PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID – Menjelang musim kemarau 2026, pemerintah pusat memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan melibatkan sektor swasta secara lebih aktif, khususnya di wilayah rawan seperti Sumatera Selatan.
Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat menegaskan, korporasi yang beroperasi di daerah tersebut tidak hanya bertanggung jawab atas area konsesi mereka, tetapi juga diharapkan turut memantau wilayah sekitar yang berpotensi terjadi kebakaran.
“Korporasi jangan hanya menjaga wilayahnya, tapi juga membantu memantau daerah sekitar, termasuk wilayah yang bukan konsesi mereka,” ujarnya saat diwawancarai di Palembang, Rabu.
Ia menjelaskan, langkah mitigasi harus dilakukan sejak dini, terutama di kawasan gambut yang sangat rentan terbakar saat musim kering. Salah satu upaya yang didorong adalah pembangunan embung serta pengelolaan tata air untuk menjaga kelembapan lahan.
“Gambut itu tidak bisa dipadamkan secara biasa, harus dijaga tetap basah. Karena itu, keberadaan embung dan pengelolaan air menjadi sangat penting,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah terus memperkuat sistem pemantauan kualitas udara melalui stasiun tetap dan perangkat bergerak. Jika terjadi penurunan kualitas udara atau terdeteksi potensi kebakaran, koordinasi lintas kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah akan segera dilakukan.
Kementerian LH juga memperketat pengawasan terhadap perusahaan yang berpotensi melakukan pelanggaran, termasuk praktik pembakaran lahan. Ia menegaskan, pelaku pembakaran untuk kepentingan bisnis akan dikenakan sanksi tegas.
“Kalau terbukti membakar untuk bisnis, itu tidak bisa ditoleransi. Konsekuensi hukumnya berat,” tegasnya.
Sebagai tambahan, pemerintah mendorong perusahaan untuk melakukan audit lingkungan secara mandiri guna memetakan potensi risiko bencana, termasuk karhutla.
Menurutnya, kesiapsiagaan sejak awal menjadi kunci utama dalam menekan risiko kebakaran, terlebih dengan adanya potensi musim kemarau panjang akibat fenomena iklim global.
“Kalau kita sudah bersiap dari sekarang, insyaallah risiko bisa ditekan,” pungkasnya.
Editor : Jaks

















