Budaya Literasi Siswa Tergerus Gawai, Disdik Sumsel Ingatkan Ancaman Hoaks dan Krisis Nalar

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG —Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, budaya literasi siswa di Sumatera Selatan justru dinilai kian tergerus. Arus informasi instan dari gawai dan media sosial tidak diimbangi dengan kemampuan membaca kritis dan berpikir mendalam, sehingga berpotensi melahirkan generasi yang rentan hoaks dan miskin nalar.

Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Dinas Pendidikan Sumatera Selatan, Misral, S.Sn., M.Sn., menegaskan bahwa rendahnya budaya literasi bukan sekadar persoalan minat baca, melainkan ancaman serius bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan.

“Anak-anak kita hari ini dibanjiri informasi, tapi belum dibekali kemampuan menyaring dan memahami. Jika literasi lemah, mereka mudah percaya hoaks, berpikir dangkal, dan kehilangan daya kritis,” ujar Misral, Selasa (26/1/2026).

Menurutnya, literasi sejatinya adalah fondasi pembentukan karakter, cara berpikir, dan kemampuan mengambil keputusan. Tanpa literasi yang kuat, pendidikan hanya akan melahirkan siswa yang pintar menghafal, namun lemah memahami realitas.

Misral menilai, gawai dan media sosial telah mengubah pola belajar siswa secara drastis. Kebiasaan membaca buku secara mendalam tergantikan oleh konsumsi konten singkat, cepat, dan sering kali tidak jelas sumbernya.

“Kita sedang menghadapi generasi yang terbiasa scrolling, bukan membaca. Ini tantangan besar dunia pendidikan,” katanya.

Ia mengingatkan, jika kondisi ini dibiarkan, sekolah berisiko gagal menjalankan fungsi utamanya sebagai ruang pembentukan nalar dan karakter.

Tak hanya siswa, Misral juga menyoroti praktik literasi di sekolah yang dinilai belum menyentuh substansi. Program literasi kerap berhenti pada kegiatan formalitas, seperti membaca 15 menit sebelum pelajaran, tanpa pendalaman dan diskusi kritis.

“Membaca tanpa memahami bukan literasi. Menulis tanpa berpikir bukan literasi. Literasi harus melatih siswa bertanya, menganalisis, dan menyimpulkan,” tegasnya.

Ia menilai perpustakaan sekolah masih sering diposisikan sekadar pelengkap, bukan pusat aktivitas intelektual. Padahal, perpustakaan seharusnya menjadi ruang hidup bagi diskusi, eksplorasi ide, dan penguatan daya pikir siswa.

Dinas Pendidikan Sumsel menekankan peran guru sebagai garda terdepan dalam membangun budaya literasi. Guru dituntut tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memberi teladan membaca dan menulis secara konsisten.

“Guru adalah wajah literasi di sekolah. Jika guru tidak membaca dan menulis, siswa sulit diajak mencintai literasi,” ujar Misral.

Selain itu, literasi digital juga menjadi fokus utama untuk menghadapi maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan konten negatif di ruang digital.

“Siswa harus diajarkan memverifikasi informasi, memahami konteks, dan berpikir kritis. Ini keterampilan hidup, bukan sekadar pelajaran,” katanya.

Misral mengingatkan bahwa lemahnya budaya literasi hari ini akan berdampak langsung pada daya saing Sumatera Selatan di masa depan. Daerah yang ingin maju, menurutnya, harus ditopang generasi yang mampu membaca realitas, bukan sekadar menghafal teori.

“Kita tidak sedang mendidik anak untuk lulus ujian semata. Kita sedang menyiapkan mereka menghadapi kehidupan. Literasi adalah bekal utama itu,” ujarnya.

Sebagai langkah konkret, Dinas Pendidikan Sumsel berkomitmen memperkuat gerakan literasi sekolah melalui penguatan perpustakaan, pelatihan guru, serta kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat.

“Literasi bukan hanya tugas sekolah. Ini tanggung jawab bersama. Jika gagal hari ini, kita sedang mempertaruhkan masa depan anak-anak kita,” tutup Misral.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *