PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID —Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan (Disdik Sumsel) memastikan seluruh jajarannya siap bergerak cepat mendukung Gerakan Indonesia Asri (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang diinstruksikan Presiden Prabowo Subianto dalam taklimat pada Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Komitmen itu ditegaskan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Sumatera Selatan (Sumsel) Hj. Mondyaboni, S.E., S.Kom., M.Si., M.Pd.melalui Kepala Subbagian Umum dan Kepegawaian, Lenny Widiawati, S.Pd., M.Pd. Menurutnya, Disdik Sumsel tidak sekadar menyatakan dukungan secara administratif, melainkan langsung menggerakkan unsur bidang, staf, hingga Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) untuk menerjemahkan instruksi tersebut ke dalam langkah nyata di lingkungan pendidikan.
“Gerakan Indonesia Asri bukan hanya slogan. Di lingkungan pendidikan, ini menjadi penguatan karakter sekaligus pembiasaan budaya bersih, sehat, aman, dan tertib di sekolah,” ujarnya,Minggu (15/2/2026).
Ia menambahkan, seiring menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Disdik Sumsel juga telah menerbitkan surat edaran resmi terkait penyesuaian kalender akademik. Siswa dijadwalkan libur awal Ramadan pada 18–21 Februari 2026. Kegiatan belajar mengajar kembali dimulai pada 22 Februari 2026 dengan durasi jam pelajaran yang disesuaikan menjadi 30 menit per mata pelajaran.
“Libur menjelang Hari Raya Idul Fitri ditetapkan pada 16–29 Maret 2026. Kegiatan belajar kembali berjalan normal mulai 30 Maret 2026,” ujarnya.
Penyesuaian ini, menurut Lenny, dilakukan agar proses pembelajaran tetap efektif tanpa mengabaikan kondisi fisik dan spiritual peserta didik selama menjalankan ibadah puasa.
“Kami berharap selama masa libur, siswa tetap belajar mandiri di rumah. Gunakan waktu dengan kegiatan positif dan jangan sampai terjerumus pada aktivitas yang merugikan diri sendiri maupun masyarakat.
Memasuki Ramadan, satuan pendidikan di Sumsel juga didorong menggelar kegiatan peningkatan iman dan takwa (imtaq) melalui program pesantren kilat. Kegiatan ini disesuaikan dengan karakteristik dan kebijakan masing-masing sekolah,” tegasnya.
Kepala Seksi Sarana dan Prasarana SMA Disdik Sumsel, Hendri, S.Pd., M.Si., menambahkan bahwa meski terdapat penyesuaian waktu belajar, proses pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya.
“Pembelajaran tetap dilaksanakan dengan durasi 30 menit per jam pelajaran. Sekolah juga dapat mengisi Ramadan dengan kegiatan pembinaan karakter dan spiritual yang terarah,” ujarnya.
Ia menekankan, Ramadan menjadi momentum strategis membentuk karakter siswa agar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kedisiplinan, kepedulian sosial, dan pengendalian diri.
Sinergi Sekolah dan Orang Tua
Menjelang libur Idul Fitri, Disdik Sumsel mengimbau sekolah memperkuat komunikasi dengan orang tua. Pengawasan terhadap aktivitas anak selama liburan dinilai penting agar siswa tetap berada dalam lingkungan yang kondusif.
“Kolaborasi sekolah dan orang tua sangat menentukan. Pengawasan harus tetap berjalan agar anak-anak tidak terlibat dalam hal-hal negatif,” katanya.
Selain itu, sambung Hendri pemerintah juga terus mendorong penerapan “7 Kebiasaan Anak Hebat” sebagai bagian dari pembinaan karakter. Kebiasaan tersebut antara lain bangun pagi, beribadah tepat waktu, menjaga kebersihan, disiplin belajar, berolahraga, membantu orang tua, serta membiasakan sikap santun dan peduli terhadap lingkungan.
“Melalui penguatan gerakan nasional, penyesuaian kalender akademik, hingga pembinaan karakter di bulan Ramadan, Disdik Sumsel berharap satuan pendidikan tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga pusat pembentukan generasi yang berintegritas, sehat, dan berdaya saing,” pungkasnya.
Penulis : Hasan Basri
Editor : Jaks














