Nama : Ezar Ghanivy Wijaya
Prodi : D3 Sanitasi
Menjadi Manusia Pancasila dalam Keseharian
Pancasila bukan sekadar teks sejarah yang dihafal saat upacara. Bagi saya, Pancasila merupakan pedoman yang menjadi kompas dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kelima silanya mengajarkan nilai-nilai penting yang membentuk karakter, sikap, dan identitas saya sebagai warga negara Indonesia. Karena itu, Pancasila seharusnya tidak hanya dipahami secara teori, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata.
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, saya wujudkan dengan selalu bersyukur atas kehidupan yang diberikan Tuhan serta menjalankan keyakinan dengan penuh tanggung jawab. Selain itu, saya berusaha menghormati perbedaan agama dan keyakinan yang ada di sekitar saya. Menurut saya, keimanan yang baik tidak hanya terlihat dari ibadah, tetapi juga dari sikap jujur, bertanggung jawab, dan memiliki integritas dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai tersebut kemudian saya terapkan melalui sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Saya berusaha memperlakukan setiap orang dengan sopan, adil, dan penuh empati tanpa membeda-bedakan berdasarkan latar belakang sosial, ekonomi, maupun perbedaan lainnya. Saya juga berusaha membantu orang yang sedang mengalami kesulitan sesuai dengan kemampuan saya. Dengan demikian, kepedulian terhadap sesama dapat menjadi kebiasaan yang sederhana, tetapi bermakna.
Sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki banyak suku, budaya, bahasa, dan kebiasaan, saya juga berusaha menerapkan sila ketiga, Persatuan. Indonesia. Di era digital seperti sekarang, menjaga persatuan dapat dimulai dengan menyaring informasi sebelum mempercayai atau membagikannya. Saya berusaha tidak ikut menyebarkan berita bohong atau hoaks yang dapat menimbulkan konflik dan perpecahan. Selain itu, saya merasa bangga menggunakan dan mendukung produk lokal sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap masyarakat serta perekonomian Indonesia.
Dalam kehidupan bersama, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Oleh karena itu, saya menerapkan sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dengan mengutamakan musyawarah ketika menghadapi perbedaan. Dalam kegiatan kelompok, saya berusaha mendengarkan pendapat orang lain dengan terbuka, menyampaikan pendapat dengan sopan, dan tidak memaksakan kehendak. Jika telah tercapai keputusan bersama, saya berusaha menghargainya dan ikut bertanggung jawab untuk menjalankannya.
Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, saya terapkan melalui kebiasaan hidup sederhana, hemat, dan tidak boros. Saya juga berusaha menghargai hak orang lain serta menghormati karya yang mereka hasilkan. Bagi saya, keadilan dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti bersikap jujur, tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kita, dan memberikan kesempatan yang sama kepada orang lain. Saya percaya bahwa perubahan yang besar dapat dimulai dari kedisiplinan dan tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Pada akhirnya, menjadi manusia Pancasila bukanlah sesuatu yang cukup dilakukan hanya ketika mengikuti upacara atau mempelajari mata kuliah Pancasila. Nilai-nilai tersebut harus tercermin dalam cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak setiap hari. Melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten, saya berusaha menghidupkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Saya bangga menjadi bagian dari generasi yang tidak hanya mampu menghafal Pancasila, tetapi juga berusaha mengamalkannya demi terciptanya kehidupan yang lebih baik dan kemajuan bangsa Indonesia.










