Pancasila dalam Kehidupan: Bukan Sekadar Nilai, tetapi Cara Saya Menjalani Kehidupan

- Redaksi

Sabtu, 22 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nama: Tya Marcheel

NIM   : PO7131226032

Prodi : STr Gizi & Dietetika

 

Pancasila dalam Kehidupan: Bukan Sekadar Nilai, tetapi Cara Saya Menjalani Kehidupan

 

Pancasila sering kali kita kenal sebagai dasar negara yang terdiri atas lima sila. Namun, bagi saya, Pancasila bukan hanya sesuatu yang dihafalkan ketika berada di bangku sekolah. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya justru dapat ditemukan dalam berbagai hal sederhana yang kita lakukan setiap hari. Cara kita beribadah, menghargai perbedaan, memperlakukan orang lain, bekerja sama, mengambil keputusan, hingga membantu sesama merupakan bagian dari bagaimana Pancasila diwujudkan dalam kehidupan.

 

Semakin banyak pengalaman yang saya jalani, terutama di lingkungan keluarga dan organisasi, semakin saya menyadari bahwa Pancasila bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan saya. Pancasila merupakan nilai yang tumbuh melalui kebiasaan dan tindakan sehari-hari.

 

Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa pertama kali saya rasakan melalui lingkungan keluarga. Keluarga saya sangat menjunjung tinggi agama, terutama dalam hal ibadah. Ibu saya selalu mengingatkan kami untuk melaksanakan ibadah sehingga sejak kecil saya terbiasa menjadikan ibadah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Kebiasaan tersebut mengajarkan saya bahwa hubungan dengan Tuhan bukan hanya tentang menjalankan kewajiban, tetapi juga menjadi landasan dalam membentuk sikap dan perilaku.

 

Di sisi lain, saya memiliki teman dekat yang berbeda agama. Perbedaan keyakinan tersebut tidak pernah menjadi penghalang bagi kami untuk berteman. Kami saling menghormati dan tidak mencampuri keyakinan masing-masing. Dari pengalaman tersebut, saya memahami bahwa menjalankan agama dengan baik juga berarti mampu menghargai orang lain yang memiliki keyakinan berbeda.

 

Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab saya pelajari dari hal yang sangat dekat dengan kehidupan saya, yaitu keluarga. Orang tua saya selalu mengajarkan untuk bersikap adil dan tidak membeda-bedakan antara kakak dan adik. Dari situlah saya belajar bahwa setiap orang memiliki hak untuk diperlakukan dengan baik dan adil.

 

Nilai tersebut kemudian saya terapkan ketika dipercaya menjadi ketua teater dalam kegiatan ekstrakurikuler. Sebagai ketua, saya berusaha memberikan hak dan kewajiban kepada seluruh anggota dengan porsi yang sama. Saya tidak pernah membedakan anggota berdasarkan kedekatan, bahkan ketika ada teman dekat saya di dalam kelompok tersebut. Bagi saya, ketika sudah berada dalam satu organisasi, semua anggota memiliki kedudukan yang sama. Menjadi seorang pemimpin bukan berarti memiliki hak untuk mengutamakan orang yang dekat dengan kita, melainkan belajar memperlakukan semua orang secara adil.

 

Pengalaman yang paling banyak mengajarkan saya tentang Persatuan Indonesia datang dari organisasi. Ketika bergabung dalam Ikatan Bujang Gadis SMAN 11 Palembang, saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dan bertumbuh bersama teman-teman angkatan 10. Kebersamaan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Kami selalu berusaha kompak dalam menjalankan program kerja dan bersama-sama membawa nama baik organisasi.

 

Tentu saja, dalam sebuah kelompok tidak selamanya semua orang memiliki pendapat yang sama. Kami juga pernah mengalami perbedaan pendapat, tetapi kami belajar untuk tidak mempertahankan ego masing-masing. Kami memilih untuk menurunkan ego dan mengutamakan keberhasilan bersama.

 

Pengalaman berbeda saya rasakan ketika bergabung dalam Ikatan Duta Sekolah Kota Palembang Angkatan 25. Jarak yang berbeda-beda membuat kami tidak selalu dapat bertemu secara langsung. Namun, keadaan tersebut tidak membuat kami kehilangan rasa kebersamaan. Kami terus membangun komunikasi yang baik dan berusaha menjalankan tanggung jawab masing-masing hingga akhirnya dapat menyelesaikan program kerja dengan baik.

 

Dari kedua organisasi tersebut, saya belajar bahwa persatuan bukan berarti tidak memiliki perbedaan, melainkan mampu menyatukan perbedaan demi mencapai tujuan yang sama.

 

Nilai Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan saya rasakan ketika dipercaya menjadi ketua seksi bidang humas dalam sebuah organisasi. Posisi tersebut membuat saya memahami bahwa menjadi seorang pemimpin bukan berarti semua keputusan harus berasal dari diri sendiri. Saya justru belajar untuk mendengarkan dan menghargai pendapat anggota.

 

Pernah suatu ketika terdapat permasalahan mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan. Saya tidak langsung menentukan keputusan, tetapi mengumpulkan anggota dan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk menyampaikan pendapatnya satu per satu. Setelah semua pendapat didengarkan, kami bersama-sama mencari solusi yang paling tepat.

 

Bagi saya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa musyawarah bukan sekadar berdiskusi, tetapi tentang memberikan ruang kepada setiap orang untuk didengar dan mencari keputusan yang dapat diterima bersama.

 

Sementara itu, nilai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia saya terapkan melalui berbagai tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Saya berusaha menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, seperti bergantian menggunakan barang yang dipinjam agar tidak mengambil hak teman, menepati janji agar tidak membuang waktu orang lain, serta membayar uang patungan atau utang tepat waktu.

 

Saya juga berusaha menunjukkan kepedulian dengan membantu teman yang belum memahami materi pelajaran, menghibur teman yang sedang sakit atau mengalami kesulitan, dan berbagi makanan secara adil ketika makan bersama. Selain itu, saya belajar untuk menghargai hasil karya dan prestasi orang lain, tidak memotong pembicaraan ketika teman sedang menyampaikan pendapat, serta tidak memilih-milih teman berdasarkan suku, agama, maupun status sosial.

 

Bagi saya, keadilan tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Terkadang, memberikan hak orang lain dan memperlakukannya dengan layak sudah menjadi bentuk keadilan yang berarti.

 

Dari semua pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa Pancasila tidak akan memiliki arti jika hanya berhenti sebagai hafalan. Pancasila menjadi bermakna ketika nilai-nilainya hadir dalam tindakan kita, bahkan dalam hal-hal yang mungkin terlihat sederhana.

 

Ketika saya beribadah dan menghormati keyakinan orang lain, saya sedang mengamalkan sila pertama. Ketika saya berusaha berlaku adil kepada semua anggota, saya sedang menjalankan sila kedua. Ketika saya mengesampingkan ego demi kepentingan organisasi, saya belajar menerapkan sila ketiga. Ketika saya mendengarkan pendapat dan mencari solusi melalui musyawarah, saya menjalankan sila keempat. Ketika saya peduli, membantu, serta menghargai hak orang lain, saya sedang menerapkan sila kelima.

 

Pada akhirnya, bagi saya, mengamalkan Pancasila bukan tentang seberapa banyak kita mampu menghafalkan lima silanya, tetapi seberapa jauh kita mampu menjadikannya sebagai bagian dari diri kita. Pancasila mengajarkan saya bahwa menjadi manusia yang baik tidak hanya tentang apa yang kita yakini, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan orang lain.

 

Dari keluarga, pertemanan, sekolah, hingga organisasi, saya menemukan bahwa setiap pengalaman selalu memberikan kesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih toleran, adil, bertanggung jawab, dan mampu mengutamakan kepentingan bersama. Saya percaya bahwa ketika nilai-nilai tersebut dimulai dari diri sendiri dan dilakukan secara konsisten, Pancasila tidak lagi hanya menjadi dasar negara, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan kita sebagai generasi penerus bangsa.

Berita Terkait

Langkahku untuk Menjadi Generasi Pancasila
Ceritaku dalam Lima Sila Pancasila
Wamen Kesehatan WamenDagri kunjungi RSUD Bari Palembang Pastikan Layanan Terbaik 
Belajar Menjadi Pribadi yang Lebih Baik melalui Nilai Pancasila
Update Perampokan Sadis Terhadap Petani Kopi Di Pagar Alam, Polres Tetapkan Tiga Pelaku DPO
Pancasila, Cermin Kehidupanku
Honda Sumsel Bersama Kodam II Sriwijaya Gaungkan Budaya #Cari_Aman
Bertumbuh Bersama Pancasila

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 00:31 WIB

Langkahku untuk Menjadi Generasi Pancasila

Selasa, 25 Agustus 2026 - 00:28 WIB

Ceritaku dalam Lima Sila Pancasila

Selasa, 25 Agustus 2026 - 00:28 WIB

Wamen Kesehatan WamenDagri kunjungi RSUD Bari Palembang Pastikan Layanan Terbaik 

Selasa, 25 Agustus 2026 - 00:26 WIB

Belajar Menjadi Pribadi yang Lebih Baik melalui Nilai Pancasila

Selasa, 25 Agustus 2026 - 00:25 WIB

Update Perampokan Sadis Terhadap Petani Kopi Di Pagar Alam, Polres Tetapkan Tiga Pelaku DPO

Berita Terbaru

Sumsel

Langkahku untuk Menjadi Generasi Pancasila

Selasa, 25 Agu 2026 - 00:31 WIB

Sumsel

Ceritaku dalam Lima Sila Pancasila

Selasa, 25 Agu 2026 - 00:28 WIB