariernya moncer saat ia menduduki pucuk pimpinan Muhammadiyah pada 1998-2000.

Dalam waktu dua tahun, Buya Syafii dinilai berhasil membawa Muhammadiyah ke jalur khittahnya. Keberhasilannya tersebut membuat para peserta muktamar Muhammadiyah kembali meminang Buya Syafii menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah 2000-2005.

Adapun setelah meninggalkan posisinya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, ia kemudian aktif dalam komunitas Maarif Institute. Di samping itu, ia aktif menulis dan juga telah menuangkan pikirannya dalam bentuk buku.

Pada November 2016 lalu, nama Buya Syafii juga menjadi obrolan publik usai ia membela Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan mengatakan bahwa Ahok tidak melakukan penistaan agama. Pandangannya ini melawan pendapat mayoritas tokoh Islam lainnya.

Buya Syafii juga tercatat pernah menolak tawaran Presiden Joko Widodo sebagai Dewan Pertimbangan Presiden pada 2015. (*)

Berita Terkait

Berintegritas Tinggi dan Innovative, Dirkrimsus Polda Gorontalo Raih Penghargaan Level Asia
Hutama Karya Berikan Potongan Tarif Tol untuk Dukung Kelancaran Nataru
15 Personel Basarnas Palembang Dikirim ke Sumbar untuk Perkuat Operasi SAR
Pembangunan Ramp Junction Palembang Rampung, Tol Palindra – Kapal Betung Tersambung Menyeluruh
Polda Gorontalo Raih Penghargaan di Tingkat Nasional Dalam Penyelesaian Kasus Korupsi
Tol Betung – Tempino – Jambi Seksi 3 Beroperasi Tanpa Tarif
Tol Tempino – Ness Raih Bintang 5 pada Sertifikat Laik Fungsi dan Operasi
Semarak HUT RI ke-80, Trafik Tol JTTS Naik 23 Persen

Berita Terkait

Selasa, 23 Desember 2025 - 22:16 WIB

Berintegritas Tinggi dan Innovative, Dirkrimsus Polda Gorontalo Raih Penghargaan Level Asia

Selasa, 2 Desember 2025 - 19:35 WIB

Hutama Karya Berikan Potongan Tarif Tol untuk Dukung Kelancaran Nataru

Senin, 1 Desember 2025 - 15:40 WIB

15 Personel Basarnas Palembang Dikirim ke Sumbar untuk Perkuat Operasi SAR

Jumat, 24 Oktober 2025 - 19:09 WIB

Pembangunan Ramp Junction Palembang Rampung, Tol Palindra – Kapal Betung Tersambung Menyeluruh

Senin, 20 Oktober 2025 - 18:37 WIB

Polda Gorontalo Raih Penghargaan di Tingkat Nasional Dalam Penyelesaian Kasus Korupsi

Berita Terbaru